Tembung Rangkep: Pengertian, Ciri, Fungsi, dan Macam-Macamnya

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kata dalam bahasa Jawa disebut juga dengan tembung. Ada banyak jenis-jenis tembung yang perlu dipahami ketika seseorang ingin belajar bahasa Jawa, salah satunya adalah tembung rangkep.
Mengutip buku Baboning Pepak Basa Jawa karangan Budi Anwari, tembung rangkep adalah kata yang dibaca dua kali, bisa seluruh kata atau hanya satu suku kata. Dalam bahasa Indonesia, tembung rangkep disebut dengan kata ulang. Adapun ciri-ciri dari tembung rangkep, yaitu:
Terdiri dari dua suku kata;
Berupa kata yang sama dan diulang;
Menunjukkan makna gramatis atau sesuai dengan tatabahasa;
Umumnya tidak mengubah golongan kata. Misalnya ondhe-ondhe, kata ulangnya berupa kata benda, maka bentuk dasarnya juga kata benda;
Ditulis dengan memberikan tanda hubung, namun pada rangkep dwipurwa dan dwiwasana tidak perlu;
Rangkep ditulis serangkai dengan awalan atau akhiran.
Fungsi Tembung Rangkep
Febyardini Dian P. R. menerangkan dalam buku Pepak Ian Wasis Basa Jawa bahwa tembung rangkep memiliki beberapa fungsi, di antaranya:
1. Fungsi tembung rangkep sebagai kata benda
Menyatakan benda itu bermacam-macam. Contoh: godhong-godhongan, woh-wohan.
Menyatakan benda yang sesuai dengan kata dasarnya. Contoh: anak-anakan, wong-wongan.
2. Fungsi tembung rangkep sebagai kata kerja
Menyatakan bahwa pekerjaan itu dilakukan berulang-ulang atau beberapa kali. Contohnya: mlayu-mlayu, njoget-njoget.
Menyatakan aspek durasi. Contohnya: lungguh-lungguh, maca-maca.
3. Fungsi tembung rangkep sebagai kata sifat
Menyatakan makna sampai atau pernah. Contohnya: ora mari-mari, duet entek-entekkan.
4. Fungsi tembung rangkep berupa kata bilangan
Berfungsi menyatakan makna sekaligus. Contoh: ojho melbu loro loro mergo ora kamot.
Macam-Macam Tembung Rangkep
Tembung rangkep terbagi menjadi tiga macam, yaitu dwilingga, dwipurwa, dan dwiwasana. Berikut penjelasan lengkapnya yang dinukil dari buku Pepak Basa Jawa oleh Febyardini Dian P. R., Fela Prihandi, dan Y. M. Purwono.
Tembung Rangkep Dwilingga Wantah
Tembung rangkep ini terdiri dari pengulangan tembung lingga atau kata dasar. Jadi, tembung rangkep ini belum mendapat imbuhan. Tembung rangkep dwilingga dibagi lagi menjadi tiga macam, yaitu:
Dwilingga padha swara: Kata dasarnya diucap dua kali, contoh: buku-buku, meja-meja, kursi-kursi.
Dwilingga salin swara: Kata dasarnya diganti menjadi huruf vokal, contoh: bola-bali, mloya-mlayu, mloka-mlaku.
Dwilingga semu atau murni: Kata ulang yang murni, contoh: kupu-kupu, orong-orong, angga-angga.
Tembung Rangkep Dwipurwa
Tembung rangkep dwipurwa adalah tembung rangkep yang diulang suku kata bagian depan atau suku kata pertama. Contoh:
Dedunung.
Jejupuk.
Lelumpuk.
Tetamba.
Leluri.
Leluhur.
Jejamu.
Tetuku.
Tembung Rangkep Dwiwasana
Tembung rangkep dwiwasana adalah tembung yang diulang pada bagian belakang suku katanya saja. Contoh:
Cengenges.
Cekakak.
Cekikik.
Cengingis.
Celuluk.
Cethethet.
(NDA)
