Konten dari Pengguna

Renungan Harian Desember 2025 yang Bisa Dihayati Umat Katolik

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi renungan harian Desember 2025. Sumber: Unsplash.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi renungan harian Desember 2025. Sumber: Unsplash.

Renungan harian merupakan cara agama Katolik untuk memperdalam iman dan menumbuhkan relasi yang lebih dekat dengan Tuhan. Melalui bacaan Alkitab yang direnungkan setiap hari, umat Katolik mendapatkan kekuatan serta hikmat baru dalam menjalani rutinitas kehidupan.

Bulan Desember menjadi momen istimewa untuk introspeksi diri dan mengucap syukur atas penyertaan-Nya sepanjang tahun. Mari sambut akhir tahun dengan penuh pengharapan melalui renungan harian Desember 2025 berikut ini!

Renungan Harian Desember 2025

Ilustrasi renungan harian Desember 2025. Sumber: Unsplash.

Berikut bacaan renungan harian Desember 2025, dikutip dari buku Renungan Harian Desember 2025 (2025) oleh Tim Penulis RH dan laman Arsip Renungan Harian Alkitab SABDA (2025):

Bacaan Pertama

Bacaan: Yohanes 1:1-18

"Tidak seorang pun pernah melihat Allah. Namun, Anak Tunggal Allah yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya." – Yohanes 1:18

Bacaan Alkitab Setahun: 1 Korintus 9-11

Injil Yohanes menyatakan bahwa Tuhan Yesus Kristus adalah firman yang bersama Allah sejak semula. Segala sesuatu dijadikan melalui Dia. Kehadiran-Nya di dunia adalah terang bagi manusia, meskipun banyak yang tidak mengenal-Nya.

Namun, bagi mereka yang menerima-Nya, diberikan hak menjadi anak-anak Allah. Dari kepenuhan-Nya, kita menerima anugerah demi anugerah, yakni keselamatan, pengharapan, dan kasih yang tak berkesudahan. Haleluya!

Yang luar biasa istimewa adalah bahwa melalui Yesus Kristus, kita dapat mengenal Allah. Allah yang dahulu tak terjangkau, yang digambarkan sebagai api yang menghanguskan, kini hadir di tengah kita.

Allah tidak lagi jauh dan tak tersentuh, melainkan dekat dan tinggal bersama kita. Bahkan hidup dalam hati kita senantiasa. Inilah sesungguhnya makna Imanuel: Allah beserta kita. Ini bukan sekadar konsep pandangan, melainkan realitas yang mengubah hidup.

Bacaan Kedua

Bacaan: Lukas 3:1-6

... "Ada suara yang berseru-seru di padang gurun: Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan raya bagi-Nya." – Lukas 3:4

Bacaan Alkitab Setahun: 1 Korintus 12-14

Lukas mendaftarkan sejumlah nama beserta jabatan mereka ketika Yohanes Pembaptis memulai pelayanannya. Tiberius menjadi kaisar Roma. Pontius Pilatus menjadi gubernur Yudea. Herodes, Filipus, dan Lisanias menjadi raja wilayah di kota-kota berbeda di Israel dan sekitarnya. Hanas dan Kayafas menjadi imam besar.

Mereka adalah para petinggi di bidang politik dan keagamaan. Memiliki kuasa atas wilayah tertentu. Menduduki posisi yang diidamkan banyak orang. Berdiam di pusat kota, pusat pemerintahan, maupun pusat keagamaan.

Kontrasnya, Allah memilih seseorang yang tidak memiliki jabatan, tidak diperhitungkan manusia, serta tidak berada di pusat keramaian, melainkan di padang gurun, untuk memproklamirkan Sang Mesias kepada dunia.

Yohanes menyebut dirinya sebagai "suara yang berseru-seru" (ay. 4). Ia tidak menonjolkan dirinya. Tidak ingin membuat orang lain terkesan akan kehebatannya. Sebaliknya, ia menganggap bahwa bukan dirinya yang utama, melainkan Kristus yang diberitakannya.

Ia bisa saja tidak dikenal orang, itu tidak masalah baginya, asalkan Kristus yang diwartakannya semakin mereka kenal. Ia sungguh menempatkan dirinya sebagai pembawa berita. Kristus sendirilah inti beritanya.

Di tengah dunia di mana semua orang berlomba memiliki nama besar serta jabatan yang hebat, bahkan dalam dunia pelayanan sekalipun, di manakah posisi kita? Memupuk kebesaran nama sendiri atau tetap berfokus membesarkan nama Kristus?

Hendaknya kita cukup rendah hati mengakui bahwa Kristuslah yang seharusnya menjadi pusat pemberitaan kita, yang ditinggikan dan dimuliakan melalui hidup kita. Itulah yang hendaknya selalu kita suarakan.

Bacaan Ketiga

Bacaan: Lukas 10:38-42

"Namun, Tuhan menjawabnya, "Marta, Marta, engkau khawatir dan menyusahkan diri dengan banyak hal, ...." – Lukas 10:41

Bacaan Alkitab Setahun: 1 Korintus 15-16

Beberapa pelajar sedang menikmati liburan di pantai. Tiga belas dari para pelajar itu memutuskan untuk berenang menikmati kenyamanan ombak kecil itu. Namun, tanpa disadari, tiba-tiba terjadi arus balik yang menyeret ketiga belas pelajar itu.

Empat pelajar dilaporkan tewas, sementara sembilan lainnya berhasil diselamatkan. Banyak orang tenggelam bukan karena ombak besar, tetapi karena terlalu nyaman berada di air tanpa menyadari bahaya tersembunyi.

