Konten dari Pengguna

Struktur Teks Anekdot yang Benar, Begini Susunannya!

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi struktur teks anekdot yang benar adalah. Foto: Unsplash.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi struktur teks anekdot yang benar adalah. Foto: Unsplash.

Teks anekdot merupakan salah satu jenis teks yang ditulis untuk menghibur serta memberikan pesan moral atau kritik sosial. Biasanya teks ini didasarkan pada pengalaman nyata, namun dikemas dengan humor yang berguna untuk menyampaikan sindiran.

Struktur teks anekdot yang benar terdiri dari abstraksi, orientasi, krisis, reaksi, dan koda. Lalu, bagaimana penyusunannya? Simak pembahasan lengkapnya dalam artikel berikut!

Struktur Teks Anekdot yang Benar Adalah?

Ilustrasi struktur teks anekdot yang benar adalah. Foto: Unsplash.

Dikutip dari e-Modul Bahasa dan Sastra Indonesia (2019) oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, anekdot adalah cerita singkat yang menarik, lucu, dan mengesankan. Teks ini biasanya membahas orang penting atau terkenal, lalu didasarkan pada kejadian nyata. Struktur teks anekdot yang benar adalah terdiri dari lima bagian, yaitu:

  1. Abstraksi: Teks anekdot diawali dengan abstrak yang berisi uraian ringkas tentang objek atau hal yang hendak disindir atau dikritik.

  2. Orientasi: Cerita dilanjutkan dengan pengenalan terhadap pelaku dan peristiwa.

  3. Krisis: Memuat tahapan peristiwa dan cerita mulai memuncak dan hampir menuju ke penyelesaian.

  4. Reaksi: Jawaban terhadap permasalahan yang diajukan pada tahap krisis. Bagian ini merupakan inti kritik yang memuat unsur lucu atau mengesankan.

  5. Koda: Berisi penutup berupa penegasan terhadap hal yang dikritik atau disindir.

Selain struktur, penulisan teks anekdot juga memiliki ciri khas tata bahasa yang membedakannya dengan teks lain. Berikut unsur kebahasaan teks anekdot yang umum digunakan:

  • Menggunakan kalimat yang menyatakan peristiwa masa lalu.

  • Menggunakan kalimat retoris, yaitu kalimat pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban.

  • Menggunakan konjungsi yang menyatakan hubungan waktu, seperti kemudian dan lalu.

  • Menggunakan kata kerja aksi, seperti menulis, membaca dan berjalan.

  • Menggunakan kalimat perintah.

  • Menggunakan kalimat seru. Khusus untuk anekdot yang disajikan dalam bentuk dialog, penggunaan kalimat langsung sangat dominan.

Contoh Teks Anekdot

Ilustrasi struktur teks anekdot. Foto: Unsplash.

Dikutip dari Buku Ajar Bahasa Indonesia (2024) oleh Fitri Itut Rahayu dan e-Modul Bahasa dan Sastra Indonesia (2019) oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, berikut contoh teks anekdot yang sesuai dengan struktur dan kaidah kebahasaan.

Teks Anekdot 1

Pada suatu hari seorang yang kaya raya mengendarai mobilnya di suatu pedesaan. Ia menghentikan mobilnya ketika ia melihat ada seorang ibu sedang memakai rumput.

Ia bertanya pada ibu itu mengapa ia memakai rumput. Ibu itu dengan sedih berkata, "Ya saya sangat miskin, saya sudah tidak punya apa-apa lagi untuk dimakan."

"Kalau begitu ayo ikut aku ke rumahku."

"Tetapi saya mempunyai tujuh orang anak."

"Dimana mereka?"

Ibu untuk menunjuk ke suatu tempat. Di situ ia melihat ada tujuh orang anak yang juga sedang memakai rumput.

"Ayo ajak mereka sekalian." Mereka pun masuk ke mobil orang kaya itu. Ibu itu yang merasa terharu akan kebaikan orang itu bertanya,"Pak, apa yang mendorong bapak begitu baik untuk mengajak kami semua?"

Orang itu hanya menjawab, “Kebetulan rumput di rumah saya sudah panjang-panjang.”

Teks Anekdot 2

Setelah lulus dari ujian negara di Beijing, seorang pria muda ditunjuk sebagai pejabat pemerintahan ibu kota provinsi. Dia pergi untuk mengucapkan selamat tinggal kepada mentornya, yang merupakan seorang menteri pemerintahan senior.

“Bekerja di lokasi provinsi seperti itu tidaklah mudah. Kamu harus berhati-hati,” kata sang mentor.

“Baiklah. Terima kasih Bapak,” kata anak muda itu.

“Mohon jangan khawatir. Saya telah menyiapkan seratus ungkapan semanis madu di benak saya. Kalau nanti saya bertemu dengan pejabat di sana, saya akan menggunakannya. Dia pasti akan senang.”

“Bagaimana kamu dapat melakukan hal itu?” tanya mentor itu dengan tidak senang. “ Kita adalah pria sejati. Kita mempunyai prinsip. Kita seharusnya tidak menggunakan sanjungan.”

Sang murid menjawab. “Namun, pada kenyataannya kebanyakan orang senang disanjung, Pak. Hanya beberapa pria yang benar-benar sejati seperti Anda yang tidak menyukai sanjungan.

“Mungkin kamu benar,” mentornya mengangguk sambil tersenyum. Kemudian, pria ini menceritakan cerita ini kepada temannnya.

“Saya sudah menggunakan satu dari persediaanku. Sekarang saya memiliki sembilan puluh sembilan ungkapan yang tersisa.”

(FHK)

Baca juga: Hikayat Termasuk ke dalam Jenis Teks Narasi, Berikut Penjelasan Lengkapnya