Woman
·
20 April 2021 10:33

Profil RA Kartini, Pejuang Kesetaraan Gender di Indonesia

Konten ini diproduksi oleh Berita Hari Ini
Profil RA Kartini, Pejuang Kesetaraan Gender di Indonesia (11319)
RA Kartini Foto: LPMP Riau Kemdikbud
Setiap tanggal 21 April, masyarakat Indonesia akan memperingati Hari Kartini. Ini adalah bentuk penghormatan untuk RA Kartini, pahlawan nasional yang berjasa bagi Tanah Air. Tahun ini, Hari Kartini jatuh pada Rabu (21/4).
ADVERTISEMENT
Sosok RA Kartini tidak bisa dipisahkan dari usaha kerasnya memperjuangkan kesetaraan gender. Beliau telah mendedikasikan hidupnya untuk melawan diskriminasi terhadap perempuan dan memajukan pemikiran wanita pribumi.
RA Kartini juga berhasil mengubah pola pikir masyarakat Belanda terhadap wanita pribumi kala itu. Beliau juga menjadi inspirasi bagi beberapa tokoh nasional, salah satunya adalah W. R. Soepartman yang merilis lagu "Ibu Kita Kartini".
Untuk mengenang sosok dan jasanya terhadap kaum perempuan di Indonesia, mari simak profil RA Kartini berikut ini.

Profil RA Kartini

Profil RA Kartini, Pejuang Kesetaraan Gender di Indonesia (11320)
RA Kartini dan Raden Adipati Joyodiningrat Foto: LPMP Riau Kemdikbud
Raden Adjeng Kartini merupakan seorang keturunan bangsawan yang lahir pada 21 April 1879 di Jepara, Jawa Tengah. Mengutip situs resmi Kementerian Pertanian, ia adalah putri dari seorang Bupati Jepara, Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, dan M.A. Ngasirah yang merupakan seorang guru agama di sekolah.
ADVERTISEMENT
Sebagai seorang priyayi, Kartini berhak mendapat kesempatan untuk menempuh pendidikan. Beliau akhirnya bersekolah di Europese Lagere School alias ELS. Di tempat tersebut, ia belajar bahasa Belanda.
Ketika berusia 12 tahun, sang ayah melarang Kartini untuk melanjutkan studinya. Sebab, sesuai dengan kebiasaan kala itu, perempuan yang berusia 12 tahun harus berdiam di rumah dan menunggu dipingit.
Selama tinggal di rumah, Kartini kecil mulai bertukar surat dengan teman korespondensi yang kebanyakan berasal dari Belanda. Salah satu temannya adalah Rosa Abendanon yang selalu memberi dukungan penuh kepada Kartini.
Melalui Rosa, Kartini mulai sering membaca buku, koran, dan majalah Eropa. Bacaan tersebut membangkitkan semangat api dalam diri Kartini untuk memajukan derajat wanita pribumi.
Sebelum Kartini menginjak usia 20 tahun, ia sudah membaca berbagai buku seperti De Stille Kraacht tulisan Louis Coperus, Roman Feminis karangan Nyonya Goekoop de Jong Van Beek, hingga Surat Cinta karya Multatuli.
ADVERTISEMENT
Pada 12 November 1903, Kartini dipaksa menikah dengan seorang Bupati Rembang yang bernama K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat. Beruntung, sang suami mendukung cita-cita Kartini. Beliau diperbolehkan mendirikan sekolah wanita di Kabupaten Rembang.
Pada 13 September 1904, beliau melahirkan seorang anak yang bernama Soesalit Djojoadhiningrat. Namun beberapa hari kemudian, ia menghembuskan napas terakhirnya di usia 25 tahun.
Kepergian Kartini tidak mengakhiri perjuangan beliau. Setelah dirinya tiada, salah satu temannya, Mr. J.H. Abendanon mengumpulkan surat yang pernah dikirimkan Kartini kepada teman-temannya di Eropa.
Surat itu kemudian dibukukan dan diberikan nama "Door Duisternis tot Licht" yang artinya "Dari Kegelapan Menuju Cahaya". Pada 1922, Balai Pustaka menerjemahkan buku tersebut dengan judul "Habis Gelap Terbitlah Terang".
ADVERTISEMENT
Pada 2 Mei 1964, Presiden Soekarno menerbitkan instruksi berupa Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 108 Tahun 1964 yang memuat penetapan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional dan penetapan Hari Kartini yang jatuh setiap 21 April.
(GTT)