Sejarah Cheng Beng, Ziarah Kubur Masyarakat Tionghoa yang Punya Makna Mendalam

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Masyarakat Tionghoa melaksanakan ritual Cheng Beng atau Qing Ming setiap tanggal 4-5 April. Tradisi yang telah diwariskan dari generasi ke generasi ini bertujuan untuk mengenang dan menghormati para leluhur dengan cara berziarah dan sembahyang di makam mereka.
Biasanya keturunan-keturunan yang masih hidup juga akan membersihkan makam leluhur. Mengutip jurnal Tradisi Cheng Beng pada Etnis Tionghoa di Kecamatan Tanjung Morawa Kabupaten Deli Serdang karya Bangun Yermia dan T. Andayani (2020), masyarakat Tionghoa percaya bahwa apabila makam tampak elok, maka rumah leluhur di langit juga akan indah.
Bagaimana tradisi ini bermula?
Sejarah Cheng Beng
Mengutip Bangun Yermia dan T. Andayani (2020: 44) tradisi Cheng Beng berasal sejak zaman Dinasti Ming. Dahulu kala ada seorang anak bernama Cu Guan Ciong (Zhu Yuan Zhang, pendiri Dinasti Ming) yang berasal dari sebuah keluarga yang amat miskin.
Orangtuanya meminta bantuan kepada sebuah kuil di desa untuk membesarkan dan mendidik Cu Guan Ciong. Ketika beranjak remaja, Cu Guan Ciong menunjukkan akhlak yang baik dan bijaksana. Karena keunggulannya ini, ketika dewasa ia diangkat menjadi Kaisar.
Saat berkuasa, Cu Guan Ciong kerap memimpin pasukan untuk berperang melawan musuh. Peperangan tersebut tak jarang berlangsung dalam jangka waktu yang sangat panjang. Pada suatu hari Cu Guan Ciong teringat akan orangtuanya dan ingin kembali ke desa.
Malangnya, warga mengatakan bahwa orangtuanya telah meninggal dan tidak ada yang mengetahui keberadaan makamnya. Di tengah kesedihannya, Cu Guan Ciong berpikir bagaimana caranya untuk menemukan makam orangtuanya.
Ia pun memerintahkan seluruh rakyat untuk melakukan ziarah dan membersihkan makam leluhur masing-masing. Mereka juga diperintahkan untuk meletakkan tanda Kertas Lima Warna (go sek cua) di atas makam leluhur mereka di hari yang telah ditentukan.
Setelah para warga selesai berziarah, Cu Guan Ciong memeriksa seluruh makam. Tujuannya adalah untuk mencari makam-makam yang belum dibersihkan. Cu Guan Ciong kemudian menemukan pusara yang belum memiliki tanda.
Ia berpikir bahwa makam tersebut merupakan tempat orangtua, sanak saudara dan leluhurnya bersemayam. Maka ia membersihkan pusara dan melakukan penghormatan kepada leluhurnya. Inilah peristiwa yang melatarbelakangi tradisi Cheng Beng.
Makna Ritual Cheng Beng
Cheng Beng merupakan bukti pengabdian kepada leluhur. Masyarakat etnis Tionghoa percaya bahwa roh-roh leluhur selalu mengawasi keturunannya yang masih hidup.
Oleh sebab itu saat berziarah mereka akan memanjatkan doa agar arwah leluhur tenang di alam baka dan senantiasa bersama mereka selamanya untuk menjaga dan memberi berkat yang melimpah.
Selain itu, Cheng Beng juga dapat memupuk kerukunan dalam keluarga. Sebab tidak jarang masyarakat berbondong-bondong kembali ke kampung halaman untuk berkumpul bersama keluarga besar dan melakukan memorial khusus ini.
Frequently Asked Question Section
Apa itu Cheng Beng?

Apa itu Cheng Beng?
Cheng Beng atau yang disebut juga Qing Ming adalah ritual tahunan etnis Tionghoa untuk bersembahyang dan ziarah kubur sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.
Kapan Cheng Beng Diperingati?

Kapan Cheng Beng Diperingati?
Cheng Beng jatuh pada 4 atau 5 April meski menurut tradisi ritual bisa dilakukan kapan saja hingga 10 hari sebelumnya.
Makna Cheng Beng

Makna Cheng Beng
Cheng Beng merupakan bentuk pengabdian keturunan yang masih hidup kepada leluhur yang telah meninggal. Cheng Beng juga dapat memperkuat tali persaudaraan antar keluarga dengan berkumpul bersama.
(ERA)
