Tujuan Pemeriksaan Bayi dari Ibu HBsAg Positif Usia 9–12 Bulan

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pemahaman mengenai hepatitis B pada ibu hamil dan bayi menjadi salah satu materi yang perlu dipelajari setiap calon tenaga kesehatan. Materi ini meliputi pencegahan penularan, pemantauan, serta pemeriksaan lanjutan pada bayi dari ibu dengan status HBsAg positif.
Untuk mengukur pemahaman terhadap materi tersebut, calon tenaga kesehatan akan dihadapkan pada pertanyaan seperti: "Pemeriksaan bayi yang lahir dari ibu HBsAg positif pada usia 9–12 bulan bertujuan untuk?”. Untuk mengetahui jawabannya, simak artikel berikut ini.
Pemeriksaan Bayi yang Lahir dari Ibu HBsAg Positif pada Usia 9–12 Bulan Bertujuan untuk Apa?
Disadur dari buku Asuhan Kebidanan Pranikah dan Prakonsepsi (2025), HBsAg merupakan penanda yang digunakan untuk mendeteksi infeksi aktif virus hepatitis B. Hasil HBsAg yang reaktif mengindikasikan kemungkinan seseorang mengalami infeksi hepatitis B, baik akut maupun kronis.
Hepatitis B merupakan penyakit yang berpotensi menular dari ibu kepada bayi, baik selama masa kehamilan maupun saat proses persalinan berlangsung. Oleh sebab itu, bayi yang lahir dari ibu dengan hasil HBsAg positif perlu menjalani pemeriksaan lanjutan sesuai anjuran medis, termasuk pemeriksaan pada usia 9–12 bulan.
Dikutip dari laman puskesmas.bandungkab.go.id, pemeriksaan pada bayi berusia 9–12 bulan yang lahir dari ibu dengan HBsAg positif bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya infeksi virus hepatitis B pada bayi, memastikan efektivitas imunisasi yang telah diberikan, serta mengevaluasi status penularan dan pembentukan kekebalan tubuh.
Faktor-faktor yang Memengaruhi HBsAG pada Ibu Hamil
Disadur dari repository.poltekkes-denpasar.ac.id, ada beberapa faktor yang dapat memengaruhi HBsAg pada ibu hamil, yaitu:
1. Pendidikan
Tingkat pendidikan turut memengaruhi pemahaman seseorang mengenai hepatitis B, mencakup faktor risiko, cara pencegahan, hingga pentingnya vaksinasi. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, semakin baik pula tingkat pengetahuan dan kesadarannya dalam melakukan upaya pencegahan.
2. Pekerjaan
Jenis pekerjaan tertentu dapat meningkatkan risiko terpapar virus hepatitis B, terutama pekerjaan yang mengharuskan seseorang sering berkontak dengan darah atau cairan tubuh yang berpotensi terinfeksi. Semakin tinggi intensitas paparan, semakin besar pula risiko penularannya. Contoh pekerjaan tersebut adalah:
Dokter
Perawat
Tenaga medis di ruang operasi
Petugas laboratorium
3. Pasangan seksual
Memiliki pasangan yang terinfeksi hepatitis B dapat meningkatkan risiko penularan. Virus hepatitis B dapat menyebar melalui hubungan seksual maupun paparan darah dan cairan tubuh yang terinfeksi.
4. Riwayat keluarga
Riwayat hepatitis B dalam keluarga juga dapat meningkatkan risiko penularan. Penularan dapat terjadi melalui paparan darah yang terinfeksi maupun dari ibu kepada bayi saat proses persalinan.
5. Riwayat penggunaan jarum suntik
Penggunaan jarum suntik yang tidak steril atau digunakan secara bergantian dapat menjadi media penularan virus hepatitis B. Karena itu, riwayat penggunaan jarum suntik menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan.
6. Riwayat vaksin hepatitis B
Riwayat vaksinasi hepatitis B dapat memengaruhi risiko seseorang terinfeksi virus hepatitis B. Ibu hamil yang telah mendapatkan vaksin sesuai anjuran umumnya memiliki perlindungan yang lebih baik dibandingkan yang belum divaksinasi, sehingga risiko terinfeksi hepatitis B dapat berkurang.
7. Riwayat penyakit hati
Riwayat gangguan hati, seperti infeksi virus hepatitis, kolestasis, batu empedu, preeklampsia, maupun gangguan hati lainnya selama kehamilan, dapat meningkatkan risiko terjadinya masalah kesehatan yang berkaitan dengan hepatitis B.
8. Konsumsi alkohol dan merokok
Kebiasaan merokok dan mengonsumsi alkohol selama kehamilan dapat meningkatkan berbagai risiko bagi ibu dan janin. Selain mengganggu kesehatan organ hati, kebiasaan tersebut juga dapat memicu gangguan pertumbuhan janin, kelahiran prematur, hingga bayi lahir dengan berat badan rendah.
Baca juga: Menkes Siapkan Skema Skrining-Pengobatan Hepatitis Bisa di Puskesmas
(RK)
