Konten dari Pengguna

Profit Margin: Pengertian, Jenis, dan Rumus Menghitungnya

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi profit margin. Foto: pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi profit margin. Foto: pixabay

Profit margin adalah rasio profitabilitas yang berkaitan erat dengan pendapatan bersih (net income), pendapatan (revenue), laba bersih (net profit), dan penjualan (sales). Rasio ini mengukur jumlah rupiah penjualan yang mampu dipertahankan oleh perusahaan sebagai laba.

Mengutip buku Cara Mudah Memahami Istilah Investasi karya Jack Guinan (2009), profit margin sangat berguna untuk membandingkan perusahaan-perusahaan dalam industri yang sama. Margin yang tinggi mengindikasikan suatu perusahaan memiliki potensi keuntungan yang besar.

Profit margin biasanya ditampilkan dalam bentuk persentase. Misalnya, perusahaan yang berhasil memperoleh profit margin 20%, maka ia memiliki laba bersih sebesar 20 rupiah untuk setiap rupiah penjualannya.

Profit margin sangat diperlukan dalam analisis fundamental saham. Agar lebih memahaminya, berikut penjelasan tentang profit margin selengkapnya yang bisa Anda simak.

Apa yang Dimaksud dengan Profit Margin?

Sebelum membahas profit margin, sebaiknya pahami terlebih dahulu pengertian “profit” dalam dunia bisnis. Mengutip jurnal berjudul Profit margin dibagi menjadi dua jenis, yaitu Net Profit Margin (NPM) dan Gross Profit Margin (GPM) susunan Taruh (2012), profit merupakan keuntungan yang menjadi indikator kinerja suatu perusahaan.

Ilustrasi profit margin. Foto: pixabay

Profit disebut mengalami pertumbuhan jika hasil selisih dari periode sekarang dikurangi peride sebelumnya bernilai positif. Kondisi ini mengisyaratkan bahwa perusahaan memiliki sumber keuangan dan model bisnis yang baik.

Selisih yang didapat bisa mengukur jumlah penjualan yang mampu dipertahankan perusahaan sebagai laba atau keuntungan. Dalam dunia bisnis, istilah ini disebut sebagai profit margin.

Profit margin dibagi menjadi dua jenis, yaitu Net Profit Margin (NPM) dan Gross Profit Margin (GPM). Kedua rasio ini berguna untuk menganalisis hal-hal yang berpengaruh terhadap laba perusahaan dan tingkat pengembalian investasi.

1. Net Profit Margin (NPM)

Net Profit Margin (NPM) menunjukkan seberapa besar keuntungan bersih yang didapatkan oleh perusahaan dalam menjalankan bisnisnya. Profit yang lebih rendah dari rata-rata dapat disebabkan oleh harga perusahaan yang lebih rendah dari harga penjualan pesaing.

Di sisi lain, hal ini juga bisa disebabkan oleh harga pokok penjualan (HPP) yang lebih tinggi dari HPP perusahaan pesaing. Rasio ini menjadi indikator kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba yang berkaitan dengan penjualan yang dicapai.

Ilustrasi profit margin. Foto: pixabay

NPM dapat mengukur seberapa besar keuntungan perusahaan yang diperoleh dari setiap rupiah penjualannya. Rasio NPM ini sangat penting dalam melakukan analisis fundamental saham.

2. Gross Profit Margin (GPM)

Gross Profit Margin (GPM) adalah rasio yang menunjukkan seberapa besar keuntungan kotor yang diperoleh perusahaan dari penjualannya. Dalam kondisi normal, GPM harus bernilai positif.

Namun dalam beberapa situasi, GPM juga bisa bernilai negatif. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, yakni sebagai berikut:

  • Perusahaan baru beroperasi, sehingga belum mencapai skala ekonomis yang berdampak terhadap tingginya biaya tetap pada overhead pabrik;

  • Perusahaan memberikan harga jual yang murah untuk melakukan penetrasi pasar. Dalam masa pengenalan produk, perusahaan sering memberikan potongan harga untuk merebut pangsa pasar;

  • Terjadi perang harga di pasaran. Hal ini dapat membahayakan perusahaaan jika terjadi terus-menerus. Karena pada akhirnya, perusahaan yang kuat dapat terus bertahan, sedangkan perusahaan yang lemah akan tumbang.

