Sejarah Letusan Krakatau 1883 hingga Lahirnya Gunung Anak Krakatau

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gunung Anak Krakatau kembali menunjukkan aktivitas vulkanik yang cukup intens pada awal September 2026. Sejak Jumat malam, 4 September 2026, erupsi kembali terjadi, bahkan sempat disertai suara gemuruh hingga fenomena lava fountain atau air mancur lava.
Aktivitas tersebut kembali mengingatkan masyarakat pada sejarah panjang vulkanik Krakatau. Sebelum Anak Krakatau terbentuk, kompleks gunung api ini pernah mengalami letusan dahsyat pada 1883 yang memicu tsunami dan menewaskan puluhan ribu orang.
Beberapa dekade setelah letusan besar tersebut, aktivitas vulkanik kembali muncul dari bawah laut dan menjadi awal lahirnya Gunung Anak Krakatau. Sebenarnya, bagaimana sejarah letusan dahsyat Krakatau pada 1883? Berikut rangkaian sejarah letusan Krakatau hingga terbentuknya Anak Krakatau.
Sejarah Letusan Krakatau 1883
Berdasarkan informasi dari laman Volcano World, Kementerian ESDM, dan berbagai sumber lainnya, berikut sejarah letusan Gunung Krakatau pada 1883 hingga dampak besar yang ditimbulkannya:
Aktivitas Krakatau Meningkat hingga Terjadi Letusan Besar
Aktivitas Gunung Krakatau mulai meningkat sejak Mei 1883 dan terus memburuk hingga mencapai puncaknya pada 27 Agustus 1883. Pada hari itu, rangkaian ledakan dahsyat mengguncang kawasan Selat Sunda dan menjadi salah satu letusan gunung api paling besar dalam sejarah.
Berikut beberapa fakta sejarah yang tercatat saat letusan Krakatau 1883:
Suara ledakan terdengar hingga sekitar 4.600 kilometer dari pusat letusan.
Dentuman letusan diperkirakan terdengar oleh sekitar seperdelapan populasi dunia saat itu.
Krakatau memuntahkan batu apung dan abu vulkanik dalam jumlah sangat besar.
Abu dan gas vulkanik menyebar ke atmosfer hingga memengaruhi warna langit dan intensitas cahaya matahari di sejumlah wilayah.
Letusan Krakatau Memicu Tsunami Dahsyat
Selain menghancurkan sebagian besar tubuh gunung, letusan Krakatau juga menyebabkan material dan bagian gunung runtuh ke laut. Hal itu memicu tsunami besar yang menerjang pesisir Jawa dan Sumatra di sekitar Selat Sunda.
Gelombang tsunami menghancurkan desa-desa dan permukiman di sepanjang pesisir, termasuk wilayah yang berada di sekitar Batavia. Korban jiwa akibat letusan dan tsunami diperkirakan mencapai lebih dari 36.000 orang.
Lahirnya Anak Krakatau
Letusan dahsyat Krakatau pada 1883 mengubah bentuk kawasan tersebut secara drastis dan membentuk kaldera di bawah laut Selat Sunda. Puluhan tahun kemudian, aktivitas vulkanik kembali muncul dari kawasan kaldera dan menjadi awal terbentuknya Gunung Anak Krakatau.
Sejumlah fakta penting menandai awal terbentuknya Gunung Anak Krakatau, di antaranya:
Pada 28 Desember 1927, aktivitas vulkanik muncul di pusat kaldera dan menandai lahirnya Gunung Anak Krakatau.
Pada 1927–1930, terjadi belasan kali erupsi yang membuat gunung api tersebut terus tumbuh.
Kawah baru yang terbentuk berada dalam satu garis dengan bekas kawah Danan dan Perbuatan.
Aktivitas erupsi membuat Anak Krakatau terus bertambah tinggi dan luas hingga mencapai sekitar 300 meter di atas permukaan laut. Daratan di sekitarnya juga ikut meluas seiring aktivitas vulkanik tersebut.
Baca Juga: BMKG Siapkan 2 Metode Modifikasi Cuaca untuk Tangani Abu Anak Krakatau
(ANB)
