Perayaan Soma Ribek beserta Tradisinya bagi Umat Hindu di Bali

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Seluruh umat Hindu yang ada di Indonesia, khususnya di Bali, akan memperingati Hari Soma Ribek pada Senin (22/5). Perayaan ini dipercaya sebagai hari Bhatari Sri bagi masyarakat yang tidak memiliki jineng (lumbung padi).
Soma Ribek merupakan rangkaian dari Hari Saraswati yang diperingati dua hari setelah hari Banyu Pinaruh. Peringatannya datang setiap 35 hari sekali (bulan Bali), tepatnya pada Soma Pon wuku Sinta.
Mengutip situs Kemenag, secara bahasa, Soma Ribek berarti Senin Penuh Anugerah. Umat Hindu memaknainya sebagai hari yang penuh karunia sumber urip (Amertha).
Perayaan Soma Ribek di Bali biasanya dipenuhi dengan sejumlah adat dan tradisi. Bagaimana pelaksanaannya? Simaklah penjelasan lengkapnya dalam artikel berikut ini.
Perayaan Soma Ribek
Soma Ribek diperingati sehari setelah Hari Saraswati dan Hari Banyu Pinaruh. Setelah manusia mendapatkan ilmu pengetahuan dan penyejukkan dari dua perayaan tersebut, tibalah saatnya rahina Soma Ribek yang dimaknai sebagai hari penuh karunia.
Makna Soma Ribek erat kaitannya dengan dewa-dewa di agama Hindu. Hari Soma berkaitan dengan Sang Hyang Wisnu dan perwujudannya sebagai udaka (air) menjadi amertha pawitra.
Sementara Hari Pon dengan dewa Sang Hyang Mahadewa, sebagai perwujudan apah (marutha) menjadi amertha kundalini. Wuku Sinta dengan dewa Sang Hyang Yama sebagai perwujudan dari agni (api) menjadi amertha kundalini.
Perayaan rahina Soma Ribek di Bali selalu dihiasi dengan berbagai adat dan tradisi. Salah satunya yaitu prosesi Widhi Widhana, yakni selamatan terhadap beras di pulu dan padi di lumbung.
Mengutip jurnal berjudul Cili dalam Upacara Dewa Yadnya di Desa Pejaten, Kediri, Tabanan susunan Ida Ayu Tary, prosesi Widhi Widhana dilangsungkan untuk mengadakan pemujaan terhadap Dewi Sri sebagai Dewi Kesuburan. Perayaan ini dianggap sebagai hari pangan bagi umat Hindu di Bali.
Dalam lontar Sundarigama disebutkan bahwa selamatan pada Hari Soma Ribek kepada Bhatari Sri ditujukan agar hasil panen berikutnya lebih baik. Masyarakat percaya pada hari yang spesial ini tidak boleh menjual beras. Mereka yang melanggar dipercaya akan terkena kutukan dari Bhatari Sri.
Masyarakat yang tidak memiliki jineng (lumbung padi) akan mengadakan upacara untuk beras yang dimilikinya di rumah. Sesajen yang disiapkan berupa banten Soma Ribek yang tertata dalam sebuah ceper.
Ceper tersebut diisi dengan bantal, tape, tebu, raka-raka, dan canang. Selain itu, ada juga tangkih yang terdiri dari jaja kukus putih kuning, rerasmen, dan tipat sari.
Umat Hindu di Bali percaya bahwa Soma Ribek adalah momen yang tepat untuk memohon kerahayuan dan rejeki yang bersumber pada beras sebagai bahan pangan agar hemat dan mesari.
Selain Soma Ribek, ada juga perayaan lainnya yang diadakan 35 hari sekali dalam tradisi Bali, di antaranya Ngarkasih (anggara kliwon), Buda Kliwon, Buda Cemeng (buda wage), Wraspati Kliwon, Sukra Kliwon, dan Tumpek (saniscara kliwon).
Baca juga: Memaknai Hari Raya Saraswati, Hari Turunnya Ilmu Pengetahuan bagi Umat Hindu
(MSD)
Frequently Asked Question Section
Kapan Hari Soma Ribek diperingati tahun 2023?

Kapan Hari Soma Ribek diperingati tahun 2023?
Senin, 22 Mei 2023.
Kapan perayaan Hari Soma Ribek digelar?

Kapan perayaan Hari Soma Ribek digelar?
Soma Ribek merupakan rangkaian dari Hari Saraswati yang diperingati dua hari setelah hari Banyu Pinaruh.
Apa makna Soma Ribek?

Apa makna Soma Ribek?
Secara bahasa, Soma Ribek berarti Senin Penuh Anugerah.