GPM yang meningkat menunjukkan semakin besar tingkat kembalian keuntungan kotor yang diperoleh perusahaan terhadap penjualan bersihnya. Jika biaya yang dikeluarkan perusahaan untuk menunjang kegiatan penjualan semakin efisien, maka pendapatan yang diperoleh pun semakin meningkat.

Ilustrasi profit margin. Foto: pixabay

Bagaimana Cara Menghitung Profit Margin?

Untuk menghitung profit margin (net dan gross), Anda memerlukan sebuah rumus khusus. Berikut penjelasan lengkapnya yang bisa Anda simak:

1. Net Profit Margin (NPM)

Rumus:

Rumus Net Profit Margin. Foto: Dok pribadi

Contoh soal:

Berdasarkan laporan keuangan per tanggal 20 Juni 2022, pendapatan penjualan bersih (net sales) PT ABC adalah Rp45 miliar, sedangkan laba bersih setelah pajaknya adalah Rp31 miliar. Berapa Net Profit Margin (NPM) PT ABC?

NPM = 31.000.000.000 : 45.000.000.000 x 100%

NPM = 0,68 x 100%

NPM = 68,8%

Jadi, NPM dari PT ABC adalah sebesar 68,8%. Artinya, PT ABC sangat baik dalam mengelola pengeluarannya. PT ABC juga dianggap tepat dalam menetapkan harga jual produk di pasaran.

2. Gross Profit Margin (GPM)

Rumus:

Rumus Gross Profit Margin. Foto: Dok pribadi

Contoh soal:

PT Cantik Alami berhasil menjual produk kecantikan pada pertengahan 2022 sebesar Rp600 juta. Perusahaan ini menetapkan Harga Pokok Penjualan (HPP) sebesar Rp200 juta. Berapa Gross Profit Margin (NPM) yang dimiliki?

Gross profit = Pendapatan penjualan – Harga Pokok Penjualan

Gross profit = 600.000.000 – 200.000.000

Gross profit = 400.000.000

Dari perhitungan tersebut didapatkan gross profit PT Cantik alami sebesar Rp400.000.000. Maka, NPM perusahaan tersebut adalah sebagai berikut:

Gross Profit Margin = 400.000.000 : 600.000.000 x 100%

Gross Profit Margin = 0,66 x 100%

Gross Profit Margin = 66,6 %

Jadi, dapat diketahui bahwa GPM yang diperoleh PT Cantik Alami pada tahun 2022 adalah 66,6%. Nilai ini mengisyaratkan perusahaan dapat menjalankan bisnisnya dengan sangat baik.

Ilustrasi profit margin. Foto: pixabay

Berapa Profit Margin yang Baik?

Werner R. Muhadi dalam buku Analisis Laporan Keuangan Proyeksi dan Valuasi (2013) mengatakan bahwa nilai profit margin yang baik harus berada di atas 5%. Semakin tinggi nilai tersebut, maka semakin baik kinerja perusahaan.

Anda bisa menjadikan rasio profit margin sebagai penentu dalam memilih emiten saham. Namun, pastikan Anda mengkombinasikannya dengan rasio lain agar analisis menjadi semakin akurat.

(MSD)

Frequently Asked Question Section

Apa itu profit margin?

chevron-down

Profit margin adalah rasio profitabilitas yang dihitung sebagai laba bersih (net income) dibagi dengan pendapatan (revenue) atau laba bersih (net profit) dibagi dengan penjualan (sales).

Apa fungsi profit margin dalam analisis saham?

chevron-down

Profit margin sangat berguna untuk membandingkan perusahaan-perusahaan dalam industri yang sama

Apa saja jenis profit margin?

chevron-down

Profit margin dibagi menjadi dua jenis, yaitu Net Profit Margin (NPM) dan Gross Profit Margin (GPM).