Konten dari Pengguna

Ritual Mandi Safar, Tradisi Tolak Bala di Indonesia

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ratusan warga di Desa Pangi, Kabupaten Bone Bolango menggelar mandi massal. Rabu, (23/10). Foto : Dok Banthayo.id
zoom-in-whitePerbesar
Ratusan warga di Desa Pangi, Kabupaten Bone Bolango menggelar mandi massal. Rabu, (23/10). Foto : Dok Banthayo.id

Ritual Mandi Safar merupakan salah satu kegiatan yang biasa dilakukan di beberapa daerah di Indonesia saat bulan Safar. Ritual ini sudah dilakukan sejak lama dan menjadi suatu tradisi.

Ritual Mandi Safar yang dilakukan setiap daerah berbeda-beda dalam hal pelaksanaannya, tetapi memiliki tujuan yang sama, yaitu menolak bala dan memohon rezeki. Namun, tradisi tersebut tak lepas dari pro dan kontra karena dianggap bertentangan dengan ajaran Islam.

Melansir situs Pemerintah Kabupaten Bengkalis, proses Mandi Safar di Riau dilakukan sejak pagi hari. Kemudian, masyarakat menyiapkan sehelai daun atau kertas persegi yang dituliskan ayat-ayat dan diserahkan kepada tetua yang dipercaya memiliki ilmu tinggi soal agama.

Pertama, masyarakat akan melakukan zikir bersama dengan arak-arakan menuju sebuah sumur tua yang diiringi alat musik kompang beserta perwakilan delapan pasang anak dari setiap desa. Sumur ini berada di sekitar Pantai Tanjung Lapin yang memiliki keistimewaan tersendiri seperti airnya yang tidak asin meski berada di tepi laut.

Para tetua adat, pemuka agama, serta pemerintah setempat menepuk tepung tawari anak-anak dan menyirami mereka dengan centong tempurung kelapa. Kemudian, warga dipersilahkan untuk mengambil air tersebut. Ada yang hanya membasuh muka, rambut, atau menaruhnya di dalam botol.

Sedangkan di Lombok, berdasarkan situs Pemerintah Lombok Utara, diketahui ritual Mandi Safar yang juga disebut Rebo Bontong dimulai dengan melepas sesaji di perahu kecil. Kemudian, dilanjutkan dengan Serlakan, zikir, dan berdoa bersama yang dipimpin tokoh agama setempat.

Acara dilanjutkan dengan melepas sesaji ke laut yang nantinya akan diperebutkan warga. Proses ini ditutup dengan mandi bersama di pantai. Ritual Mandi Safar di Lombok biasanya digelar bersamaan dengan acara Gili Festival, yang merupakan acara tahunan Desa Gili Indah.

Lalu, mengutip dari situs Pemerintahan Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, ritual Mandi Safar dilaksanakan lebih simpel. Tradisi ini akan dipimpin oleh tetua adat dengan melakukan ritual menggunakan daun sawang.

Daun tersebut digunakan saat ingin mandi di sungai. Sebelum itu, dilakukan doa bersama guna membersihkan diri dan terhindar dari hal tidak baik. Untuk memeriahkan tadisi di sini, diadakan berbagai lomba, seperti lomba melukis, mewarnai, tari daerah, dan masih banyak lainnya.

Kini, ritual Mandi Sfara tidak hanya menjadi sebuah kebudayaan dan tradisi, tetapi juga suatu kegiatan untuk menarik perhatian wisatawan untuk berkunjung.

(FEP)