Tata Cara Adzan dan Iqomah Beserta Bacaannya Sesuai Tuntunan Syariat

Menyajikan informasi terkini, terbaru dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle dan masih banyak lagi.
Konten dari Pengguna
14 Maret 2021 9:23
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Seorang imam masjid Al-Noor di Christchurch mengumandangkan adzan di Taman Hagley masjid Al-Noor, Selandia Baru, Jumat, (22/3). Foto: REUTERS / Edgar Su
zoom-in-whitePerbesar
Seorang imam masjid Al-Noor di Christchurch mengumandangkan adzan di Taman Hagley masjid Al-Noor, Selandia Baru, Jumat, (22/3). Foto: REUTERS / Edgar Su
ADVERTISEMENT
Adzan merupakan penanda waktu sholat untuk umat Islam di seluruh dunia. Sejak dikumandangkan pertama kali oleh Bilal bin Rabbah pada tahun pertama Hijriyah, adzan menghiasi keseharian umat Islam hingga saat ini. Lantunan kalimat indah yang menggugah iman tersebut bahkan telah ditiupkan oleh orangtua ke telinga bayi ketika lahir.
ADVERTISEMENT
Beberapa saat setelah adzan sholat, muadzin akan mengumandangkan iqomah. Iqomah secara bahasa berasal dari Bahasa Arab aqaama–yuqiimu–iqaamatan yang artinya “mendirikan”. Ini merupakan pemberitahuan kepada jamaah agar siap-siap berdiri karena sholat akan segera dilaksanakan.
Mengutip buku Dahsyatnya Adzan karya M. Syukron Maksum (2010: 24) adzan dan iqomah menurut Mazhab Hambali hukumnya fardhu kifayah untuk sholat lima waktu. Ketetapan ini bersandar pada hadits Rasulullah SAW yang berbunyi:
“Jika telah masuk waktu sholat, maka adzan salah seorang di antara kalian dan imamlah orang yang lebih tua di antara kalian”.
Begitu pentingnya adzan, sehingga pengumandangannya pun tidak boleh dilakukan secara sembarangan. Oleh sebab itu, simak panduannya berikut ini:

Syarat Adzan dan Iqomah

Muadzin sedang mengumandangkan adzan isya di Masjid Raya Bandung, Jawa Barat. Foto: Antara/Raisan Al Farisi
zoom-in-whitePerbesar
Muadzin sedang mengumandangkan adzan isya di Masjid Raya Bandung, Jawa Barat. Foto: Antara/Raisan Al Farisi
Syarat adzan mutlak diketahui oleh muadzin dan imam sholat. Berikut ini adalah syarat-syarat adzan dan iqomah yang dianjurkan Rasulullah SAW:
ADVERTISEMENT
  • Telah masuk waktu sholat
  • Berniat
  • Menggunakan Bahasa Arab
  • Didengar oleh jamaah, atau didengar diri sendiri jika sedang sendirian
  • Wajib dikumandangkan secara urut sesuai lafal-lafal yang ada agar makna adzan tidak menjadi kacau.
  • Cukup dikumandangkan oleh seorang muadzin

Syarat Muadzin

Adapun syarat muadzin menurut buku Risalah Tuntunan Shalat Lengkap tulisan Moh. Rifa’i (1976) dan Buku Pintar Shalat karya M. Khalilurrahman Al Mahfani (2008: 43) adalah:
  • Beragama Islam
  • Sudah mencapai akil baligh dan mumayiz (bisa membedakan yang baik dan yang buruk)
  • Muadzin adalah laki-laki
  • Adzan diserukan setelah masuk waktu sholat
  • Kalimat adzan dan iqomah berdasarkan contoh Rasulullah dan tidak diselingi kalimat-kalimat lain.
  • Suci dari hadats. Makruh bagi orang yang berhadats kecil atau besar.
  • Disunnahkan menyerukan adzan dengan suara yang nyaring dan merdu.

Tata Cara Adzan dan Iqomah

Mengutip buku Panduan Shalat Lengkap tulisan Muh. Mu'inudinillah Basri (2008: 27), berikut ini adalah ketentuan adzan dan iqomah:
ADVERTISEMENT
  • Suci dari hadas kecil maupun besar
  • Berdiri menghadap kiblat
  • Memasukkan kedua anak jari ke kedua lubang telinga
  • Melambatkan bacaan adzan serta memisahkan tiap-tiap dua kalimat dan berhenti sebentar.
  • Untuk iqomah, bacaan dipercepat.
  • Menoleh ke kanan dengan kepala, leher, dan dada ketika mengucapkan “Hayya ‘alash-shalah”, dan menoleh ke kiri ketika mengucapkan “Hayya ‘alal falah”.
  • Antara adzan dan iqomah diberi jeda waktu untuk sholat sunnah dan menunggu jamaah yang lain.
  • Tidak berbicara hingga iqomah.
  • Wanita hanya boleh adzan dan iqomah jika seluruh jamaah dan imam adalah wanita, dan tidak boleh menggunakan pengeras suara yang bisa terdengar oleh para lelaki di luar jamaah tersebut.

Bacaan Adzan

الله اكَْبَرُ الله اكَْبَر الله اكَْبَرُ الله اكَْبَرُ
Allahu Akbar, Allahu Akbar! (2×)
(Allah Mahabesar, Allah Mahabesar)
ADVERTISEMENT
اَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ اِلآَ اَللهُ اَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ اِلآَ اَللهُ
Asyhadu alla Ilaaha illallah (2×)
(Aku bersaksi tiada Ilah yang haq disembah selain Allah)
اَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُو لُ الله
Asyadu anna Muhammadar Rasulullah (2×)
(Aku bersaksi bahwa Muhammad Rasul Allah)
حَيَّ عَلَى الصَّلاَة حَيَّ عَلَى الصَّلاَة
Hayya ‘alash-shalah (2×)
(Mari kita shalat)
حَيَّ عَلَى الفَلاَح حَيَّ عَلَى الفَلاَح
Hayya ‘alal falah (2×)
(Mari menuju kebahagiaan)
الله اكَْبَرُ الله اكَْبَرُ
Allahu Akbar, Allahu Akbar
(Allah Mahabesar, Allah Mahabesar)
لاَ إِلَهَ اِلآَ اَلله
Laa Ilaaha illallah’
(Tidak ada ilah yang haq disembah selain Allah)
Pada waktu adzan shalat Subuh, setelah hayya ‘alal falah’ disyariatkan untuk ditambahi lafadz ‘Ash shalaatu khairum-minan naum’ sebanyak 2 kali. Artinya adalah “Sholat itu lebih baik daripada tidur”.
ADVERTISEMENT

Bacaan Iqomah

Allaahu Akbar, Allaahu Akbar
Asyhadu allaa ilaaha illallaah
Asyhadu anna Muhammadar Rasulullaah
Hayya alash Shalaah
Hayya alal Falaah
Qad qaamatish-shalaah ( 2 X )
Allaahu Akbar, Allaahu Akbar
Laa ilaaha illallaah
(ERA)
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020