Konten dari Pengguna

Sejarah Sirine Plengkung Gading Yogyakarta, Dulu Jadi Sinyal Bahaya

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sirine Plengkung Gading. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan.
zoom-in-whitePerbesar
Sirine Plengkung Gading. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan.

Plengkung Gading di Kota Yogyakarta menyimpan peninggalan bersejarah yang masih berfungsi hingga kini, yaitu sirine atau gauk yang berada di atas gerbang. Dahulu, sirine ini digunakan sebagai tanda bahaya saat terjadi serangan Belanda, dan kini bunyinya masih diperdengarkan pada momen-momen tertentu.

Keberadaan sirine tersebut tak lepas dari sejarah Plengkung Gading sebagai salah satu pintu masuk menuju benteng Keraton Yogyakarta. Lalu, bagaimana sejarah sirine Plengkung Gading dan fungsinya dari masa ke masa? Simak penjelasannya berikut ini!

Sejarah Sirine Plengkung Gading sebagai Tanda Bahaya

Sirine Plengkung Gading. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan.

Plengkung Gading, atau yang juga dikenal sebagai Plengkung Nirbaya, merupakan salah satu dari lima gerbang plengkung yang menjadi penghubung antara kawasan luar dan Keraton Yogyakarta.

Berada di sisi selatan Alun-Alun Kidul, bangunan ini dulunya merupakan bagian dari sistem pertahanan keraton, lengkap dengan parit dan jembatan gantung yang bisa diangkat untuk menghalau musuh yang hendak masuk.

Mengutip laman Badan Pelestarian Cagar Budaya DIY, parit pertahanan tersebut memiliki lebar mencapai 10 meter dengan kedalaman 3 meter. Sayangnya, keberadaan parit ini berakhir pada 1935 dan kini area tersebut telah bertransformasi menjadi jalan raya.

Pada masa itu, gauk atau sirine yang terpasang di atas Plengkung Gading berperan penting sebagai alarm peringatan dini ketika ancaman serangan Belanda datang.

Sirine bersejarah ini berlokasi di Kelurahan Patehan, Kemantren Kraton, Kota Yogyakarta, berwujud tiang besi menjulang setinggi 10 meter dengan tiga terompet yang disusun melingkar di puncaknya. Konon, gema suaranya mampu menjangkau radius hingga 5 kilometer, bahkan terdengar sampai ke wilayah Madukismo.

Namun, jangkauan suara gauk saat ini telah berkurang akibat meningkatnya jumlah kendaraan dan bangunan. Selain itu, suara sirine cenderung terdengar lebih jauh ke arah selatan, sedangkan jangkauannya ke utara relatif pendek karena dipengaruhi arah angin.

Fungsi Sirine Plengkung Gading Masa Kini

Sirine Plengkung Gading. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan.

Mengutip dari kumparanNEWS, saat ini sirine atau gauk dibunyikan pada momen tertentu, seperti peringatan Hari Kemerdekaan pada 17 Agustus, peringatan Serangan Umum 1 Maret, dan penanda waktu berbuka puasa selama Ramadan.

Sejak dekade 1970-an, kebiasaan menabuh gauk sebagai penanda waktu berbuka puasa sudah menjadi bagian dari tradisi masyarakat setempat. Tradisi ini sempat vakum cukup lama hingga akhirnya dihidupkan kembali pada rentang 2012-2013, berkat kerja sama takmir masjid dengan pihak-pihak terkait.

Tak hanya di Plengkung Gading, praktik serupa juga diterapkan di kawasan Pakualaman, di mana gauk setempat ikut dibunyikan sebagai penanda waktu berbuka selama dua tahun belakangan. Ke depannya, ada rencana untuk mendata keberadaan gauk-gauk lain yang masih tersisa di Yogyakarta, dengan harapan hasil pendataan tersebut bisa diajukan kepada pihak berwenang serta pengurus masjid setempat agar fungsi gauk dapat diaktifkan kembali, setidaknya selama bulan Ramadan.

(FHK)

Baca juga: Bagaimana Penulisan Sejarah Indonesia pada Masa Awal Kemerdekaan? Cek di Sini