Konten dari Pengguna

Transisi Energi di Indonesia, Ini Upaya yang Dilakukan Pemerintah

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Transisi Energi di Indonesia. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Transisi Energi di Indonesia. Foto: Shutterstock

Transisi energi ke arah yang lebih ramah lingkungan telah menjadi agenda dunia saat ini. Kebijakan ini didorong kesadaran terhadap buruknya penggunaan bahan bakar fosil bagi bumi.

Dikutip dari laman UNDP, penggunaan energi dari bahan bakar fosil menyumbang gas rumah kaca seperti karbon dioksida dan metana yang sangat besar ke atmosfer. Akibatnya, terjadi perubahan suhu yang mempercepat pemanasan global.

Karena itulah, pemimpin-pemimpin dunia berkomitmen untuk menahan laju peningkatan temperatur bumi lewat Paris Agreement 2015. Indonesia pun turut menandatangani perjanjian tersebut. Lantas, seperti apa upaya transisi energi di Indonesia?

Upaya Transisi Energi di Indonesia

Ilustrasi Transisi Energi di Indonesia. Foto: Shutterstock

Lewat Paris Agreement 2025, Indonesia menunjukkan komitmen untuk menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK) sebesar 31,89-43,2% dengan bantuan internasional pada 2030. Salah satu upaya yang dilakukan lewat transisi menuju penggunaan Energi Baru Terbarukan (EBT).

Merujuk laman DJKN Kemenkeu, potensi sumber EBT di Indonesia cukup bervariatif, seperti energi surya, angin, hidro, panas bumi, bioenergi dan laut. Energi surya memiliki potensi paling tinggi, yakni mencapai 3.295 GW.

Sementara itu, potensi energi angin sebesar 155 GW, hidro sebesar 95 GW, panas bumi sebesar 24 GW, bioenergi sebesar 57 GW, dan laut mencapai 60 GW. Sayangnya, pemanfaatan potensi energi itu belum maksimal.

Dikutip dari Siaran Pers Kemenko Perekonomian 2024 tentang Dorong Transisi Energi Berkelanjutan, disebutkan bahwa pada 2023, Indonesia baru berhasil mencapai porsi energi terbarukan sebesar 14%.

Lantas, apa saja upaya yang akan dilakukan pemerintah untuk memaksimalkan transisi energi terbarukan?

1. Memanfaatkan Sustainable Aviation Fuel

Ilustrasi Transisi Energi di Indonesia. Foto: ThamKC/Shutterstock

Pemerintah berkomitmen untuk memanfaatkan Sustainable Aviation Fuel atau bioavtur berkelanjutan berbasis bahan bakar nabati. Khususnya bioavtur dengan campuran minyak kelapa sawit.

Hal tersebut diungkapkan Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Agribisnis Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Dida Gardera seperti yang tertera dalam Siaran Pers Kemenko Perekonomian 2024.

“Selain biodiesel, kelapa sawit juga bisa jadi bioavtur yang prospeknya sangat besar. Tebu juga bisa untuk bioethanol. Semua ini tentu kalau kita optimalkan sisi pasokannya, saya pikir seharusnya sebelum Indonesia Emas 2045, kita sudah akan bisa swasembada energi, sebab dari berbagai aspek bisa diproduksi di dalam negeri, dan ini berlaku juga untuk bahan pangan,” jelas Deputi Dida.

2. Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap

Dikutip dari laman resmi Portal Informasi Indonesia, pemerintah mengeluarkan Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (Permen ESDM) nomor 2 tahun 2024 tentang Pembangkit Listrik Tenaga Surya Atap yang Terhubung pada Jaringan Tenaga Listrik.

Dalam Permen ESDM tersebut, pemerintah menetapkan kuota PLTS atap di wilayah usaha PT PLN (Persero) untuk periode 2024-2028 sebesar 1,59 GW.

Di tahun 2025, Kementerian ESDM mencatat kapasitas terpasang pembangkit PLTS atap per Juli 2025 telah mencapai 538 MWp, dan tersebar di 10.882 pelanggan PLN.

Indonesia memiliki potensi energi terbarukan yang luar biasa, namun baru kurang dari 1% yang dimanfaatkan. kumparan Green Initiative Conference 2025 hadir sebagai forum lintas sektor untuk mendorong pemanfaatan sumber energi ini demi tercapainya kedaulatan energi bersih. Bergabung pada 17–18 September 2025 di Hotel Borobudur Jakarta. Daftar sekarang di 🔗kum.pr/gic2025

Baca Juga: PBB Prediksi, Pemanasan Global Bakal Datang 2 Kali Lebih Buruk dari Perkiraan

(DEL)