Peran Perawat dalam Pemberian Obat dan Mendampingi Pasien

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam dunia medis, peran perawat seringkali dianggap sebagai pendukung dari dokter. Namun nyatanya, perawat memiliki peran yang sangat kritis dalam proses penyembuhan pasien, terutama dalam pemberian obat.
Seorang perawat tidak hanya bertugas untuk memberikan obat sesuai jadwal, tapi juga memastikan keamanan dan keefektifan obat tersebut bagi pasien. Selain itu, mereka juga harus membuat keputusan penting yang dapat mempengaruhi hasil perawatan pasien.
Pada intinya, peran perawat di rumah sakit lebih dari sekadar memberikan obat. Mereka juga bertugas memberikan edukasi kepada pasien hingga mengambil keputusan klinis.
Peran Perawat dalam Pemberian Obat
Menurut Hanna Pirinen dkk. dalam jurnal "Registered Nurses’ Experiences with the Medication Administration Process" tahun 2015, perawat memegang peranan penting dalam memastikan keselamatan pasien saat proses pemberian obat. Dengan kompetensi dan pengetahuan yang dimiliki, perawat harus dapat memahami reaksi obat, interaksi antar obat, dan dosis yang tepat untuk pasien.
Perawat juga bertanggung jawab untuk melakukan verifikasi dan validasi obat sebelum diberikan kepada pasien, termasuk mengecek identitas pasien, jenis obat, dosis, cara pemberian, dan waktu pemberian obat.
Tanggung jawab ini telah diajarkan sejak perawat berada di bangku pendidikan. Dari studi "Medication Safety Competence of Undergraduate Nursing Students" yang dilakukan oleh Lori A Fusco dkk. pada tahun 2021, diketahui bahwa pendidikan dan pelatihan kompetensi dalam pemberian obat bagi mahasiswa keperawatan sangat menentukan kualitas pelayanannya di masa depan.
Kompetensi ini tidak hanya meliputi pengetahuan teoretis, tapi juga keterampilan praktis dalam pengelolaan obat. Perawat yang terdidik dan terlatih dengan baik akan lebih efektif dalam mengidentifikasi dan mencegah kesalahan pemberian obat yang dapat berdampak fatal bagi pasien.
Rinat Avraham dkk. dalam penelitiannya pada tahun 2021 berjudul The influence of simulated medication administration learning on the clinical performance of nursing students: A comparative quasi-experimental study juga menunjukkan pentingnya simulasi dalam pendidikan keperawatan.
Simulasi memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk berlatih keterampilan pemberian obat dalam lingkungan yang terkontrol dan aman. Hal ini tidak hanya meningkatkan kompetensi teknis, tapi juga kepercayaan diri mahasiswa dalam melakukan tugas-tugas klinis di dunia nyata.
Peran Perawat di Akhir Hayat Pasien
Perawat yang menemani pasien di akhir hayatnya memainkan peran yang jauh lebih dalam daripada sekedar administrasi obat. Mereka menjadi pendamping, penjaga, dan terkadang, penghubung terakhir antara pasien dan dunia luar. Dari berbagai penelitian, kita bisa memahami bagaimana kompleks dan mendalamnya peran perawat dalam fase kritis ini.
Di momen-momen terakhir, perawat berperan sebagai pelindung keselamatan pasien, sebagaimana dijelaskan oleh Hanna Pirinen dan rekan-rekannya dalam Registered Nurses’ Experiences with the Medication Administration Process (2015).
Keselamatan pasien, dalam konteks ini, tidak hanya terbatas pada pemberian obat yang tepat dan aman tetapi juga mencakup keamanan emosional. Perawat menjadi pendengar yang baik, memberikan kenyamanan dan dukungan melalui kata-kata dan kehadiran mereka.
Lori A Fusco dan koleganya dalam Medication Safety Competence of Undergraduate Nursing Students menekankan pada kompetensi administrasi obat bagi mahasiswa keperawatan. Kompetensi ini bukan hanya tentang kemampuan teknis dalam mengelola obat, tapi juga memahami dan menghormati kebutuhan setiap pasien yang unik.
Perawat diharapkan dapat menyediakan perawatan yang holistik, memerhatikan aspek fisik, emosional, dan spiritual pasien. Selain itu, menjadi sosok yang memberikan penghiburan dan kedamaian bagi mereka yang sedang dalam perjalanan akhir kehidupan.
Langkah-Langkah Administrasi Obat oleh Perawat
Berikut ini langkah-langkah administrasi obat oleh perawat yang komprehensif dan berfokus pada keselamatan pasien.
Pemeriksaan Awal: Sebelum melakukan pemberian obat, perawat perlu melakukan verifikasi terhadap resep obat, memastikan keakuratan nama pasien, jenis obat, dosis, waktu pemberian, dan rute administrasi. Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengidentifikasi potensi kesalahan dan memastikan kepatuhan terhadap rencana perawatan.
Pengetahuan tentang Obat: Perawat harus memiliki pemahaman yang mendalam tentang obat yang akan diberikan, termasuk indikasi, dosis, efek samping, kontraindikasi, dan interaksi dengan obat lain. Pengetahuan ini penting untuk mengidentifikasi potensi risiko dan mengoptimalkan keamanan pasien.
Komunikasi dengan Pasien: Mengedukasi pasien tentang obat yang akan mereka terima, termasuk manfaat, potensi efek samping, dan cara penggunaan yang benar. Keterlibatan pasien dalam proses ini ditekankan untuk meningkatkan pemahaman dan kepatuhan terhadap regimen pengobatan.
Pengambilan Keputusan Klinis: Dalam situasi tertentu, perawat harus menggunakan penilaian klinis mereka untuk menyesuaikan atau merekomendasikan penyesuaian terhadap pemberian obat, berdasarkan kondisi pasien saat itu. Pengambilan keputusan ini didasarkan pada observasi klinis, pengetahuan medis, dan, bila perlu, konsultasi dengan dokter atau profesional kesehatan lainnya.
Administrasi Obat: Melaksanakan pemberian obat dengan teknik yang benar sesuai dengan rute yang ditentukan (oral, intravena, subkutan, dll). Memastikan bahwa pasien menerima obat tepat waktu dan dalam dosis yang tepat adalah kunci untuk efektivitas terapi.
Monitoring dan Evaluasi: Setelah obat diberikan, perawat memonitor respons pasien terhadap obat, termasuk efektivitas dan potensi efek samping. Monitoring ini penting untuk menyesuaikan perawatan jika diperlukan dan untuk memastikan keselamatan pasien.
Dokumentasi: Mencatat semua informasi relevan tentang pemberian obat, termasuk obat yang diberikan, dosis, waktu pemberian, dan respons pasien. Dokumentasi yang akurat dan lengkap diperlukan untuk komunikasi yang efektif antar anggota tim perawatan kesehatan dan untuk audit dan review klinis di masa mendatang.
Refleksi dan Pembelajaran: Perawat diharapkan untuk merefleksikan praktik mereka dan belajar dari pengalaman pemberian obat, termasuk mengevaluasi kesuksesan dan area untuk perbaikan. Pembelajaran berkelanjutan melalui pendidikan formal atau simulasi dapat membantu perawat memperbarui keterampilan mereka dan mengadopsi praktik terbaik.
Baca Juga: Tugas Perawat Di Rumah Sakit dan Cara Menjadi Perawat
(DEL)
