Surat Al Kafirun Ayat 6: Penegasan bahwa Islam Agama yang Toleran

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Islam tidak hanya mengakui perbedaan, tetapi juga menghormatinya. Sebagaimana firman Allah dalam surat Al Kafirun ayat 6 yang berbunyi:
لَكُمْ دِيْنُكُمْ وَلِيَ دِيْنِ
Artinya: "Untukmu agamamu, dan untukku agamaku."
Menurut Zubdatut dalam Tafsir Min Fathil Qadir, setiap maksud ayat tersebut adalah, "Jika kalian telah rela dengan agama kalian, maka aku juga telah rela dengan agamaku. Dan agama kemusyrikan kalian itu hanya bagi kalian dan tidak akan mempengaruhiku; begitu pula agama ketauhidanku hanya bagiku dan tidak akan sampai kepada kalian pahalanya."
Dalam buku Manokwari Kota Injil: Nilai-Nilai Pluralisme Agama Masyarakat Prafi oleh Muh Huzain dkk, surat Al Kafirun ayat 6 menggambarkan bahwa Islam sangat komunikatif dalam memahami perbedaan keyakinan, kepercayaan, kebangsaan, dan kebudayaan. Islam juga telah mengatur dengan sempurna kaidah-kaidah dalam menyikapi perbedaan tanpa menghilangkan prinsip dan keyakinan dalam Islam.
Haris Muhammad dalam buku Menuju Islam Moderat menyatakan, Islam merupakan agama yang toleran terhadap perbedaan. Sebab, secara garis besar, isi kandungan surat Al Kafirun ayat 6 ini membuktikan bahwa nilai-nilai ajaran Islam sangat universal.
Kandungan Surat Al Kafirun ayat 6
Isi kandungan surat Al Kafirun ayat 6, dikutip dari Tafsir Kementerian Agama (Kemenag), yaitu:
Allah menjelaskan bahwa terdapat perbedaan besar antara sifat-sifat Tuhan yang disembah oleh umat Nabi Muhammad SAW dan Tuhan yang disembah oleh orang-orang kafir. Sebab, Allah SWT adalah Tuhan Yang Maha Esa dan tidak beranak maupun diperanakkan.
Berkaitan dengan perbedaan sifat Tuhan, ayat ini juga menjelaskan soal adanya perbedaan dalam bentuk pelaksanaan ibadah.
Melalui surat Al Kafirun ayat 6, Allah SWT menekankan masalah toleransi antarumat beragama. Hal ini dilakukan melalui pengerjaan ibadah sesuai dengan ketentuan agama masing-masing tanpa mencampuradukkan urusan keduanya.
Sedangkan menurut Tafsir Ibnu Katsir, isi kandungan surat Al Kafirun ayat 6 pada dasarnya berisi tentang perintah Allah SWT kepada umat Islam untuk menjauhkan diri dari segala bentuk kemusyrikan. Hal ini termasuk menyerupai bentuk ibadah dari orang-orang kafir, sebagaimana dijelaskan dalam hadist berikut:
Dari Ibnu Jabalah diceritakan bahwa ia pernah berkata kepada Rasulullah SAW, "Wahai Rasulullah, ajarilah aku sesuatu yang aku akan baca di saat hendak tidurku." Rasulullah SAW menjawab:
إِذَا أَخَذْتَ مَضْجَعَكَ مِنَ اللَّيْلِ فَاقْرَأْ قُلْ يَا أَيُّهَا الْكافِرُونَ فَإِنَّهَا بَرَاءَةٌ مِنَ الشِّرْكِ
Artinya: “Apabila engkau telah berada di peraduanmu di malam hari, maka bacalah Qul Ya Ayyuhal Kafirun, karena sesungguhnya surat ini merupakan pembebasan dari kemusyrikan.” (HR. Ibnu Jabalah)
(NDA)
