Konten dari Pengguna

Rumus Tekanan Osmotik beserta Contoh Soal dan Pembahasannya

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi larutan yang dapat dihitung tekanan osmotiknya. Foto: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi larutan yang dapat dihitung tekanan osmotiknya. Foto: Pixabay

Larutan memiliki sifat koligatif yang hanya dipengaruhi oleh jumlah partikel zat terlarut. Jadi, semakin banyak zat terlarut, sifat koligatifnya akan semakin besar. Salah satu sifat koligatif yang dimiliki larutan dapat diketahui melalui tekanan osmotik.

Mengutip buku Praktis Belajar Kimia karya Imam Rahayu, tekanan osmotik adalah tekanan minimum yang perlu diterapkan pada larutan untuk mencegah masuknya aliran pelarut murni yang melintasi membran semipermeabel.

Menurut situs Science Direct, tekanan osmotik ini bermanfaat dalam berbagai hal di kehidupan sehari-hari, antara lain:

  • Penyerapan dari saluran pencernaan sekaligus pertukaran cairan di berbagai kompartemen tubuh yang mengikuti prinsip osmosis.

  • Tekanan osmotik protein plasma yang mengatur aliran air dari cairan usus bebas protein ke dalam pembuluh darah.

  • Pemurnian atau desalinasi air laut agar bisa digunakan dan dikonsumsi secara langsung.

  • Pemurnian air limbah untuk menghilangkan zat berbahaya sebelum dibuang ke lingkungan, yaitu melalui pengaplikasian reverse osmosis (RO) atau osmosis balik.

Untuk mengetahui cara menghitung besaran tekanannya, simak pembahasan lengkapnya berikut ini.

Ilustrasi larutan yang dapat dihitung tekanan osmotiknya. Foto: Pixabay

Rumus Tekanan Osmotik

Tekanan osmotik pada larutan encer yang mengandung zat terlarut non elektrolit pertama kali diciptakan oleh ilmuwan asal Belanda yang bernama Jacobus Van’t Hoff.

Dikutip dari Cerdas Belajar Kimia karya Nana Sutresna, Van't Hoff merumuskan tekanan osmotik mengikuti aturan hukum gas ideal, namun tekanan gas ideal (p) diganti dengan tekanan osmotik (π) sehingga tercipta rumus:

π V = n x R x T

π= n/v x R x T

π = M x R x T

  • π= tekanan osmotik(atm)

  • V= volume (liter)

  • n= jumlah mol zat terlarut

  • R= tetapan gas ideal 0.0821 L atm/K mol

  • T = suhu (satuan kelvin)

Dari rumus tersebut, dapat disimpulkan bahwa tekanan osmotik larutan non elektrolit hanya bergantung pada banyaknya partikel zat terlarut yang dinyatakan dalam molaritas larutan. Adapun kategori tekanan larutannya yang dibagi menjadi tiga, yakni:

  • Larutan yang memiliki tekanan osmotik lebih rendah dari yang lain disebut larutan hipotonis.

  • Larutan yang mempunyai tekanan osmotik lebih tinggi dari yang lain disebut larutan hipertonis.

  • Larutan-larutan yang mempunyai tekanan osmotik sama disebut isotonis.

Ilustrasi larutan yang dapat dihitung tekanan osmotiknya. Foto: Pixabay

Contoh Soal Tekanan Osmotik

Menghimpun dari buku Mudah dan Aktif Belajar Kimia karya Yayan Sunarya dan Agus Setiabudi, berikut contoh soal dan pembahasannya.

1. Tentukan tekanan osmotik larutan glukosa 0,03 M pada suhu 29°C!

Jawab:

π = MxRxT

= 0,03M x 0,082 Latm mol/K x (29+273) K

= 0,74atm

Maka, tekanan osmotik larutan glukosa tersebut yaitu 0,74 atm.

2. Sebuah larutan terbuat dari 1,14 g sukrosa (C12H22O11) dengan massa molekul relatif 342 yang dilarutkan ke dalam air yang volumenya 500 mL pada suhu 27o Celcius. Tentukanlah berapa tekanan osmotik dari larutan tersebut!

Diketahui:

T = 27o C = 300o K

Volume pelarut = 500 mL = 0,5 L

Jawab:

Jumlah mol sukrosa = 1,14/342 = 0,0033

π V = n R T

π 0,5 = 0,0033 . 0,082 . 300

π = (0,0033 . 0,082 . 300)/0,5 = 0,16236 atm

(VIO)