Konten dari Pengguna

Sejarah Hari Raya Waisak dan Maknanya bagi Umat Buddha

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi sejarah hari raya Waisak. Foto: pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi sejarah hari raya Waisak. Foto: pixabay

Hari Raya Waisak dirayakan seluruh umat Buddha pada bulan Mei atau Juni setiap tahunnya. Pada tahun ini, mengacu perhitungan kalender bulan (lunar calender), Hari Raya Waisak jatuh pada hari Senin, 16 Mei 2022.

Hari besar ini dirayakan untuk mengenang tiga peristiwa penting yang dialami Buddha Gautama semasa hidupnya. Mengutip laman United Nation, pada tahun 623 SM Sang Buddha lahir. Seiring berjalannya waktu, ia mencapai pencerahan dan wafat pada tahun ke-80 Hari Waisak.

Buddha Gautama dikenal sebagai guru spiritual yang berasal dari wilayah timur laut India dan menjadi pendiri sekaligus penyebar agama Buddha. Sosoknya begitu dihormati dan disucikan oleh umat Buddha seluruh dunia.

Bagaimana sejarah Hari Raya Waisak yang sesungguhnya? Simak artikel berikut untuk mengetahui jawabannya.

Sejarah Hari Raya Waisak

Hari Raya Waisak dirayakan di bulan purnama pertama menurut penanggalan kuno Vekasha. Biasanya, hari besar ini jatuh antara pertengahan Mei hingga Juni, serentak dirayakan oleh umat Buddha di seluruh dunia.

Ilustrasi sejarah hari raya Waisak. Foto: pixabay

Pada momen perayaan Waisak, umat Buddha akan melakukan persembahan, meditasi, dan kegiatan agama lainnya untuk menghormati sang Buddha. Mereka mengamati ajaran Sang Buddha untuk dijadikan pedoman mengenai cara hidup yang benar di dunia.

Perayaan Hari Waisak pertama kali diselenggarakan umat Buddha di Srilangka pada tahun 1950. Pada tahun 1999, PBB mulai mengakuinya secara internasional melalui putusan resolusi Majelis Umum 54/115.

Tujuannya tidak lain untuk memperingati ajaran Buddha sebagai salah satu ajaran agama tertua di dunia. Sejak saat itu, perayaan Hari Waisak mulai dirayakan markas besar PBB dan kantor-kantor PBB yang lainnya.

Seperti disebutkan sebelumnya, Hari Raya Waisak diperingati untuk mengenang tiga peristiwa yang dialami oleh Buddha Gautama. Mengutip laman Prestige, pada tahun 623 SM beliau lahir sebagai seorang pangeran di Istana Lumbini, Nepal.

Prinsip hidup yang dianut Sang Buddha disebut sangat damai dan membawa kesejahteraan. Ia menyadari bahwa uang dan kekayaan tidak menjamin segalanya. Semakin dia melihat dunia di sekitarnya, semakin banyak rasa sakit dan penderitaan yang disaksikan.

Ilustrasi sejarah hari raya Waisak. Foto: pixabay

Jadi suatu malam, dia mencela semua kekayaan dan kesenangan duniawi dan meninggalkan istana untuk menjalani kehidupan seorang pertapa tunawisma. Setelah enam tahun bermeditasi, bepergian dan bertapa, Siddhartha mencapai pencerahan dan menjadi Buddha.

Pada dasarnya, Buddha bukanlah nama, tetapi gelar yang memiliki arti terbangun atau yang tercerahkan. Nama ini kemudian dijadikan sebagai nama bagi ajaran agama yang dianut oleh para pengikut Sidharta Gautama.

Seiring berjalannya waktu, Waisak dirayakan oleh umat Buddha berbagai negara seperti Sri Lanka, Nepal, Malaysia, Indonesia, Myanmar, Thailand, Laos, Kamboja, Vietnam, Singapura dan India. Mengutip Skripsi Upacara Waisak di Candi Muara Takus karya Hasnur Irwansyah (2017), tidak ada rangkaian baku yang harus dilakukan saat merayakan Waisak.

Di Indonesia, Hari Waisak dirayakan secara nasional di Candi Borobudur dan candi-candi Buddha lainnya. Sebagai hari yang disucikan umat Budha, Waisak dirayakan dengan melakukan puja, perenungan, serta upacara ritual.

(MSD)

Frequently Asked Question Section

Kapan Sidharta Gautama lahir?

chevron-down

Tahun 623 SM.

Bagaimana perayaan Hari Waisak di Indonesia?

chevron-down

Di Indonesia, Waisak dirayakan dengan melakukan puja, perenungan, serta upacara ritual.

Bagaimana prinsip hidup Sang Buddha?

chevron-down

Prinsip hidup yang dianut Sang Buddha disebut sangat damai dan membawa kesejahteraan. Ia menyadari bahwa uang dan kekayaan tidak menjamin segalanya. Semakin dia melihat dunia di sekitarnya, semakin banyak rasa sakit dan penderitaan yang disaksikan.