Konten dari Pengguna

Profil Sapardi Djoko Damono, Sastrawan Legendaris Indonesia

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sapardi Djoko Damono. Foto: Tio Ridwan/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Sapardi Djoko Damono. Foto: Tio Ridwan/kumparan

Sapardi Djoko Damono yang dikenal sebagai sastrawan Indonesia mengembuskan napas terakhirnya pada Minggu (19/7) sekitar pukul 09.17 WIB. Sapardi meninggal di RS Eka Hospital, BSD, Tangerang di usia ke-80 tahun.

Dilansir dari kumparanHITS, jenazah Sapardi Djoko Damono akan disemayamkan di rumah duka yang terletak di Kompleks Dosen UI Ciputra. Rencananya jenazah Sapardi akan dimakamkan sore ini usai adzan Ashar di wilayah Bogor.

Jumlah pelayat saat pemakaman hanya dibatasi sebanyak 15 orang. Hal ini dilakukan guna menerapkan protokol kesehatan dari pemerintah dan juga persyaratan dari pihak pemakaman.

Profil Sapardi Djoko Damono

Sapardi Djoko Damono lahir di Surakarta, Jawa Tengah pada tanggal 20 Maret 1940. Ia merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Ia juga dikenal dengan sebutan SDD.

Saat masih belia, Sapardi sudah memiliki hobi menulis. Bahkan, semasa duduk di bangku SMA, tulisan-tulisannya sudah sering dikirimkan ke majalah-majalah untuk diterbitkan.

Kegemarannya dalam menulis semakin berkembang saat ia menimba ilmu di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Saat itu ia adalah mahasiswa jurusan Bahasa Inggris tahun 1964.

Sapardi juga pernah menempuh pendidikan non gelar di University of Hawaii pada tahun 1970 hingga 1971. Pada 1973, Sapardi merantau ke Jakarta untuk menjadi Direktur Pelaksana Yayasan Indonesia yang menerbitkan majalah sastra Horison.

Sapardi Djoko Damono. Foto: Prabarini Kartika/kumparan

Dari sana, kariernya semakin berkempang pesat. Ia juga menjadi dosen di Fakultas Sastra Universitas Indonesia pada 1974. Ia bahkan sempat menjabat sebagai Dekan di Fakultas Ilmu Budaya UI periode 1995-1999 dan menjadi guru besar.

Saat menjabat sebagai Dekan dan guru besar di UI, ia juga merupakan redaktur di sejumlah majalah. Mulai dari Horison, Basis, Pembinaan Bahasa Indonesia, Majalah Ilmu-Ilmu Sastra Indonesia, hingga Country Editor di majalah Tenggara Kuala Lumpur, Malaysia.

Selain tulisan, Sapardi juga menghasilkan karya dalam bentuk musikalisasi puisi. Ia memulai karya ini pada tahun 1987 saat mahasiswanya membantu program Pusat Bahasa sebagai upaya mengapresiasi sastra kepada siswa SLTA.

Di saat itulah, karya musikalisasi puisinya yang berjudul “Aku Ingin” dan “Hujan Bulan Juni” tercipta. Beberapa bulan kemudian, dibuatlah album Hujan Bulan Juni tahun 1990 yang berisi sajak-sajak musikalisasi puisi Sapardi.

Berkat karya dan upayanya dalam mencerdaskan anak bangsa, Sapardi memperoleh sejumlah penghargaan. Pada tahun 1986, Sapardi mendapatkan anugerah SEA Write Award. Selain itu, Sapardi juga menerima penghargaan Achmad Bakrie pada 2003.

(AYA)