Konten dari Pengguna

Ramadhan 2026 Berapa Hijriah? Ini Jawabannya

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Ramadhan 2026 berapa Hijriah. Foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Ramadhan 2026 berapa Hijriah. Foto: Unsplash

Islam menggunakan kalender Hijriah sebagai pedoman dalam penentuan tanggal-tanggal penting, termasuk ketika Ramadhan. Sistem penanggalan ini dimulai dari peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah.

Berbeda dengan Masehi yang menggunakan peredaran matahari, kalender Hijriah menggunakan peredaran bulan. Perbedaan sistem penanggalan inilah yang kerap memicu kebingungan ketika menentukan waktu perayaan tertentu.

Sebab, penanggalan tersebut akan relatif berubah setiap tahunnya. Lantas, Ramadhan 2026 berapa Hijriah? Yuk, simak pembahasannya dalam artikel berikut ini.

Ramadhan 2026 Berapa Hijriah?

Ilustrasi Ramadhan 2026 berapa Hijriah. Foto: Unsplash/Sangga Rima Roman Selia

Mengutip Kalender Hijriah Indonesia Tahun 2026 M, Ramadhan 2026 jatuh pada 1447 Hijriah. Bulan suci tersebut diprediksi dimulai pada Kamis, 19 Februari 2026. Meski begitu, kepastiannya masih menunggu hasil sidang isbat yang akan digelar oleh pemerintah.

Sementara itu, Muhammadiyah telah menetapkan 1 Ramadhan 1447 H menggunakan metode hisab hakiki. Penetapan ini mengacu pada parameter Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT), sehingga memungkinkan penentuan awal bulan Hijriah tanpa melalui sidang isbat.

Berdasarkan Maklumat Nomor 2/MLM/1.0/E/2025, Muhammadiyah menetapkan 1 Ramadhan 1447 H atau awal puasa jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026.

Baca Juga: Kalender Hijriah 2026 Lengkap untuk Panduan Umat Muslim

Sejarah Kalender Hijriah

Ilustrasi kalender. Foto:Unsplash/Towfiqu barbhuiya

Sebagaimana disebutkan sebelumnya, kalender Hijriah atau kalender Islam ditentukan berdasarkan peredaran bulan. Karena itu, kalender Hijriah juga dikenal sebagai kalender Kamariah atau kalender lunar.

Mengutip skripsi berjudul Studi Analisis Pemikiran Susiknan Azhari tentang Unifikasi Kalender Hijriah di Indonesia oleh Li'izza Diana Manzil dari UIN Walisongo, penanggalan Hijriah mulai diterapkan sejak kepemimpinan umat Islam berada di tangan Umar bin Khattab.

Pada masa itu, muncul persoalan administratif terkait dokumen pengangkatan Abu Musa Al-Asy'ari sebagai Gubernur Basrah yang terjadi pada bulan Syaban. Selain itu, Abu Musa juga sering menerima surat dari Khalifah Umar bin Khattab yang tidak mencantumkan keterangan tahun.

Surat tanpa penulisan tahun dinilai berpotensi menimbulkan masalah serius, terutama dalam pengarsipan administrasi kenegaraan. Karena itulah, Umar bin Khattab memanggil para sahabat untuk bermusyawarah guna mencari solusi atas persoalan tersebut.

Dari hasil musyawarah itu, disepakati penetapan kalender Hijriah yang dihitung mulai tahun terjadinya hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah. Peristiwa hijrah dipilih karena merupakan tonggak penting dalam sejarah awal perkembangan Islam.

Terkait penetapan 1 Muharram tahun 1 Hijriah, terdapat beberapa pendapat. Sebagian menyebutkan jatuh pada 15 Juli 622 M, sementara pendapat lain menyatakan pada 16 Juli 622 M.

Kalender Hijriah kemudian menyebar ke berbagai wilayah, termasuk Indonesia, seiring masuknya Islam ke Nusantara. Namun, pada masa kolonial Belanda, penggunaannya mulai tergeser oleh kalender Masehi yang kemudian digunakan dalam sistem administrasi resmi.

(NSF)