Konten dari Pengguna

Siapakah Waliyullah yang Bergelar Hujjatul Islam? Ini Jawabannya

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi siapakah waliyullah yang bergelar Hujattul Islam. Foto: pexels
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi siapakah waliyullah yang bergelar Hujattul Islam. Foto: pexels

Dalam Islam, selain nabi dan rasul, dikenal pula istilah waliyullah atau wali Allah SWT. Mereka adalah hamba-hamba pilihan yang selalu mengamalkan ajaran-Nya dan senantiasa bepegang teguh pada kebenaran yang dibawa oleh para rasul.

Meski jumlahnya tak terhingga dan hanya Allah SWT yang mengetahuinya, ada beberapa waliyullah yang dikenal luas karena keistimewaannya. Dari sekian banyak waliyullah, salah satu sosoknya mendapatkan gelar Hujjatul Islam.

Waliyullah ini dikenal memiliki daya ingat yang tajam dan kebijaksanaan luar biasa dalam berargumentasi. Siapa sebenarnya waliyullah yang bergelar Hujjatul Islam? Simak artikel ini untuk mengetahui sosoknya!

Waliyullah yang Bergelar Hujjatul Islam

Ilustrasi mengenal waliyullah yang bergelar Hujjatul Islam. Foto: Unsplash/Ed Us

Gelar Hujjatul Islam berasal dari frasa hujjah al-Islam yang berarti pembela Islam. Dalam bahasa Arab, hujjah sendiri bermakna argumen.

Gelar ini diberikan kepada sosok yang membela prinsip kebenaran Islam dengan argumen yang kokoh dan sulit dipatahkan. Lalu, siapakah waliyullah yang bergelar Hujjatul Islam?

Mengutip buku Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali oleh Shalih Ahmad al-Syami, waliyullah yang mendapatkan gelar Hujjatul Islam adalah Al-Ghazali. Ia dikenal sebagai sosok istimewa yang menguasai berbagai disiplin ilmu, termasuk fikih, ushul, akhlak, pendidikan, dan ekonomi.

Tak hanya itu, dalam buku Hujjatul Islam Al-Imam Al-Ghazali oleh Ustaz Wildan Jauhari, dijelaskan bahwa Al-Ghazali juga memiliki jasa besar dalam membela Islam. Ia menggunakan argumen rasional (dalil akal) dan tekstual (dalil naql) untuk menghadapi para filsuf sekuler anti-Tuhan.

Dalam buku berjudul Tahafut al-Falasifah, Al-Ghazali dengan tegas membantah beberapa pandangan kaum filsuf yang dianggapnya menyimpang dari akidah Islam. Para filsuf tersebut berpendapat bahwa alam tidak memiliki permulaan dan akhir, kebangkitan di akhirat bersifat rohani semata, dan Allah SWT tidak mengetahui hal-hal yang bersifat parsial dan terperinci di alam ini.

Al-Ghazali menanggapi pandangan ini dengan argumen logis yang dilandaskan pada Al-Qur'an dan sunnah. Dengan analisis mendalam, ia menunjukkan bahwa pemikiran para filsuf ini tidak hanya keliru, tetapi juga menyesatkan dari kebenaran Islam.

Baca Juga: Arti Waliyullah dan Tanda-tandanya yang Perlu Diketahui

Biografi Singkat Imam Al-Ghazali

Ilustrasi mengenal Al-Ghazali. Foto: pexels

Al-Ghazali adalah salah satu tokoh yang berperan besar dalam pengembangan pendidikan Islam. Sosok bernama lengkap Abu Hamid Muhammad bin Muhammad at-Tusi al-Ghazali ini dikenal sebagai pemikir, filosof, dan sufi terkemuka dalam sejarah Islam.

Menyadur skripsi berjudul Konsep Tazkiyatun Nafs Menurut Al-Ghazali dalam Pendidikan Akhlak oleh Arfandi Zainurohmad, IAIN Kediri, Al-Ghazali lahir di kota Thus pada pertengahan abad ke-5 Hijriah, tepatnya pada tahun 1058 Masehi.

Sejak kecil, Al-Ghazali sudah memperlihatkan kecintaannya pada ilmu pengetahuan. Pendidikan pertamanya ia dapatkan dari keluarganya sendiri. Ia belajar Al-Qur'an dan nilai-nilai agama dari sang ayah.

Di usia tujuh tahun, Al-Ghazali melanjutkan pendidikan ke madrasah di Thus. Di sana, ia memperdalam ilmu fikih, sejarah para wali, syair-syair cinta kepada Allah SWT, serta tafsir Al-Qur'an dan hadis.

Seiring berjalannya waktu, semangatnya dalam mencari ilmu semakin besar. Ia pun berkelana ke berbagai tempat, seperti Jurjan, madrasah Nizamiyah di Naisabur, dan lainnya.

Al-Ghazali kemudian berkarier sebagai pengajar di madrasah untuk menyebarkan ilmu yang diperolehnya kepada generasi penerus. Selain mengajar, ia aktif menulis karya-karya besar, beramal, dan memperbanyak ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Al-Ghazali menyadari bahwa ilmu tanpa amal tidak akan berarti apa-apa. Ia juga meyakini bahwa segala yang dimilikinya adalah titipan Allah SWT yang harus dimanfaatkan sebaik-baiknya selama di dunia.

Di masa tuanya, Al-Ghazali memutuskan untuk menempuh jalan menjadi seorang sufi. Ia meyakini bahwa tasawuf adalah jalan terbaik menuju kebenaran hakiki.

(NSF)