Bacaan hari ini mencatat dua respons berbeda terhadap kehadiran Yesus. Marta, sibuk melayani dan merasa perlu mengatur segalanya. Ia merasa dengan kesibukannya, ia dikenan Tuhan. Sementara Maria, memilih untuk duduk di kaki Yesus dan mendengarkan firman-Nya. Ia memilih meninggalkan kesibukannya untuk menikmati hadirat Tuhan.

Marta sejatinya melakukan hal baik, tapi ia teralihkan dari yang terbaik, dari hadirat dan suara Tuhan. Yesus tidak menegur Marta karena pelayanannya salah, tapi karena hatinya teralihkan oleh kekhawatiran dan kesibukan.

Kita acapkali terlena dalam rutinitas dan kenyamanan. Kita nyaman dengan pekerjaan yang stabil, pelayanan yang sangat melelahkan, dan dengan hubungan sosial yang harmonis. Namun, tanpa disadari rasa nyaman itu menyeret kita jauh dari pusat kehidupan rohani.

Mari renungkan pertanyaan ini: Masihkah kita menyediakan waktu untuk mendengarkan suara Tuhan dan bukan hanya melayani-Nya? Apakah kita merasa nyaman dengan rutinitas rohani meski tanpa keintiman pribadi bersama Tuhan?

Bacaan Keempat

Bacaan: 1 Tesalonika 5:12-22

“Ucapkanlah syukur dalam segala hal. Sebab, itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.” – 1 Tesalonika 5:18

Bacaan Alkitab Setahun: 2 Korintus 1-4

Setiap tahun masyarakat di daerah Minahasa, Sulawesi Utara, melaksanakan perayaan pengucapan syukur. Masyarakat setempat menyebutnya sebagai "pengucapan".

Perayaan ini adalah saat mereka bersyukur untuk pemeliharaan Tuhan dan juga atas hasil panen yang didapatkan dari Tuhan. Selanjutnya mereka makan bersama-sama sebagai wujud syukur tersebut. Tidak lupa satu sama lain akan berkunjung dari rumah ke rumah dan bersukacita bersama.

Hal ini sejalan dengan apa yang Rasul Paulus utarakan di dalam suratnya kepada jemaat di Tesalonika. Di akhir surat ini, Paulus menasihati jemaat untuk selalu bersyukur dalam segala hal. Hal ini menarik karena saat itu jemaat tengah menghadapi situasi yang penuh tekanan (1 Tes. 2:13-16).

Paulus bahkan pernah harus meninggalkan jemaat Tesalonika yang masih sangat muda, disebabkan ada orang-orang Yahudi yang tidak senang dan berusaha menangkap Paulus karena pemberitaan Injilnya (Kis. 17:1-9). Akan tetapi, Paulus tetap bersyukur kepada Tuhan Yesus dan ia pun terus mendorong mereka bersyukur kepada Allah.

Paulus meyakinkan jemaat bahwa bersyukur di dalam segala hal adalah kehendak Allah di dalam Kristus. Sesungguhnya bersyukur kepada Allah adalah bentuk pernyataan iman bahwa Dia memelihara dan menjaga kita di segala situasi.

Di tengah-tengah pergumulan dan perjuangan hidup kita sehari-hari, nasihat Rasul Paulus ini tetap relevan. Kita perlu senantiasa menaikkan syukur atas pemeliharaan Tuhan di hidup kita dan juga sebagai pernyataan iman bahwa Allah selalu memberkati kita di segala situasi. Jadi tetaplah bersyukur atas semua berkat yang kita terima hari ini.

Bacaan Kelima

Bacaan: 2 Korintus 4:16-5:10

“Karena kami tahu bahwa jika kemah tempat kediaman kita di bumi ini dibongkar, Allah telah menyediakan suatu tempat kediaman di surga bagi kita, suatu tempat kediaman yang kekal, yang tidak dibuat oleh tangan manusia.” – 2 Korintus 5:1

Bacaan Alkitab Setahun: 2 Korintus 5-9

Kemah adalah tempat tinggal yang bersifat sementara bagi orang-orang yang gemar melakukan kegiatan di alam terbuka. Bukan permanen. Meski singkat, tinggal di dalam kemah memberi kepuasan tersendiri lantaran mampu membawa kesegaran bagi jiwa dan raga. Sembari membongkar kemah biasanya terbit semangat baru yang membangkitkan asa untuk menyongsong hari-hari yang bakal mereka lalui.

Sebagai orang-orang yang hidup karena percaya (ay. 7), kita pun menyadari bahwa bumi bukanlah tempat tinggal tetap. Ketika mata hati kita tetap memandang kepada kekekalan yang tak kelihatan (ay. 18), maka akhir perjalanan hidup akan membawa kita pulang ke kediaman surgawi (ay. 2). Rumah yang menjadi tempat tujuan apabila kemah kediaman kita di bumi ini dibongkar (ay. 1).

Pengharapanlah yang sanggup mengatasi beratnya tekanan hidup yang harus ditanggung selama kita masih berada di dalam dunia (ay. 4). Ketabahan (ay. 6) yang memampukan kita menyebut setiap persoalan dan kesulitan hidup hanya sebagai penderitaan ringan (ay. 17). Kekuatan hati nan sejati yang menuntun kita untuk tetap menjaga hidup yang berkenan kepada-Nya (ay. 9).

Tak ubahnya tamasya singkat, hidup adalah karunia Tuhan yang layak kita nikmati. Ketidaknyamanan yang mengisyaratkan penderitaan hidup tidak seharusnya memadamkan semangat kita dalam menjalani hari-hari penuh dengan sukacita. Kekuatan iman yang akan memampukan kita tiba di Rumah Bapa tanpa kehilangan pengharapan.

(FHK)

Baca juga: Doa Katolik Mohon Petunjuk dan Jalan Keluar dari Sebuah Masalah