Konten dari Pengguna

Sejarah Maulid Nabi yang Diperingati Tiap 12 Rabiul Awal

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sejarah Maulid Nabi. Foto: PNGkit
zoom-in-whitePerbesar
Sejarah Maulid Nabi. Foto: PNGkit

Setiap tanggal 12 Rabiul Awal, mayoritas umat Islam di seluruh dunia memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Tahun ini, Maulid Nabi jatuh pada 29 Oktober 2020 mendatang. Di hari tersebut, umat muslim melakukan penghormatan dan meneladani Nabi Muhammad dengan berbagai kegiatan kegamaan dan budaya.

Maulid sendiri berasal dari bahasa Arab, Walada Yalidu Wiladan yang berarti kelahiran. Nabi Muhammad diyakini lahir pada 12 Rabiul Awal Tahun Gajah (sekitar 570 masehi). Ayahnya, yakni Abdullah bin 'Abdul Muthalib merupakan pedagang. Sedangkan ibunya bernama Aminah binti Wahb.

Nabi Muhammad harus merasakan getirnya hidup sejak kecil. Ayahnya meninggal dua bulan sebelum kelahirannya, sedangkan ibunya wafat saat Rasulullah masih anak-anak. Beliau pun diasuh oleh sang paman yakni Abu Thalib.

Jauh sebelum Nabi Muhammad diangkat sebagai rasul Allah, beliau telah mendapat julukan Al-Amin dari masyarakat sekitar karena merupakan sosok yang dapat dipercaya. Dalam buku Manajemen Bisnis Syariah tulisan Ali Hasan, Nabi Muhammad digambarkan sangat baik dan jujur. Beliau selalu menepati janji dan mengantarkan barang dagangannya sesuai dengan kualitas yang diminta pelanggan.

Saat berusia 40 tahun, Nabi Muhammad SAW menerima wahyu pertamanya dari Allah SWT di Gua Hira. Sejak saat itu, beliau mengemban misi untuk mengajarkan agama Islam rahmatan lil alamin (rahmat bagi semesta).

Perayaan Maulid Nabi Muhammad yang Pertama

Menurut pengakuan seorang tokoh sufi bernama Yusuf Hasyim ar-Rifa’I dalam kitab ar-Rad al-Muhkim al-Mani’, memperingati Maulid Nabi merupakan tradisi yang berkembang di masyarakat Islam setelah Rasulullah wafat.

Melansir dari jurnal Peringatan Maulid Nabi: Tinjauan Sejarah dan Tradisinya di Indonesia tulisan Moch. Yunus, terdapat dua pendapat tentang awal munculnya tradisi Maulid. Pertama, tradisi Maulid pertama kali diadakan oleh khalifah Mu’iz li Dinillah, salah seorang khalifah dinasti Fathimiyyah di Mesir.

Dinasti Fatimiyyah didirikan oleh Sa'id bin Husain di Tunisia sekitar tahun 909 M dan berideologi Syiah. Nama Fatimiyah diambil dari putri Rasulullah SAW yang juga istri Ali bin Abi Thalib, yakni Fatimah. Kala itu, mereka memperingati maulid yang ditujukan kepada Ali bin Abi Thalib.

Dinasti Fatimiyah runtuh pada tahun 1169 Masehi. Kemudian lahirlah Dinasti Ayyubiah pimpinan Salahudin Al Ayyubi. Di masa kekuasaannya, terjadi Perang Salib yang melibatkan beberapa bangsa Eropa dengan masyarakat Islam.

Menurut Salahuddin, semangat juang umat Islam harus dihidupkan kembali dengan cara mempertebal kecintaan umat kepada Nabi Muhammad.

Salahudin Al Ayyubi

Akhirnya ia mengimbau agar hari lahir Nabi Muhammad SAW pada 12 Rabiul Awal dirayakan secara masal dengan tujuan untuk meningkatkan semangat juang. Ketika Salahuddin meminta persetujuan dari Khalifah An-Nashir di Baghdad, mereka setuju.

Maka pada ibadah haji bulan Zulhijjah 579 Hijriyah, Salahuddin sebagai penguasa dua tanah suci yakni Mekah dan Madinah mengeluarkan instruksi kepada seluruh jemaah haji. Mereka diminta agar menyampaikan pesan bahwa mulai tahun 580 Hijriah, 12 Rabiul Awal diperingati sebagai Maulid Nabi dan dirayakan dengan berbagai kegiatan yang dapat membangkitkan semangat umat Islam.

(ERA)