Ragam Segehan untuk Nyepi dan Aturan Penyuguhannya bagi Umat Hindu

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Umat Hindu Bali biasa mempersembahkan segehan untuk Nyepi di beberapa tempat. Tata letak persembahan segehan biasanya diatur dalam Surat Edaran Pelaksanaan Hari Suci Nyepi yang diterbitkan oleh Pemprov atau Pemda setempat.
Sebelum mengetahui jenis-jenisnya, sebaiknya pahami terlebih dahulu arti segehan dalam tradisi Hindu di Bali. Secara bahasa, segehan berasal dari kata suguh atau menyuguhkan.
Dijelaskan dalam buku Kearifan Lokal Bali susunan Igna Wijaya (2021), segehan bertujuan untuk mempersembahkan sesajen kepada Bhuta Kala demi menetralisasi kegelapan dan mengubahnya menjadi sinar suci kehidupan.
Segehan biasanya disuguhkan di pekarangan rumah dan tempat lain yang dianggap penting. Apa saja jenis segehan untuk Nyepi yang biasa disiapkan umat Hindu? Simak ragamnya dalam artikel berikut ini.
Jenis-Jenis Segehan untuk Nyepi dan Peletakannya
Segehan untuk Nyepi dibedakan menjadi 4 jenis berdasarkan tata letak dan peruntukannya. Adapun jenis-jenis segehan tersebut antara lain:
1. Merajan/Sanggah
Sederhananya, merajan atau sanggah adalah tempat suci pemujaan umat Hindu yang terletak di pekarangan rumah. Umat Hindu dianjurkan untuk menghaturkan Banten Pejati Sakadisan semampunya di tempat tersebut.
Khusus di natar depan pelinggih, bisa menghaturkan Segehan Agung Atanding atau Segehan Cacahan 11/33 Tanding yang ditujukan kepada Sang Bhuta Bhucari.
Dikutip dari buku Ensiklopedia Upakara Edisi Lengkap susunan I Nyoman Jati (2021), Segehan Agung merupakan tingkat segehan terakhir yang alasnya terbuat dari ngiru/ngiu. Di tengahnya ditempatkan daksina penggolan, di mana kelapanya dikupas tanpa dihaluskan terlebih dahulu.
Sementara Segehan Cacahan adalah segehan yang memiliki alas terbuat dari taledan yang berisikan 7 atau 9 buah tangkih. Segehan ini memiliki 11 tangkih, di mana 9 tangkihnya mengikuti arah mata angin, 1 tangkih diisi lauk pauk, dan 1 tangkih lagi sebagai wadah base tampel dan beras.
2. Halaman/Natah Rumah
Di halaman, dianjurkan untuk menghaturkan Segehan Manca Warna sebanyak 9 (siya) tanding manut pengideran dengan olahan ayam brumbun, disertai tetabuhan tuak, arak, berem dan air (toya anyar). Segehan ini ditujukan (sambat) kepada Sang Kala Bhucari.
3. Jaba/Lebuh
Di Jaba artinya di depan pintu masuk halaman rumah. Umat Hindu dianjurkan untuk menghaturkan upakara sebagai berikut:
Segehan Cacahan 108 (seratus delapan) tanding dengan ulam jejeron matah dilengkapi dengan Segehan Agung serta tetabuhan tuak, arak, berem, toya anyar ditujukan (sambat) Sang Durga Bhucari dan Sang Kala Roga.
Semua segehan tersebut dihaturkan di bawah (sor) sanggah cucuk pada saat ”sandi kala”.
Di sanggah cucuk dipersembahkan peras daksina tipat kelanan.
4. Semua Anggota Keluarga
Bagi yang sudah meketus, dianjurkan untuk melaksanakan mebiyakala dan meprayascita di halaman rumah masing-masing. Setelah itu dilanjutkan dengan pengrupukan (mabuubuu) berkeliling (ngider kiwa 3 kali) di rumah dengan sarana api seprapak (meobor obor), bunyi-bunyian (kulkul bambu atau yang lain), bawang putih, mesui dan jangu (Triketuka).
Baca juga: Arti Rahajeng Nyanggra Rahina Nyepi Caka dan Tradisi Nyepi di Bali
(MSD)
