Konten dari Pengguna

Sejarah Perjanjian Hudaibiyah, Diplomasi Damai Rasulullah SAW dan Kaum Quraisy

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi perjanjian Hudaibiyah. Foto: Dok. Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi perjanjian Hudaibiyah. Foto: Dok. Shutterstock

Perjanjian Hudaibiyah merupakan upaya diplomasi Rasulullah SAW untuk meredakan ketegangan antara umat Islam dengan kaum musyrikin Quraisy. Sebagaimana diketahui dakwah yang dilakukan Nabi Muhammad di Mekah mendapat pertentangan sejak awal.

Kaum Quraisy begitu gencar mengintimidasi kaum muslimim hingga memaksa Rasulullah dan para pengikutnya untuk hijrah demi keselamatan. Setelah posisi Islam mulai kuat, pada tahun keenam Hijriah Nabi Muhammad berkeinginan untuk pergi ke Mekah.

Tujuannya bukanlah untuk berperang, melainkan melaksanakan ibadah umrah. Namun niat beliau dihalang-halangi oleh kaum Quraisy. Inilah yang kemudian menjadi latar belakang lahirnya perjanjian Hudaibiyah.

Sejarah Perjanjian Hudaibiyah

Suasana Kabah di Masjidil Haram saat ada wabah virus corona, Kamis (5/3/2020). Foto: Reuters/Ganoo Essa

Mengutip Perjanjian Hudaibiyah Tahun 628 M/ 6H dan Dampaknya Bagi Dakwah Islam di Jazirah Arabia karya Zaenal Abidin (2014), pada bulan Zulqaidah tahun ke 6 Hijriah, Rasulullah beserta 1400 kaum Muslimin pergi ke Mekah untuk umrah.

Namun kaum musyrikin Mekah ternyata telah mengetahui rencana kedatangan Nabi Muhammad. Mereka telah bertekad mengumpulkan kekuatan untuk menghalangi beliau.

Tidak ingin ada pertumpahan darah, ketika sampai di Hudaibiyah Rasulullah mengirim beberapa utusan untuk meyakinkan tokoh-tokoh Mekah bahwa mereka tidak bermaksud untuk berperang, melainkan untuk berumrah dan mengagungkan Ka’bah.

Akhirnya datanglah utusan pertama Quraisy yakni delegasi Budail bin Warqa’ al-Khuzai. Setelah mendengar langsung penjelasan dari Rasulullah dan melihat kondisi rombongan kaum muslimin, mereka percaya bahwa Rasulullah tidak bermaksud untuk berperang.

Namun beberapa tokoh Quraisy mencurigainya karena ia berasal dari suku Khuza’ah yang memiliki hubungan baik dengan keluarga Rasulullah dari Bani Hashim.

Kaum musyrikin Quraisy kemudian mengutus orang-orang lainnya hingga tiga kali, namun mereka semua mengatakan bahwa Rasulullah tidak memiliki niat untuk menyerang Mekah. Akhirnya diutuslah Suhail bin Amr yang diberi mandat untuk tidak membiarkan Rasulullah dan pengikutnya masuk ke Mekah dengan alasan apapun.

Tidak seperti utusan-utusan sebelumnya, Suhail langsung mengajak melakukan perjanjian tertulis dengan Rasulullah. Diplomasi tersebut berlangsung alot, namun pada akhirnya kedua belah pihak berhasil menghasilkan kesepakatan yang disebut Perjanjian Hudaibiyah.

Isi Perjanjian Hudaibiyah

Ilustrasi perjanjian. Foto: Freepik

Isi perjanjian Hudaibiyah yaitu:

  1. Gencatan senjata diadakan selama 10 tahun. Tidak ada permusuhan dan tindakan buruk dari kedua belah pihak selama masa itu.

  2. Jika ada orang dari pihak musyrikin Quraisy yang datang kepada Rasulullah tanpa seizin walinya maka ia harus dikembalikan kepada mereka. Sebaliknya jika ada pengikut Rasulullah yang menyeberang ke kaum musyrikin maka ia tidak dikembalikan kepada Rasulullah.

  3. Orang-orang Arab atau kabilah-kabilah yang berada di luar perjanjian dibolehkan menjalin persekutuan dengan salah satu pihak dalam perjanjian berdasarkan keinginannya.

  4. Kaum muslimin belum boleh mengunjungi Mekah tahun ini, tetapi ditangguhkan sampai tahun depan dengan syarat hanya tiga hari dan tanpa membawa senjata kecuali pedang di dalam sarung.

  5. Perjanjian diikat atas dasar ketulusan dan kesediaan penuh untuk melaksanakannya tanpa penipuan atau penyelewengan.

Ilustrasi perjanjian. Foto: Freepik

Mengutip jurnal Dakwah Struktural: Studi Kasus Perjanjian Hudaibiyah tulisan Siti Fatimah (2009), isi perjanjian tersebut dianggap lebih banyak membela kepentingan kaum Quraisy sehingga beberapa orang dari kaum Muslimin merasa dirugikan.

Selama proses penyusunannya pun kaum Quraisy mendominasi, seolah-olah merendahkan martabat kaum muslimin. Meski demikian, mereka tetap patuh kepada Rasulullah.

Ketika Nabi Muhammad mengajak rombongan kembali ke Madinah, di tengah perjalanan turunlah surat Al-Fath ayat 1-3 yang artinya: “Sesungguhnya kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata. Agar Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang, serta menyempurnakan nikmat-Nya atasmu dan membimbingmu ke jalan yang lurus”.

Apa kemenangan yang dimaksud? Ibnu Mas'ud r.a. dalam tafsir Ibnu Katsir juz IV mengatakan: "Sesungguhnya kalian menyangka kemenangan yang dimaksud ayat itu adalah ditaklukkannya Mekah, padahal kami mengatakan bahwa kemenangan yang dimaksud ialah perjanjian damai di Hudaibiyah".

Frequently Asked Question Section

Apa itu Perjanjian Hudaibiyah?

chevron-down

Perjanjian Hudaibiyah adalah bentuk upaya diplomasi yang dilakukan Rasulullah SAW untuk meredakan ketegangan militer antara umat Islam dengan kaum musyrikin quraisy.

Kapan Perjanjian Hudaibiyah Dirumuskan?

chevron-down

Perjanjian berlaku pada bulan Zulqaidah tahun ke 6 H.

Latar Belakang Perjanjian Hudaibiyah

chevron-down

Nabi Muhammad beserta rombongan kaum muslimin berkeinginan untuk umrah di Mekah, namun dihalang-halangi oleh kaum musyrikin quraisy.

(ERA)