Teks Khutbah Idul Fitri: Membangun Optimisme di Tengah Pandemi COVID-19

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Khutbah Idul Fitri hukumnya sunnah, tidak seperti khutbah Jumat yang termasuk ke dalam rukun shalat Jumat. Meski tidak berdosa apabila ditinggalkan, hendaknya khutbah setelah shalat Id tetap dilaksanakan untuk mendulang pahala di Hari Kemenangan.
Selain itu, khutbah merupakan kesempatan untuk menyampaikan nilai-nilai kebaikan yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Para ulama mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hambali juga menganjurkan agar jamaah tidak langsung beranjak usai shalat, meski mendengarkan khutbah hukumnya tidak wajib.
Nah, berikut ini adalah contoh teks khutbah Idul Fitri berjudul “Membangun Optimisme di Tengah Pandemi COVID-19” yang disusun Dr. KH.M. Hamdan Rasyid, pengasuh Pesantren Baitul Hikmah, dikutip dari buku Panduan Praktis Shalat dan Khutbah Idul Fitri Saat Wabah COVID-19 terbitan Majelis Ulama Indonesia.
Teks Khutbah Idul Fitri
Kaum muslimin dan muslimat, jamaah shalat Idul Fitri rahimakumullah,
Pertama-tama, marilah kita panjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah menganugerahkan berbagai macam ni’mat dan karunia-Nya kepada kita semua, khususnya ni’mat iman dan Islam serta kesehatan jasmani dan rohani sehingga kita dapat melaksanakan ibadah puasa Ramadlan selama satu bulan penuh dengan sempurna, dan pada hari ini melaksanakan shalat Idul Fitri. Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah kita, baik ibadah puasa di siang hari, qiyamul lail pada malam hari, tadarrus al-Qur’an, zakat, infaq, shadaqah maupun ibadah-ibadah yang lain serta menganugerahkan kebahagiaan kepada kita semua, baik di dunia maupun di akhirat, amin, Ya Rabbal ‘alamin.
Allah Akbar 3X
Pada hari ini, umat Islam di seluruh penjuru dunia merayakan Hari Raya Idul Fitri sesudah melaksanakan ibadah puasa pada bulan Ramadlan. Dalam merayakan Hari Raya yang agung dan mulia ini, umat Islam larut dalam kegembiraan dan kebahagiaan karena mereka telah memperoleh kemenangan dalam menaklukkan hawa nafsu yang selalu mendorong manusia berbuat jahat, dengan melaksanakan seluruh perintah Allah serta meninggalkan larangan-Nya.
Ditinjau dari segi bahasa, Idul Fitri terdiri dari dua kata: ‘Id yang berarti kembali, dan al-Fitri yang berarti suci atau fitrah kejadian manusia. Dengan demikian Idul Fitri berarti “kembali kepada kesucian”, atau “kembali kepada fitrah manusia”. Hari Raya yang dirayakan umat Islam sesudah melaksanakan ibadah puasa Ramadhan, disebut dengan Hari Raya Idul Fitri, karena beberapa hal sebagai berikut:
Pada hari raya ini, orang-orang Islam yang telah melaksanakan ibadah puasa Ramadlan seolah-olah dilahirkan kembali dalam keadaan suci tanpa dosa dan noda sebagaimana bayi yang baru dilahirkan.
Pada hari raya ini, orang-orang yang berhasil dalam menjalankan ibadah puasa “menemukan kembali jati diri kemanusiaannya”. Di hari-hari biasa, mungkin mereka sering terhanyut oleh hawa nafsunya serta tidak mampu mengendalikan dirinya, sehingga bersikap serakah, agresif dan sangat egois. Mereka menjadi “homo homini lupus”, serigala bagi orang lain, seperti dikatakan filosof Inggris Thomas Hobbes.
