Konten dari Pengguna

Siapa Ruwaibidhah, Golongan yang Merajalela di Akhir Zaman?

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi berbicara di depan publik. Foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi berbicara di depan publik. Foto: Unsplash

Rasulullah SAW diutus oleh Allah SWT sebagai pembawa kabar gembira sekaligus peringatan bagi umat manusia. Dan salah satu peringatan tersebut adalah merajalelanya ruwaibidhah sebagai salah satu tanda akhir zaman.

Di masa tersebut umat manusia dibutakan oleh tipu daya hingga orang-orang yang benar dan berakhlak mulia terpinggirkan. Mengutip buku Fitnah Para Sahabat karya Abu Ahmad Muhammad Bin Hassan (2016: 77), dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata Rasulullah bersabda:

“Akan datang kepada manusia masa bertahun-tahun yang penuh tipuan. Pada waktu itu si pendusta dikatakan benar dan orang yang benar dikatakan pendusta. Pengkhianat akan disuruh memegang amanah dan orang yang amanah dikatakan pengkhianat. Dan yang berkesempatan berbicara hanyalah golongan Ruwaibidhah".

Siapa yang dimaksud Rasulullah sebagai golongan ruwaibidhah?

Makna Ruwaibidhah dalam Hadits Rasululllah

Ilustrasi berbicara di depan publik. Foto: Unsplash

Istilah ruwaibidhah dalam hadits diterjemahkan secara beragam. Mengutip Abu Ahmad Muhammad Bin Hassan (2016), Rasulullah menjelaskan bahwa ruwaibidhah adalah orang yang kerdil jiwanya, hina, dan tidak mengerti bagaimana mengurus banyak orang.

Sedangkan dalam buku Tamasya ke Negeri Akhirat tulisan Syaikh Mahmud Al-Mishri (2014: 351), ruwaibidhah merupakan laki-laki yang rusak dan ikut berbicara tentang masyarakat umum. Senada dengan ini, dalam The Harmony of Humanity karya Raghib As-Sirjani, ruwaibidhah didefinisikan sebagai orang pandir yang berbicara perihal urusan orang banyak.

Dengan demikian ruwaibidhah dapat dipahami sebagai orang bodoh yang tidak memiliki ilmu memadai, namun ikut campur dalam urusan masyarakat luas.

Ilustrasi mimbar masjid. Foto: Shutterstock

Mengutip Sekali Lagi Menyikapi Fenomena Ruwaibidhah tulisan Muhsin Hariyanto, orang-orang tersebut mencitrakan diri sebagai seorang pakar dan berdusta tentang kebenaran yang disampaikannya. Karena kehebatannya dalam beretorika dan membangun citra, ia tampil sebagai maestro pada bidangnya.

Apa yang mereka katakan dianggap benar oleh para pengikutnya sehingga memiliki dampak yang luas. Padahal Allah secara jelas memperingatkan agar umat-Nya tidak mengikuti orang-orang yang tidak berilmu.

"Janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak punya ilmu tentangnya, sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, itu semua akan dimintai pertanggung-jawabannya" (QS al-Israa’: 36).

Terkadang kemunduran suatu kelompok masyarakat disebabkan karena mereka menaruh kepercayaan pada orang yang sebenarnya tidak memiliki kualitas ilmu dan akhlak yang baik. Misalnya mengagung-agungkan seseorang yang memusuhi Islam dan kaum muslimin dan tidak mau lagi mengikuti nasehat para ulama.

Oleh sebab itu dalam memilih pemimpin, hendaknya umat Muslim mempertimbangkan kualifikasi yang dimiliki orang yang bersangkutan, baik dari segi ilmu, amanah, dan kejujurannya.

Frequently Asked Question Section

Apa yang Dimaksud Ruwaibidhah?

chevron-down

Ruwaibidhah adalah orang bodoh yang menampilkan dirinya sebagai pakar namun sebenarnya tidak memiliki ilmu memadai dan ikut campur dalam urusan masyarakat.

Contoh Tanda Akhir Zaman

chevron-down

Salah satu tanda akhir zaman adalah orang yang berilmu tidak diikuti, pendusta dipercaya, dan orang yang amanah dituduh pengkhianat.

Dalil Perintah Mendalami Ilmu

chevron-down

Salah satu dalil yang berisi perintah agar manusia mendalami ilmu adalah surat Al Isra ayat 36.

(ERA)