Tentang KamiPedoman Media SiberKetentuan & Kebijakan PrivasiPanduan KomunitasPeringkat PenulisCara Menulis di kumparanInformasi Kerja SamaBantuanIklanKarir
2024 © PT Dynamo Media Network
Version 1.87.1
Konten dari Pengguna
Sejarah Supersemar, Bentuk Penyerahan Orde Lama Menuju Orde Baru
26 Februari 2021 19:06 WIB
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
Namun di samping itu, Supersemar juga masih menjadi kontroversi. Sebab, proses penyusunan dan penyerahan surat ini dinilai tidak wajar. Selain itu, dokumen asli dari Supersemar juga tidak ditemukan hingga kini.
Sejarah Supersemar
Mengutip buku Misteri Supersemar oleh Eros Djarot, dkk (2006:4-7), kemarahan tersebut dilanjutkan dengan aksi turun ke jalan oleh mahasiswa pada Jumat pagi, 11 Maret 1966. Mereka berupaya membubarkan sidang kabinet 100 menteri yang dipimpin oleh Presiden Soekarno.
Di sisi lain, ada juga pasukan tanpa identitas di Lapangan Monas bergerak ke tempat yang sama. Akhirnya, acara sidang kabinet dipersingkat dan Soekarno mengungsi ke Istana Bogor.
ADVERTISEMENT
Setelah sidang berakhir, Amirmachmud bertemu dengan Brigjen Basuki Rachmad, Menteri Veteran, dan Brigjen M Jusuf, Menteri Perindustrian, di Istana Negara bagian Barat. Ketiganya sepakat untuk mendatangi Soeharto di rumahnya sebelum pergi ke Istana Bogor.
Ketika tiba di tempat Soeharto, ia menitipkan surat untuk disampaikan kepada Soekarno. Akhirnya, ketiganya menyampaikan surat tersebut.
Setelah memberi surat untuk Soekarno, ketiganya kembali ke Kostrad. Mereka membawa surat dari Bung Karno yang isinya melimpahkan kekuasaan kepada Soeharto untuk mengamankan situasi.
Isi Supersemar
Mengutip Skripsi Persepsi Guru Sejarah dan Siswa Kelas XIII SMA Negeri Se-Kabupaten Pati Terhadap Munculnya Buku-buku yang Berwacana Pelurusan Sejarah Indonesia Materi Supersemar dan Gerakan 30 September (G30S/PKI) oleh Piko Cahyono (2011:19-20), Supersemar terdiri dari tiga poin, yaitu:
ADVERTISEMENT
(GTT)