Konten dari Pengguna

Profil Ki Seno, Maestro Wayang Kulit yang Wafat di Usia 48 Tahun

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ki Seno Nugroho. Foto: Facebook/@Ki Seno Nugroho Unofficial
zoom-in-whitePerbesar
Ki Seno Nugroho. Foto: Facebook/@Ki Seno Nugroho Unofficial

Dalang kondang asal Yogyakarta, Ki Seno Nugroho, meninggal dunia pada Selasa (3/11). Sinden yang kerap tampil bersama Ki Seno, yakni Ayu Purwa Lestari mengabarkan kepada kumparan bahwa ia menerima kabar duka ini sekitar pukul 22.00 WIB.

Sinden lainnya, Oriza, mengungkap bahwa Ki Seno bertingkah laku seperti biasa sebelum kepergiannya. "Penyebab belum tahu. Di grup (WA) tadi siang masih gojekan (bercanda)," ucap Oriza.

Berpulangnya Ki Seno turut membuat jagat Twitter berduka. Pada Rabu (4/11) pagi, nama Ki Seno Nugroho menduduki puncak trending topic Indonesia. Banyak warganet yang menulis duka cita dan merasa kehilangan dengan sosok dalang karismatik ini.

Ki Seno memang dikenal sebagai dalang yang gencar mempromosikan wayang kulit kepada generasi muda. Terbukti dengan adanya fans Ki Seno yang menamai diri mereka PWKS (Penggemar Wayang Ki Seno) dan Sobat Ngebyar dengan misi “pantang pulang sebelum bubar.”

Ilustrasi wayang kulit. Foto: Wikipedia

Ki Seno Nugroho sendiri lahir di Yogyakarta pada 23 Agustus 1972. Beliau telah menggemari seni tradisional wayang sejak belia. Kala itu, ia terinspirasi oleh dalang legendaris Ki Manteb Soedharsono.

Saat berumur 10 tahun, Ki Seno mulai terjun ke dunia pewayangan. Menginjak usia 15 tahun, ia mengawali karier sebagai seorang dalang. Saat ini, beliau mempunyai kelompok karawitan sendiri yang diberi nama Wargo Laras dengan jumlah anggota kurang lebih 50 orang.

Salah satu hal yang menjadi ciri khas Ki Seno adalah perpaduan antara gagrak Surakarta dan gagrak Yogyakarta dalam pagelaran wayang kulitnya. Ia juga kerap melontarkan guyonan spontan dan cerdas.

Dalam memainkan wayang, Ki Seno tidak sepenuhnya menggunakan bahasa Jawa krama, melainkan mencampurkannya dengan bahasa sehari-hari, sehingga banyak kawula muda yang dapat memahami cerita. Beliau juga kerap mengaitkan cerita pewayangannya dengan peristiwa yang sedang viral dan terjadi dalam keseharian.

Berkat keahliannya, Ki Seno pernah diundang tampil di Belanda dan Belgia. Kini, Ki Seno Nugroho telah menutup mata untuk selamanya. Namun, karya-karya dan semangatnya untuk melestarikan kebudayaan tradisional akan selalu dikenang.

Selamat jalan, Ki Seno.

(ERA)