Konten dari Pengguna

Siapa Joko Tingkir Sebenarnya? Ini Kisah dan Biografinya dalam Sejarah Islam

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi biografi Joko Tingkir. Foto: pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi biografi Joko Tingkir. Foto: pixabay

Belakangan ini, lagu Joko Tingkir Ngombe Dawet sedang viral di media sosial. Bahkan, lagu ini juga sering dinyanyikan oleh para artis dan konten kreator di TikTok, Instagram, dan Youtube.

Sekilas, tidak ada yang salah dengan lagu tersebut. Namun jika ditelisik lebih jauh, ternyata sosok “Joko Tingkir” yang dimaksud dalam lagu tersebut merupakan seorang tokoh agama. Ketidakselarasan yang terdapat dalam lirik Joko Tingkir Ngombe Dawet lantas menuai pro dan kontra.

Sebagian masyarakat berpendapat bahwa nama Joko Tingkir yang disematkan dalam lagu tersebut dinilai kurang tepat. Para ulama juga memprotes lirik lagu Joko Tingkir Ngombe Dawet karena dianggap melecehkan tokoh agama.

Menyikapi protes tersebut, pencipta lagu Joko Tingkir epun akhirnya menyampaikan permintaan maaf. Ia mengaku tidak mengetahui bahwa Joko Tingkir merupakan seorang tokoh agama.

Perseteruan ini lantas membuat netizen bertanya-tanya tentang siapa Joko Tingkir yang sebenarnya. Agar lebih mengenalnya, berikut biografi Joko Tingkir selengkapnya yang bisa Anda simak.

Biografi Joko Tingkir

Joko Tingkir merupakan raja pertama dari Kerajaan Pajang. Beliau dikenal dengan nama Raden Mas Karebet yang selanjutnya mendapat gelar sebagai Sultan Hadiwijaya.

Ilustrasi biografi Joko Tingkir. Foto: pixabay

Mengutip buku Sastra dan Anak di Era Masyarakat 5.0 karya Ali Mustafa (2022), Joko Tingkir merupakan menantu dari Sultan Trenggono, Raja Demak. Saat menjabat, beliau dipercaya memegang kekuasaan wilayah Pajang. Kemudian, beliau berhasil mengambil alih kekuasaan dari tangan Arya Penangsang.

Melihat keberhasilan tersebut, akhirnya Joko Tingkir memindahkan pusat Kerajaan Demak ke daerah Pajang. Dalam melaksanakan tugasnya, beliau dibantu oleh Ratu Kalinyamat dan para pengikutnya.

Secara visual, Joko Tingkir digambarkan sebagai sosok prajurit berkulit bersih dengan kumis tipis menghiasi bibirnya. Ia memiliki badan yang kuat dan perawakan yang sangat kekar.

Raden Mas Karebet, sapaan akrabnya, menyelesaikan pendidikannya di sekolah agama milik Sunan Kalijaga, Ki Ageng Sela, dan Ki Ageng Banyubiru. Berkat didikan dari ketiga guru tersebut, Joko Tingkir memiliki pengetahuan agama di atas rata-rata.

Kepiawaiannya dalam menyusun strategi perang menjadikan Joko Tingkir terpilih menjadi komandan teladan di Kesultanan Demak. Karier Joko Tingkir kian melejit usai ia diangkat menjadi sultan di Kerajaan Pajang.

Ilustrasi biografi Joko Tingkir. Foto: pixabay

Pada tahun 1568 M, kedaulatan Kerajaan Pajang mulai diakui. Saat itu, Joko Tingkir dan para adipati yang berada di Jawa timur mengadakan pertemuan di Giri Kedaton.

Dalam pertemuan tersebut, mereka sepakat untuk mengakui kedaulatan Kerajaan pajang. Putri Joko Tingkir pun kemudian dinikahkan dengan Panji Wiryakrama dari Surabaya. Perjodohan ini dilakukan sebagai tanda ikatan politik antara dua kerajaan besar.

Mengutip buku Kerajaan-Kerajaan Nusantara karya Woro Miswati, Joko Tingkir terus berusaha untuk memperluas wilayah kekuasaannya. Akhirnya, beliau pun berhasil menguasai wilayah timur hingga Madiun.

Setelah itu, beliau menaklukkan wilayah Blora pada tahun 1554 M dan Kediri tahun 1577 M. Joko Tingkir mulai mendapat pengakuan sebagai raja Islam pada tahun 1581 M dari para raja di pulau Jawa.

(MSD)

Frequently Asked Question Section

Siapakah Joko Tingkir?

chevron-down

Joko Tingkir merupakan raja pertama dari Kerajaan Pajang.

Siapa nama lain Joko Tingkir?

chevron-down

Raden Mas Karebet atau Sultan Hadiwijaya

Siapa guru Joko Tingkir?

chevron-down

Sunan Kalijaga, Ki Ageng Sela, dan Ki Ageng Banyubiru.