Sejarah Pacu Jalur, Lomba Dayung Perahu Tradisional dari Kuansing, Riau

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Video sekelompok orang mendayung perahu dengan seorang anak yang menari di ujungnya tengah berseliweran di media sosial. Tradisi unik ini dikenal dengan istilah Pacu Jalur, yaitu perlombaan perahu tradisional yang berasal dari budaya masyarakat Minangkabau.
Pacu Jalur banyak dijumpai di bagian tengah dan barat Sumatera, terutama di Kabupaten Kuantan Singingi atau Kuansing, Riau. Dalam praktiknya, belasan pendayung akan bekerja sama untuk mendayung perahu panjang secara serempak dan kompak.
Namun, Pacu Jalur bukan hanya tentang kecepatan atau hiburan semata, melainkan tradisi dengan makna mendalam bagi masyarakat pesisir. Untuk memahami lebih jauh tentang asal-usulnya, simak penjelasan terkait sejarah Pacu Jalur berikut ini.
Apa Itu Pacu Jalur?
Dikutip dari laman Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya, Pacu Jalur merupakan perlombaan dayung tradisional yang berasal dari daerah Kuansing yang sampai saat ini masih terus berkembang di Provinsi Riau.
Dalam perlombaan, peserta mendayung perahu panjang yang dibuat dari batang kayu utuh yang disebut dengan jalur. Satu jalur biasanya dikayuh oleh sekitar 50-60 pendayung atau dikenal dengan sebutan anak pacu.
Setiap anak pacu yang berada di atas jalur memiliki tugas yang berbeda. Aada yang berperan sebagai Tukang Concang, yaitu pemimpin yang memberikan aba-aba kepada seluruh tim agar mendayung dengan kompak.
Selanjutnya, ada Tukang Pinggang yang bertugas sebagai juru mudi untuk mengendalikan arah perahu. Bersama dengan Tukang Onjai, mereka menciptakan irama melalui gerakan tubuh yang khas di bagian kemudi.
Sementara itu, di bagian paling depan terdapat Tukang Tari yang menarik perhatian karena gerakannya yang atraktif. Ia bertugas untuk membantu Tukang Onjai dalam menjaga keseimbangan jalur dengan gerakan tubuh yang seirama.
Sejarah Pacu Jalur
Mengutip dari laman Dinas Pariwisata Kabupaten Kuantan Singingi, sejarah Pacu Jalur sudah ada sejak abad ke-17. Pada masa itu, jalur atau perahu panjang yang terbuat dari batang kayu berfungsi sebagai alat transportasi utama masyarakat di wilayah Rantau Kuantan.
Karena ketersediaan akses darat belum begitu memadai, masyarakat memanfaatkan jalur untuk mengangkut hasil bumi seperti pisang dan tebu. Seiring waktu, jalur yang semula hanya digunakan sebagai sarana angkut mulai dipercantik dengan berbagai hiasan khas.
Ornamen berbentuk kepala ular, buaya, atau harimau ditambahkan di bagian lambung dan selembayung, juga dengan perlengkapan tradisional seperti payung, selendang, serta lambai-lambai tempat juru mudi berdiri. Dari sini, tradisi Pacu Jalur pun mulai terbentuk.
Awalnya, perlombaan dayung ini digelar sebagai bagian dari perayaan hari-hari besar Islam, seperti Maulid Nabi maupun Idul Fitri. Seiring berjalannya waktu, nilai dan tujuan dari tradisi ini pun ikut berubah mengikuti perkembangan zaman.
Saat ini, Pacu Jalur rutin diselenggarakan setiap bulan Agustus untuk merayakan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Selain sebagai warisan budaya dan ajang adu keterampilan, tradisi ini juga berhasil menarik perhatian wisatawan dari dalam dan luar negeri.
Baca juga: Mengenal Tradisi Pacu Jalur sebagai Simbol Gotong Royong Masyarakat Minangkabau
(RK)
