Konten dari Pengguna

Syarat Terjadinya Interaksi Sosial dalam Kehidupan Bermasyarakat

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi pelaku interaksi sosial dalam kehidupan bermasyarakat. Sumber: Freepik.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pelaku interaksi sosial dalam kehidupan bermasyarakat. Sumber: Freepik.com

Dalam kehidupan bermasyarakat, interaksi sosial adalah sesuatu yang pasti terjadi. Sebab, manusia merupakan makhluk sosial yang saling membutuhkan satu sama lain.

Interaksi sosial adalah hubungan timbal balik berupa aksi yang saling mempengaruhi antarindividu, individu dan kelompok, atau antarkelompok. Interaksi tersebut melibatkan aspek sosial dan kemanusiaan kedua pihak seperti emosi, fisik, dan kepentingan.

Bentuk interaksi sosial dibedakan menjadi dua macam, yakni asosiatif dan disosiatif. Dikutip dari IPS Terpadu (Sosiologi, Geografi, Ekonomi, Sejarah) oleh Nana Supriatna, bentuk interaksi sosial asosiatif mengarah pada hal positif, seperti kerjasama, akomodasi, asimilasi, dan adaptasi. Sedangkan bentuk interaksi sosial disosiatif mengarah pada hal negatif, seperti persaingan dan kontravensi.

Terjadinya interaksi sosial bisa dikenali dari ciri-cirinya. Dikutip dari Sosiologi Jilid 1 oleh Kun Maryatieorang, sosiolog Amerika, Charles P.Loomis, menyebutkan ciri-ciri terjadinya sebuah interaksi sosial, yaitu:

  1. Jumlah pelaku dua orang atau lebih.

  2. Adanya komunikasi antarpelaku dengan menggunakan simbol atau lambang.

  3. Adanya suatu dimensi waktu yang meliputi masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang.

  4. Adanya tujuan yang hendak dicapai sebagai hasil dari interaksi tersebut.

Syarat Terjadinya Interaksi Sosial

Interaksi sosial hanya bisa terjadi jika memenuhi dua syarat. Soerjono Soekanto, sosiolog asal Indonesia, menyatakan bahwa dua syarat terjadinya interaksi sosial adalah kontak sosial dan komunikasi.

Ilustrasi pelaku interaksi sosial dalam kehidupan bermasyarakat. Sumber: Freepik.com

1. Kontak Sosial

Kontak sosial adalah pertemuan kedua belah pihak. Pertemuan ini tidak selalu berupa pertemuan secara fisik. Orang bisa melakukan pertemuan dengan pihak lain tanpa menyentuhnya. Misalnya, bertemu melalui media telekomunikasi seperti telepon, radio, maupun surat elektronik. Kontak sosial memiliki sifat-sifat berikut:

  • Kontak sosial bisa bersifat positif atau negatif. Kontak sosial positif mengarah pada suatu kerjasama, sedangkan kontak sosial negatif mengarah pada konflik.

  • Kontak sosial dapat bersifat primer dan sekunder. Kontak sosial primer terjadi apabila peserta interaksi bertatap muka secara langsung. Sedangkan, kontak sosial sekunder terjadi apabila interaksi berlangsung melalui perantara, seperti percakapan melalui telepon.

2. Komunikasi

Komunikasi merupakan syarat utama terjadinya interaksi sosial. Tanpa komunikasi, kontak sosial tidak berarti apa-apa dan tidak akan terjadi interaksi sosial.

Komunikasi adalah kegiatan saling menafsirkan perilaku baik melalui pembicaraan, gerakan-gerakan fisik atau sikap, dan perasaan-perasaan yang disampaikan. Dalam komunikasi, ada lima unsur pokok yang harus disettakan.

  • Komunikator, adalah orang yang menyampaikan pesan, perasaan, atau pikiran kepada pihak lain.

  • Komunikan, adalah pihak yang menerima pesan, pikiran, atau perasaan.

  • Pesan, yaitu sesuatu yang disampaikan oleh komunikator, bisa berupa informasi, instruksi, dan perasaan.

  • Media, adalah alat untuk menyampaikan pesan, bisa berupa lisan, tulisan, gambar, dan film.

  • Efek, yaitu perubahan yang diharapkan terjadi pada komunikan setelah mendapatkan pesan dari komunikator.

Untuk menjalin komunikasi, ada tiga tahap yang akan dilalui oleh pelaku interaksi sosial, yakni encoding, penyampaian, dan decoding.

Pada tahap encoding, pesan atau gagasan yang akan disampaikan diubah terlebih dahulu dalam bentuk kalimat atau gambar yang dipahami oleh komunikan. Kemudian, tahap selanjutnya adalah tahap penyampaian di mana kalimat atau gambar tersebut berjalan melalui proses pengiriman.

Tahap terakhir adalah decoding, yaitu proses menafsirkan dan mencerna kalimat atau gambar yang dikirimkan menjadi inti gagasan atau pesan. Setelah tahap decoding, efek atau perubahan pada komunikan terjadi sebagai respons dari pesan tersebut.

(ULY)