Sering Tertawa Sambil Menangis? Ketahui Penyebab dan Cara Mengobatinya

Menyajikan informasi terkini, terbaru dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle dan masih banyak lagi.
Konten dari Pengguna
13 Mei 2022 11:11
·
waktu baca 3 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Sering Tertawa Sambil Menangis? Ketahui Penyebab dan Cara Mengobatinya (7912)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi tertawa sambil menangis. Foto: Unsplash
Tertawa sambil menangis adalah salah satu kondisi yang dialami seseorang yang dipengaruhi oleh beberapa faktor tertentu. Namun, apabila kondisi ini sering dialami, hal tersebut harus diwaspadai. Sebab, kondisi tersebut bisa saja mengidentifikasikan sebuah penyakit yang harus diobati.
ADVERTISEMENT
Dijelaskan dalam buku Majalah Inspirasi Vol XV No.1 terbitan SMA Muhammadiyah 1 Gresik bahwa seseorang yang sering tertawa sambil menangis tanpa terkendali, bisa saja ia mengalami Pseudobulbar Affect (PBA) atau yang lebih dikenal dengan istilah penyakit Joker.
PBA ini lebih cenderung dialami oleh orang-orang dengan cedera neurologis, yakni suatu kondisi yang menyerang bagian sistem saraf (saraf otak, pusat, dan sumsum tulang belakang). Cedera ini menyebabkan penderitanya memiliki respon emosional yang terjadi secara tiba-tiba.
Respon emosional yang terjadi adalah mudah marah, frustasi, atau tertawa dan menangis yang datang secara mendadak. Contoh dari cedera neurologis yakni stroke, alzheimer, parkinson, atau cedera otak yang disebabkan akibat trauma.
Penderita PBA dapat tertawa atau menangis seketika dengan tidak terkendali. Jika kondisi tersebut terjadi pada situasi yang tidak tepat, besar kemungkinan orang-orang yang berada di sekitar akan salah paham dan mengira seseorang tersebut memiliki gangguan kejiwaan.
ADVERTISEMENT
Dengan demikian, PBA ini dapat berdampak besar pada kehidupan mereka yang mengalami kondisi tersebut. Hal ini tentunya dapat menciptakan rasa malu dan kecemasan berlebihan, bahkan menambah beban bagi pasien yang dapat mengakibatkan kondisi menjadi lebih parah.
Bagi mereka yang menderita Pseudobulbar Affect ini, terdapat beberapa pengobatan yang dapat dilakukan untuk meredakan serta mengurangi intensitas kemunculan emosi yang berlebihan. Dari sekian banyak pengobatan, yang paling efektif adalah rutin mengonsumsi obat-obatan dari dokter serta menjalani terapi.
Sering Tertawa Sambil Menangis? Ketahui Penyebab dan Cara Mengobatinya (7913)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi tertawa. Foto: Pixabay

Cara Mengobati Pseudobulbar Affect

Berikut beberapa tindakan pengobatan Pseudobulbar Affect yang dapat dilakukan untuk mengurangi keparahan frekuensi gejala yang dialami. Melansir laman MayoClinic pilihan obat gangguan Pseudobulbar Affect yang dapat diberikan, yaitu:
  1. Antidepresan, untuk membantu mengurangi gejala Pseudobulbar Affect yang dialami. Obat ini tentunya telah diresepkan oleh dokter. Untuk pengobatannya sendiri, jenis obat-obatan ini umumnya diresepkan dengan dosis yang lebih rendah daripada yang digunakan untuk mengobati depresi.
  2. Dextromethorphan hydrobromide dan quinidine sulfate, obat ini adalah salah satu yang telah disetujui langsung oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat yang dirancang khusus untuk mengobati PBA. Selain itu, penderita multiple sclerosis dan ALS yang mengonsumsi obat ini juga terbukti lebih jarang mengalami gejala-gejala penyakitnya.
Sering Tertawa Sambil Menangis? Ketahui Penyebab dan Cara Mengobatinya (7914)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pengaruh PBA. Foto: Pixabay
Selain mengonsumsi obat-obatan atas resep dokter, mereka yang menderita PBA juga dapat diatasi dengan berbagai macam terapi. Hal ini bertujuan untuk membantu meredakan kecemasan yang dialami.
ADVERTISEMENT
Mengutip laman WebMd, berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mengatasinya:
  1. Bicaralah dengan orang-orang yang ada di sekitar tentang kondisi kesehatan mentalmu, baik kepada orang tua, saudara, teman, atau orang terdekat. Hal ini akan membantu penderita tidak kaget atau bingung ketika situasi tersebut terjadi kembali.
  2. Mencari tahu pemicu kondisi yang dimiliki di berbagai sumber baik buku, internet, dan lain sebagainya. Hal ini akan membantu mempermudah kemungkinan perawatan selanjutnya ketika berbicara atau berkonsultasi langsung dengan dokter.
  3. Berbicaralah dengan orang lain yang memiliki kondisi serupa. Mereka tentu akan lebih mengerti bagaimana rasanya atas kondisi yang dimilikinya, sehingga dapat memberikan tips lain yang mungkin dapat membantu untuk meringankannya.
  4. Ubah posisi tubuh. Apabila pasien atau penderita merasakan gejala PBA ini muncul secara tiba-tiba, disarankan untuk mengubah cara duduk atau posisi tubuh.
  5. Coba bernapas secara perlahan dan dalam agar tubuh serta pikiran lebih rileks. Lakukan ini secara terus menerus sampai pasien atau penderita merasa dapat mengendalikan emosi yang dapat memicu gejala PBA.
ADVERTISEMENT
(IMR)
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020