Profil Jean Henry Dunant, Sang Bapak Palang Merah

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Berdirinya Palang Merah Internasional tidak bisa lepas dari peran Jean Henry Dunant, pengusaha sekaligus aktivis sosial asal Swiss. Beliau menjadi sosok yang menginspirasi terbentuknya International Committee of the Red Cross alias ICRC pada 1863.
Mengutip buku Kumpulan Bulet Hari Bersejarah I oleh Ayathrohaedi, dkk (1994), Jean Henry Dunant telah mendorong lahirnya jiwa kepalangmerahan, yakni sikap yang mengutuk kebengisan sesama manusia dan menjunjung tinggi rasa kemanusiaan.
Salah satu ucapan Henry Dunant yang terkenal, yakni:
"Kita semua saudara, dan semua penderitaan wajib mendapat perawatan yang sama, dengan tanpa membedakan kawan ataupun lawan".
Hari ini, Sabtu (8/5), merupakan hari kelahiran Jean Henry Dunant sekaligus Hari Palang Merah Internasional. Untuk mengenang sosok dan jasa beliau, simak profil Jean Henry Dunant berikut ini.
Profil Jean Henry Dunant
Mengutip situs The Nobel Prize, Jean Henry Dunant lahir pada 8 Mei 1828 di Jenewa, Swiss. Beliau berasal dari keluarga kaya yang mengutamakan nilai-nilai kegiatan sosial. Sang ayah aktif membantu yatim piatu, sementara itu ibunya kerap membantu orang sakit dan kaum miskin.
Ketika menginjak usia 26 tahun, Dunant memasuki dunia bisnis dengan menjadi perwakilan dari Compagnie genevoise des colonies de Setif di Afrika Utara dan Sisilia.
Setelah itu, Dunant menjabat sebagai Presiden Perusahaan Keuangan dan Industri Mons-Gemila Mills di Aljazair. Dia berupaya mengeksploitasi sebidang tanah yang luas. Karena membutuhkan hak atas air, Dunant memutuskan untuk menyampaikan permohonannya langsung kepada Kaisar Napoleon III.
Ketika sampai di Kota Solferino, Italia Utara, hati Dunant tergerak oleh banyaknya tentara yang menjadi korban peperangan. Kala itu, Italia dan Perancis sedang berperang dengan Austria. Akhirnya, Dunant mengajak penduduk setempat untuk memberikan bantuan kepada para tentara.
Setelah kembali ke Swiss, Dunant buku berjudul "A Memory of Solferino" yang memuat kesengsaraan para tentara perang. Buku tersebut mendorong terbentuknya Gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah.
Pada 1863, beberapa penduduk Jenewa dan Dunant membentuk International Committee of the Red Cross atau ICRC, sebuah komite yang bertugas membantu para tentara yang cedera.
Pada 1864, konvensi Jenewa untuk Perbaikan Kondisi Tentara yang Terluka dan Sakit di Lapangan resmi diadopsi oleh 12 negara. Pada 1901, Dunant dianugerahi Penghargaan Nobel Perdamaian yang pertama.
Pada 1876, Dunant mengundurkan diri karena mengalami kebangkrutan. Masalah ini terjadi karena Dunant memusatkan perhatiannya kepada kegiatan kemanusiaan, bukan bisnisnya.
Setelah bangkrut dan melibatkan kerugian pada beberapa teman di Jenewa, Dunant tidak diterima lagi di kota tersebut. Beliau pun hidup berkekurangan layaknya seorang pengemis.
Selama dua puluh tahun Dunant hidup dalam kesendirian dan singgah di berbagai tempat. Suatu ketika, seorang guru desa bernama Wilhen Sonderegger menemukan Dunant di Hedien. Ia memberi tahu keberadaan Dunant pada dunia, namun tidak ada yang memperhatikan.
Dunant menghabiskan sisa hidupnya di rumah sakit karena penyakit yang dideritanya. Pada 1896, dunia menyadari keberadaan Dunant dan memberikan penghargaan kepadanya.
Pada 30 Oktober 1910, Dunant meninggal dunia di Heiden, Swiss. Tidak ada upacara pemakaman, pelayat, atau iring-iringan untuk beliau.
Semasa hidupnya, Dunant juga tidak menghabiskan uang hadiah yang diterimanya. Ia mewariskan beberapa warisan tersebut kepada mereka yang sudah merawatnya di rumah sakit di desa. Sisa hadiah juga diberikan kepada perusahaan filantropi di Norwegia dan Swiss.
(GTT)
