Sejak Kapan Ragam Hias Nusantara Dikenal Bangsa Indonesia? Ini Sejarahnya

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ragam hias kerap ditemukan di berbagai bangunan dan benda-benda yang termasuk peninggalan sejarah. Pertanyaannya, sejak kapan ragam hias Nusantara dikenal bangsa Indonesia?
Perlu diketahui bahwa ragam hias adalah bentuk atau gambar yang disusun sesuai pola tertentu secara berulang sehingga tercipta corak yang indah. Corak ini dapat diaplikasikan pada karya seni apa pun, seperti lukisan, batik, keramik, dan lain sebagainya.
Di zaman dahulu, ragam hias lebih sering diaplikasikan pada bangunan, misalnya candi dan masjid. Coraknya pun memiliki ciri khas tersendiri yang membedakannya dengan kesenian ragam hias di zaman modern.
Sejak Kapan Ragam Hias Nusantara Dikenal Bangsa Indonesia?
Untuk mengetahui sejak kapan ragam hias Nusantara dikenal bangsa Indonesia, kita perlu menelusuri sejarah ragam hias terlebih dahulu. Mengutip materi berjudul Sejarah Ragam Hias Indonesia yang disusun Lely Surya Wardani, M.Pd, sejarah ragam hias dibagi ke dalam tiga masa, yaitu:
1. Masa Pra-Sejarah
Ada dua zaman pada masa pra-sejarah, yaitu zaman batu dan zaman perunggu. Merujuk pada peninggalan yang ada, ornamen ragam hias diperkirakan eksis sejak zaman batu, sekitar 4000 tahun yang lalu.
Pada zaman batu, manusia menetap di dalam gua dan membuat berbagai karya dari tanah liat. Sementara di zaman perunggu, ragam hias mulai diaplikasikan pada benda-benda logam.
Ciri utama corak ragam hias pada masa pra-sejarah adalah flora dan fauna yang ditemukan di lingkungan pengrajinnya. Selain itu, bentuk-bentuk geometri seperti lingkaran, swastika, pilin, dan meander juga kerap digunakan para pengrajin kuno.
Masyarakat pra-sejarah juga cenderung membuat ragam hias dengan motif yang simbolis. Contohnya, burung yang merupakan lambang roh orang mati dan gajah yang menjadi simbol kendaraan roh.
2. Masa Klasik
Periode perkembangan ragam hias di masa klasik terjadi pada kisaran abad 4 sampai 15 Masehi. Ragam hias di masa ini banyak dipengaruhi oleh agama Hindu dan Budha yang digunakan untuk menghias candi serta artefak.
Ada dua aliran atau gaya ragam hias yang lahir pada masa klasik, yaitu:
Naturalis: Unsur digambarkan sesuai dengan keadaan sebenarnya. Misalnya, manusia, bentuk bangunan, binatang serta tumbuhan.
Stiliran: Unsur yang digambar tidak sesuai dengan bentuk aslinya. Biasanya, unsur tersebut memiliki makna tertentu.
3. Masa Islam
Ragam hias pada masa Islam berkembang sekitar abad ke-11. Motif-motifnya merupakan hasil pengembangan dari corak zaman Hindu-Budha. Pada masa ini pula mulai dibuat kaligrafi dan ornamen untuk bangunan-bangunan masjid.
Masa Islam menjadi periode di mana penggunaan ragam hias semakin masif. Hal ini ditandai dengan ornamen batik yang berkembang pesat.
Ragam hias di masa Islam identik dengan bentuk stiliran, terutama dengan unsur binatang. Selain itu, ragam hias geometris seperti segitiga, lingkaran, dan garis horizontal masih banyak ditemukan.
Corak khas lainnya yang berkembang di masa Islam adalah patra, yaitu gambar tumbuhan merambat atau sulur daun. Sementara ragam hias seperti meander, swastika dan motif pilin mulai ditinggalkan.
Baca Juga: Penerapan Ragam Hias pada Tekstil Dapat Dilakukan dengan Cara Apa?
(DEL)
