Titah Artinya Apa? Ini Maknanya dalam Hikayat

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Titah artinya berkaitan dengan kerajaan. Kata tersebut berasal dari ragam klasik yang banyak ditemukan dalam hikayat.
Dikutip dari buku Cendekia Berbahasa oleh Erwan Juhara dkk, hikayat adalah karya sastra lama berbentuk prosa yang menceritakan kehidupan kerajaan atau tokoh-tokoh terkenal yang memiliki kekuatan super, seperti pahlawan, dewa-dewi, maupun para nabi.
Penggunaan titah dalam percakapan sehari-hari saat ini tidak banyak digunakan, kecuali dalam konteks tertentu. Namun pada beberapa kota yang masih memiliki kerajaan atau kesultanan, kata titah masih sering digunakan.
Sebenarnya apa arti titah? Untuk mengetahui makna dan penggunaannya, simak ulasan berikut.
Titah Artinya Apa?
Titah dalam Bahasa Indonesia memiliki dua arti yang sangat berbeda maknanya. Merujuk Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), titah artinya proses belajar berjalan sambil memegang tangan orang tua. Dalam konteks ini, titah bersinonim dengan tatah atau tatih.
Selain itu, titah juga dapat dimaknai sebagai kata-kata, ucapan, atau perintah raja yang harus dipatuhi. Kata tersebut berasal dari bahasa Melayu Kuno dan banyak dijumpai dalam hikayat.
Berikut ini beberapa contoh penggunaan kata titah yang tepat:
Maka titah baginda, “Hai perdana menteriku, kemanakah perginya maligai itu, lenyap dalam sekejap mata”.
Aladin mendengar titah baginda dan duduk bersimpuh di hadapannya.
Jikalau tiada sungguh seperti titah Duli Tuanku ini, tiadalah patik mau mengobat dia.
Cara melakukan titah pada bayi yang benar penting diketahui orang tua untuk menghindari cedera.
Menitah bayi merupakan cara tradisional yang dapat dilakukan untuk membantu bayi berjalan.
Perlukah orangtua menstimulasi bayi dengan titah agar cepat berjalan?
Baca juga: Pengertian Hikayat dan Contohnya yang Terkenal
Kosakata Klasik Lain dalam Hikayat
Selain titah, ada beberapa kosakata ragam klasik lain yang digunakan dalam hikayat. Sebagian besar kosakata tersebut hampir tidak pernah digunakan dalam percakapan sehari-hari.
Sebagiannya lagi masih dipakai meskipun secara terbatas. Berikut beberapa kata ragam klasik yang sering dijumpai dalam hikayat.
1. Syahdan
Syahdan termasuk kata penghubung antar kalimat dalam Bahasa Melayu Kuno yang memiliki makna selanjutnya atau lalu. Biasanya, syahdan pada permulaan cerita atau bab.
2. Upeti
Di antara kosakata ragam klasik lain, upeti masih terdengar cukup familiar. Upeti adalah istilah untuk menyebut uang, barang berharga, atau hasil panen yang wajib diserahkan kepada raja atau pemimpin yang berkuasa.
3. Hatta
Seperti halnya syahdan, hatta juga merupakan salah satu kata penghubung. Bedanya, hatta digunakan untuk menghubungkan dalam satu kalimat. Hatta artinya lalu, sesudah itu lalu, atau maka.
4. Kisanak
Kisanak adalah kata ganti untuk orang kedua tunggal. Kata ini digunakan untuk menyapa lawan bicara. Merujuk KBBI, kisanak memiliki makna saudara.
(GLW)
