Konten dari Pengguna

Tata Cara Melarung Abu Jenazah dalam Agama Hindu

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi ngaben massal Foto: ANTARA FOTO/Fikri Yusuf
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi ngaben massal Foto: ANTARA FOTO/Fikri Yusuf

Dalam keyakinan umat Hindu, setelah seseorang meninggal, tubuhanya akan dikremasi kemudian abunya dilarung ke laut sebagai bentuk penghormatan terhadap almarhum. Tata cara melarung abu jenazah diatur sedemikian rupa dan dilakukan oleh kerabat dekat.

Merujuk laman Funeral Partners, bagi umat Hindu, jasad seseorang yang telah meninggal tidak ada gunanya lagi, sehingga lebih baik dikremasi dan dilarungkan ke laut. Prosesi ini juga dipercaya sebagai cara tercepat untuk melepaskan jiwa seseorang untuk kembali reinkarnasi.

Dalam prosesi ini, pelayat dianjurkan untuk memakai pakaian putih. Khusus untuk wanita harus berpakaian sopan, dengan kain menutup lengan dan lutut.

Tata Cara Melarung Abu Jenazah

Ilustrasi Ngaben. Foto: Nyoman Hendra Wibowo/ANTARA FOTO

Upacara kremasi hingga pelarungan abu jenazah umat Hindu di Bali dikenal dengan nama Ngaben. Ritual ini dilakukan untuk mempersiapkan arwah menuju surga.

Dikutip dari jurnal Komodifikasi Upacara Ngaben Pada Masyarakat Hindu di DKI Jakarta (Kajian Bentuk, Makna, dan Implikasi) susunan Untung Suhardi, berikut ini tahapan inti dalam upacara Ngaben:

  • Memandikan jenazah: Apabila meninggal dunia di rumah sakit atau di rumah sendiri, pemandian bisa langsung bisa ditangani oleh rohaniawan sesuai ketentuan yang berlaku.

  • Memakai kain atau busana: Kain yang sudah disiapkan ditaruh di bawah jenazah. Kemudian kain kiri menutup kain sebelah kanan.

  • Memasukkan jenazah ke dalam peti: Jenazah dibaringkan dalam peti dengan bagian kepala diberi bantal.

  • Menyuguhkan Saji Tarpana: Menyuguhkan sesaji tarpana di rumah atau di tempat perabuan atau kremasi.

  • Doa atau Persembahyangan: Setelah upacara menyuguhkan tarpana selesai, sanak keluarga dan kerabat terdekat melaksanakan sembahyang bersama.

  • Mengantar Jenazah Menuju Tempat Perabuan: Peti jenazah dibawa dengan bagian kepala di depan. Jalannya perlahan-lahan dan sepanjang jalan ditaburkan bunga.

  • Persiapan Pemperabukan Jenazah: Jenazah diletakkan di tempat yang telah disiapkan, lalu peti dan kain pocongannya kembali dibuka. Rohaniawan memercikkan tirtha pengentas lalu pocongan dirapikan dan peti ditutup kembali.

  • Memperabukan Jenazah: Peti jenazah diangkat lalu diputar sebanyak 3 kali (purwa daksina) mengelilingi tempat perabuan. Setelah itu, peti jenazah dibakar sambil diiringi kidung-kidung suci umat Hindu.

  • Upacara Ngirim: Setelah seluruh jenazah menjadi abu, dilakukan pemujaan lalu jenazah diusung dan diputar sebanyak 3 kali. Selanjutnya, abu jenazah dibawa menuju laut untuk dilarung.

  • Upacara Prayascita: Setelah selesai melarungkan abu, semua umat Hindu yang ikut proses upacara dipercikkan tirtha prayascita.

  • Upacara di Rumah Duka: Membaca doa pengantar arwah selama tiga malam. Kemudian pada hari ketiga dilakukan penyucian rumah.

Mengutip laman Funeral Partners, secara umum masa berkabung umat Hindu berkisar dari 10-30 hari. Selama ini, keluarga mungkin memajang foto almarhum dengan hiasan karangan bunga di rumah. Pelayat diperbolehkan untuk mengunjungi keluarga almarhum dalam periode waktu ini.

Pada hari ke-13 setelah kematian, biasanya keluarga yang berduka akan mengadakan upacara preta-karma untuk membantu melepaskan jiwa orang yang meninggal untuk reinkarnasi.

(DEL)