Sejarah Jamu Gendong di Indonesia, Warisan Leluhur yang Sudah Ada Sejak Lama

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Jamu adalah minuman sehat tradisional yang berasal dari Jawa. Minuman ini telah ada sejak lama dan menjadi tradisi yang diwariskan secara turun temurun oleh nenek moyang kita.
Secara bahasa, jamu berasal dari kata “jampi” yang berarti ramuan ajaib. Dinamakan demikian karena jamu terbukti memiliki khasiat bagus untuk tubuh. Bisa untuk meredakan pegel linu, menyembuhkan masuk angin, dan lain-lain.
Saat ini jamu sudah banyak dijual dalam bentuk kemasan instan. Pebisnis jamu pun banyak menjualnya secara digital di marketplace dan media sosial.
Meski begitu, keberadaan jamu gendong masih kerap ditemui hingga saat ini di beberapa daerah. Bagaimana sejarah jamu gendong di Indonesia? Simak artikel berikut untuk mengetahui jawabannya.
Sejarah Jamu Gendong di Indonesia
Pada masa kerajaan di Jawa Tengah, pelayanan kesehatan tidak menjangkau sampai ke pelosok desa. Penyebabnya karena sistem transportasi dan komunikasi mereka belum berkembang seperti saat ini.
Mengutip buku Menguak Tabir dan Potensi Jamu Gendong oleh Dra. Suharmiati, Dinas Kesehatan Kerajaan hanya tersedia di ibu kota kerajaan. Bahkan, lokasi rumah sakit untuk pengobatan modern yang diselenggarakan oleh pemerintah Hindia-Belanda juga di sana.
Alhasil, masyarakat pun berupaya untuk mengatasi masalah kesehatannya sendiri. Praktik-praktik pengobatan yang dilakukan oleh orang pintar, dukun, dan wiku pun menggunakan jamu sebagai alternatif pengobatannya.
Mereka membuat ramuan jamu dari tumbuh-tumbuhan yang ada di sekitar. Resep jamu yang dibuat berasal dari wangsit atau wahyu yang didapat selama bertapa di gua atau hutan. Namun, ada juga yang menggunakan ketajaman daya nalarnya untuk mengenal tumbuhan.
Orang pintar dan dukun umumnya tinggal di pelosok desa. Masyarakat yang tinggal jauh dari rumah mereka akhirnya mengalami kesulitan ketika hendak pergi berobat.
Keadaan ini membuat masyarakat memikirkan sistem pendistribusian jamu tersebut. Akhirnya, para dukun memutuskan untuk mendistribusikan jamu lewat bantuan pekerja laki-laki.
Sistem yang dilakukan berupa barter, yakni jamu ditukar dengan bahan makanan atau barang lainnya. Hal ini dirasa sangat menguntungkan, baik bagi si dukun maupun konsumen. Sehingga, kegiatan tersebut menjadi suatu kebiasaan yang dilakukan terus menerus.
Pada perkembangan berikutnya, penjualan jamu ke desa-desa dilakukan secara berkeliling. Dikutip dari buku The Essence of Indonesian Spa oleh Louise Jumarani, penjual laki- laki membawa jamu dengan cara dipikul dan kaum perempuan menjajakan jamu dengan cara digendong.
Selanjutnya, karena tenaga kaum laki-laki lebih diperlukan untuk usaha pertanian, penjualan jamu lebih banyak dilakukan oleh kaum perempuan. Mulai dari sini, masyarakat banyak menyebutnya sebagai jamu gendong.
Jamu yang dijual oleh jamu gendong banyak diperuntukan bagi perempuan, terutama yang sedang mengandung atau habis melahirkan. Resepnya mereka dapatkan dari para dukun yang lambat laun dikuasai oleh para penjual jamu itu sendiri.
Resep jamu tersebut kemudian mulai disebarkan dari mulut ke mulut, sehingga semakin banyak orang yang mengetahuinya. Setelah masa kemerdekaan, banyak penduduk desa yang pindah ke kota untuk mengadu nasib.
Mereka menjadi buruh, pedagang, dan juga menjual jamu untuk menyambung hidupnya. Mengingat konsumen yang dilayani berbeda- beda, menu jamu gendong pun akhirnya mengalami inovasi.
Jamu dijual dengan beragam rasa dan khasiat. Misalnya jamu kunyit untuk menambah nafsu makan, jamu brotowali untuk pegel linu, dan lain-lain.
(MSD)
Frequently Asked Question Section
Apa itu jamu?

Apa itu jamu?
Secara bahasa, jamu berasal dari kata “jampi” yang berarti ramuan ajaib. Dinamakan demikian karena jamu terbukti memiliki khasiat yang baik untuk tubuh. Misalnya untuk meredakan pegel linu, menyembuhkan masuk angin, dan lain-lain.
Siapa yang pertama kali menemukan resep jamu?

Siapa yang pertama kali menemukan resep jamu?
Para dukun, orang pintar, dan wiku di jaman kerajaan Jawa.
Apa saja jenis jamu yang masih eksis hingga kini?

Apa saja jenis jamu yang masih eksis hingga kini?
Ada jamu cabe puyang, beras kencur, dan daun pepaya, bandrek, dan masih banyak lagi
