Konten dari Pengguna

Sering Memperpanjang/Mengulang Ulang Suara Adalah Gejala Apa? Ini Penjelasannya

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi anak gagap. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi anak gagap. Foto: Shutter Stock

Mengulang perkataan, bunyi, atau suara tertentu terkadang dilakukan secara sengaja. Hal ini kerap dilakukan untuk bercanda, menegaskan sesuatu, atau sekadar menirukan gaya bicara seseorang.

Namun, ada kondisi di mana seseorang sering memperpanjang atau mengulang-ulang suara bukan karena keinginannya, melainkan akibat gangguan medis tertentu.

Hal ini dapat membuat komunikasi menjadi kurang efektif. Alih-alih menyampaikan maksud dengan jelas, ucapan yang berulang bisa membuat lawan bicara merasa bingung, bahkan menghambat interaksi sehari-hari. Alhasil, penderita bisa kehilangan kepercayaan diri hingga mengalami hambatan dalam kehidupan sosialnya.

Sebenarnya, kondisi ini termasuk gejala apa? Simak penjelasannya berikut ini.

Sering Memperpanjang atau Mengulang Ulang Suara Gejala Apa?

Ilustrasi mengulang suara. Foto: Shutter Stock

Kondisi di mana seseorang sering mengulang atau memperpanjang suara secara tidak wajar dikenal sebagai stuttering atau gagap. Mengutip laman National Institutes of Health, gagap adalah gangguan bicara yang ditandai dengan pengulangan suara, suku kata, atau kata, serta pemanjangan bunyi dan jeda saat berbicara.

Sebenarnya, ketidaklancaran berbicara bisa dialami siapa pun. Misalnya, ketika seseorang berhenti sejenak untuk berpikir, ia menggunakan kata pengisi seperti “uh”,“eee,” atau mengulang kata tertentu.

Hal seperti itu memang merupakan disfluensi normal yang umum terjadi. Namun, pada penderita gagap, gangguan ini lebih sering muncul, berlangsung terus-menerus, dan biasanya disertai irama bicara yang tidak wajar.

Menurut laman Great Speech, terkadang, gejala gagap juga disertai dengan perilaku menghindar (seperti enggan berbicara), ketegangan otot berlebihan, atau gerakan tambahan seperti berkedip cepat atau menganggukkan kepala. Selain itu, banyak penderita gagap mengalami dampak psikologis, sosial, maupun emosional akibat kesulitan berkomunikasi.

Tingkat keparahan penderita gagap bisa berbeda-beda, tergantung situasi dan kondisi penderita. Biasanya, gagap memburuk saat berbicara di depan umum atau lewat telepon, namun bisa menghilang sementara saat bernyanyi atau membaca teks.

Faktor Penyebab Gagap

Ilustrasi balita sulit diajak komunikasi. Foto: Shutterstock

Para ahli menjelaskan bahwa gagap dapat muncul karena berbagai faktor, mulai dari proses perkembangan bicara dan bahasa pada anak hingga kondisi medis maupun emosional tertentu.

Dikutip dari laman Mayo Clinic, secara umum penyebab gagap dapat dikelompokkan menjadi dua kategori utama, yaitu:

1. Gagap Perkembangan (Developmental Stuttering)

Jenis gagap ini paling sering muncul pada anak-anak saat mereka sedang melalui tahap perkembangan bicara dan bahasa. Faktor yang memengaruhinya yaitu:

  • Masalah motorik bicara: Gangguan pada pengaturan waktu, koordinasi motorik, maupun sensorik.

  • Faktor genetik: Gagap sering kali diturunkan dalam keluarga. Perubahan gen yang diwariskan dari orang tua ke anak bisa menjadi salah satu penyebabnya.

2. Gagap karena Faktor Lain

Selain developmental stuttering, ada beberapa kondisi lain yang bisa mengganggu kelancaran bicara, seperti:

  • Gagap neurogenik (Neurogenic Stuttering): Dipicu oleh stroke, cedera otak, atau gangguan saraf tertentu.

  • Tekanan emosional: Perasaan gugup, cemas, atau tertekan dapat memperburuk kelancaran bicara.

  • Gagap psikogenik (Psychogenic Stuttering): Muncul setelah seseorang mengalami trauma emosional, namun kasus ini relatif jarang.

Baca Juga: Cara Menghilangkan Benjolan dengan Bawang Putih dan Bahan Alami Lainnya

(ANB)