Peribahasa Njanur Gunung Tegese Apa? Ini Penjelasannya dalam Bahasa Jawa

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Peribahasa menduduki peran yang cukup penting dalam bahasa Jawa. Peribahasa seringkali dimanfaatkan oleh pengarang dalam berbagai judul cerita, rekaan, humor, sindiran, ironi, dan lain sebagainya.
Ada keunikan yang khas dalam peribahasa Jawa. Keunikan tersebut dimiliki oleh setiap jenis peribahasanya, mulai dari pribasan, bebasan, saloka, sanepa, hingga pepindhan.
Contoh peribahasa Jawa yang biasa digunakan dalam kalimat yaitu Njanur Gunung. Mengutip buku Baboning Pepak Bahasa Jawa karya Budi Anwari (2020), Njanur Gunung tegese kadinaren atau ora biasane.
Maksudnya, peribahasa tersebut menunjukkan sesuatu yang tidak biasa atau jarang terjadi. Seperti apa maknanya? Untuk mengetahuinya, simaklah penjelasan dalam artikel berikut ini.
Makna Peribahasa Njanur Gunung
Secara harfiah, njanur gunung artinya daun kelapa muda yang berasal dari pohon aren dan tumbuh di daerah pegunungan. Hal ini tidak biasa, sebab umumnya pohon aren tumbuh di daerah pantai.
Itu mengapa, njanur gunung memiliki makna sesuatu yang tidak biasa atau jarang terjadi. Dalam bahasa Indonesia, peribahasa ini memiliki arti serupa dengan kata “tumben”.
Peribahasa njanur gunung bisa digunakan dalam percakapan sehari-hari. Contoh kalimatnya yaitu: “Koe njanur gunung gelem madang ning ngumah.”
Selain njanur gunung, ada juga peribahasa Jawa lain yang bisa digunakan dalam percakapan. Dirangkum dari buku Peribahasa dalam Bahasa Jawa susunan Adi Triyono, dkk., berikut contoh lengkapnya:
Kaduk wani kurang deduga artinya kelebihan berani kurang pertimbangan.
Gedhana gedhini artinya dua bersaudara laki-laki dan perempuan.
Karunya budi artinya belas kasih terhadap sesama.
Sahasa ulon artinya suara yang dipaksakan atau suara yang keras.
Sabda laksana artinya ucapan yang dilaksanakan.
Sabda pandhita artinya ucapan pendeta.
Maling kenya artinya pencuri wanita.
Maling retna artinya pencuri permata.
Maling sadu artinya pencuri yang berpura-pura seperti pendeta.
Kabegjan kabrayan artinya keberuntungan banyak saudara.
Begja kemayangan artinya sangat beruntung.
Sungsang buwana balik artinya terbalik seperti dunia terbalik.
Kebat kliwat artinya cepat tetapi terlewat atau tidak tepat.
Bakul timpuh artinya penjual bertimpuh. lbarat orang membuat barang, kemudian dijual di rumah tidak di pasar.
Legan golek momongan artinya orang lajang mencari asuhan. Maksudnya, orang yang hidupnya enak mencari pekerjaan yang sulit-sulit.
Wong bodho dadi pangane wong pinter artinya orang bodoh menjadi makanan orang pandai. Maksudnya, orang yang bodoh mudah ditipu dan dikalahkan oleh orang pandai.
Ajining dhiri ana ing pucuking lathi artinya harganya diri ada di ujungnya bibir. Maksud dari peribahasa ini yaitu terhormat atau tidaknya seseorang bergantung kepada tutur kata orang itu sendiri.
Bebek diwuruki nglangi artinya itik diajari berenang. lbarat orang yang sudah pandai diajari.
Jero jodhone atau dalam jodohnya. Artinya terlalu lama atau sukar mendapatkan jodoh.
Eyang-eyung karepe artinya tidak tetap kemauannya.
Ngimbu cihna atau menyimpan bukti kejahatan. Ibarat orang menyimpan bukti kejahatan tidak melapor kepada yang berwenang.
(MSD)
Frequently Asked Question Section
Apa itu peribahasa Jawa?

Apa itu peribahasa Jawa?
Peribahasa Jawa adalah gabungan kata yang menyatakan makna khusus tentang cerminan latar belakang kebudayaan masyarakat Jawa.
Bagaimana penggunaan peribahasa Jawa?

Bagaimana penggunaan peribahasa Jawa?
Peribahasa seringkali dimanfaatkan oleh pengarang dalam berbagai judul cerita, rekaan, humor, sindiran, ironi, dan lain sebagainya.
Apa contoh peribahasa Jawa?

Apa contoh peribahasa Jawa?
Peribahasa Kebo Kaboten Sungu tegese rekasa merga kakehan anak. Artinya, kondisi ekonomi seseorang menjadi susah karena memiliki banyak anak.