Pada hari raya Idul Fitri ini, umat Islam sadar kembali terhadap perjanjian primordial mereka kepada Allah SWT sewaktu mereka masih di dalam rahim para ibu. Menurut ajaran Islam, pada waktu masih berada di alam arwah, seluruh manusia telah berjanji kepada Allah SWT bahwa mereka yakin dan percaya akan adanya Allah SWT, Dzat Yang Maha Esa.
Kaum muslimin dan muslimat, jamaah shalat Idul Fitri rahimakumullah .................
Sehubungan dengan perayaan hari raya Idul Fitri ini, maka setiap muslim dan muslimah disunnahkan untuk saling maaf memaafkan seraya mendoakan: “Semoga kita termasuk orang-orang yang kembali kepada kesucian, serta memperoleh kemenangan (dalam memerangi hawa nafsu)”.
Orang yang bersedia saling memaafkan merupakan salah satu ciri calon ahli surga. Imam Ja’far al-Shidiq cucu Rasulullah telah melakukan studi Islam secara mendalam, yang akhirnya beliau berkesimpulan, bahwa orang-orang yang menjadi calon penghuni surga, adalah mereka yang minimal memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1. Wajhun Munbasith: wajahnya selalu berseri, jika dipandang menyenangkan, sehingga orang-orang senang bersahabat kepadanya;
2. Lisanun ‘Afif; lidah yang bersih dan terjaga, yang selalu jujur dan sopan dalam bertutur kata sehingga menyejukkan hati orang lain.
3. Yadun Mu’thiyah; tangan yang suka memberi dan menolong orang lain, tidak kikir dan pelit, karena kikir dan pelit dapat menutup pintu surga;
4. Qalbun Rahim; hati yang penuh kasih sayang, yang suka meminta dan memberi maaf kepada orang lain, bukan sadis dan pendendam sehingga tidak mau memaafkan kesalahan orang lain, juga bukan angkuh dan sombong, yang tidak mau meminta maaf kepada orang lain.
Kaum muslimin dan muslimat, jamaah shalat Idul Fitri rahimakumullah ................
Saat sekarang ini, kita bangsa Indonesia bahkan masyarakat dunia tengah menghadapi Pandemi Covid 19. Sebagai orang yang beriman kita wajib meyakini bahwa pandemi ini terjadi, semata-mata merupakan qudrah dan iradah atau kekuasaan dan kehendak Allah SWT. Kita wajib meyakini bahwa dibalik pandemi ini terdapat hikmah dan manfaat yang besar. Di antaranya adalah sbb:
1. Menunjukkan betapa lemahnya manusia yang tidak mampu menghentikan penyebaran virus corona yang sangat kecil dan tidak tampak oleh mata kepala. Oleh karena itu, tidak layak bersikap sombong meskipun mereka berkuasa, berilmu dan memiliki harta yang banyak.
2. Menunjukkan kekuasaan Allah SWT yang mampu menaklukkan seluruh alam semesta sehingga manusia tidak berdaya untuk menghadapi-Nya.
Menghadapi pandemi Covid-19 ini, maka umat manusia khususnya umat Islam harus bersikap sbb:
1. Sabar dan tabah dalam menghadapi ujian Allah SWT ini dengan selalu mencari solusi untuk menghentikan penyebaran virus Covid-19 dengan mentaati protokol kesehatan yang telah ditetapkan oleh pemerintah.
2. Husnudlon kepada Allah SWT, bahwa di balik pandemi Covid 19 ini pasti terdapat hikmah dan manfaat, dan tidak sia-sia.
3. Ta’awun atau bekerja sama, tolong menolong dan bantu membantu sesama warga bangsa dalam menghadapi kesulitan. Bukan saling menyalahkan.
4. Tawakkal dengan berserah diri kepada Allah SWT sesudah ikhtiyar secara maksimal.
5. Optimis bahwa pandemi Covid-19 akan segera berakhir dan sesudah itu Allah SWT akan memberikan berbagai kemudahan sesuai dengan janji-Nya, “Sesungguhnya sesudah kesulitan pasti ada kemudahan.”
(ERA)
