Penyebab Banjir di Sumatera Menurut BMKG

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Banjir bandang yang melanda Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh pada akhir November 2025 masih menjadi perhatian masyarakat Indonesia. Puluhan desa/kota terdampak bencana ini, bahkan jumlah korban dilaporkan terus bertambah.
Hingga Minggu (30/11) malam, BNPB menyebut jumlah korban jiwa akibat banjir dan tanah longsor mencapai 442 orang. Sumatera Utara menjadi wilayah yang paling terdampak dengan total korban sebanyak 217 dan 209 orang dilaporkan hilang.
Di Sumatera Barat, total korban sebanyak 129 jiwa dan 118 orang hilang. Sedangkan total korban di Aceh sebanyak 96 jiwa dan 75 orang hilang. Sebenarnya, apa penyebab banjir di Sumatera hingga dampaknya separah ini?
Penyebab Banjir di Sumatera
BMKG dalam laman resminya menyebutkan banjir di Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh dipicu oleh Bibit Siklon 95B yang naik level menjadi Siklon Tropis Senyar. Fenomena ini terbentuk di atas Selat Malaka yang memang dekat dengan Pulau Sumatera.
Dikutip dari laman Times of India, Siklon Tropis Senyar adalah sistem badai bertekanan kuat yang berputar kencang. Badai dahsyat ini hanya terbentuk di lautan tropis yang hangat.
Direktur Meteorologi Publik BMKG Andri Ramdhani menjelaskan bahwa sebenarnya fenomena Siklon Tropis Senyar adalah anomali di Indonesia. Secara teori, wilayah yang dekat dengan garis ekuator seperti Indonesia kurang mendukung terbentuknya siklon tropis (badai bertekanan rendah), apalagi yang bertekanan kuat seperti Siklon Tropis Senyar.
“Fenomena seperti Siklon Tropis Senyar tergolong tidak umum di wilayah perairan Selat Malaka, apalagi jika sampai melintasi daratan,” kata Andri dikutip dari situs BMKG.
Meski begitu, dalam lima tahun terakhir, sebenarnya cukup banyak siklon tropis yang bergerak mendekati wilayah Indonesia. Badai tersebut terbukti memberikan dampak signifikan, seperti hujan sedang-lebat dan angin kencang.
Siklon Tropis Senyar bukan satu-satunya penyebab banjir di Pulau Sumatera. Menurut Presiden Prabowo, bencana ini turut dipengaruhi oleh pemanasan global dan kerusakan lingkungan.
"Saat ini dunia menghadapi tantangan iklim, pemanasan global, kerusakan lingkungan, ini jadi tantangan harus kita hadapi," kata Prabowo saat memberikan sambutan di puncak Hari Guru Nasional 2025 di Indonesia Arena, Jakarta Pusat, Jumat (28/11), seperti yang ditulis kumparanNEWS.
Prabowo juga menyinggung maraknya pembabatan hutan (deforestasi) yang akhirnya memicu banjir. Perlu diketahui, hutan memang berperan besar dalam menjaga siklus hidrologi atau pergerakan air yang berkelanjutan antara bumi dan atmosfer.
Daun dan akar pohon bertugas menyerap hujan dan mengurangi limpasan air. Jika hutannya gundul, penyerapan air hujan akan berkurang dan limpasan air pun meningkat, terutama saat hujan lebat. Akibatnya, limpasan air bergerak menuju ke hilir dan menyebabkan banjir.
Tanpa pohon, tingkat erosi juga akan meningkat sebab akar yang mengikat struktur tanah tidak ada. Dampaknya, tanah jadi semakin mudah longsor.
Oleh karena itu, penting untuk menjaga keseimbangan ekosistem alami hutan demi mencegah bencana alam. Hal ini pula yang ditekankan oleh Presiden Prabowo.
"Menjaga hutan-hutan kita, benar-benar mencegah pembabatan pohon, perusakan hutan, sungai-sungai harus kita jaga agar bersih sehingga dapat menyalurkan air yang bisa tiba-tiba datang," ucap Prabowo.
Baca Juga: Segala Upaya untuk Korban Bencana di Sumatera dan Aceh
(DEL)
