Konten dari Pengguna

Tujuan Utama Pemberian Profilaksis Tenofovir pada Ibu Hamil dengan Hepatitis B

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi ibu hamil dengan hepatitis B. Foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi ibu hamil dengan hepatitis B. Foto: Unsplash

Hepatitis adalah peradangan pada organ hati (liver) yang umumnya disebabkan oleh infeksi virus dan dapat berdampak pada kesehatan tubuh. Dari berbagai jenis virus hepatitis yang dapat menginfeksi, hepatitis B menjadi jenis yang sering ditemukan pada ibu hamil.

Selama kehamilan, infeksi hepatitis B tidak hanya berdampak pada kesehatan ibu, tetapi juga ada risiko menular kepada bayi. Penularan dari ibu ke bayi dapat terjadi selama kehamilan maupun proses persalinan, sehingga diperlukan upaya pencegahan yang tepat.

Salah satu langkah yang dapat ditempuh adalah pemberian profilaksis tenofovir sesuai indikasi medis. Lalu, apa sebenarnya tujuan utama pemberian profilaksis tenofovir bagi ibu hamil dengan hepatitis B? Simak pembahasan lengkapnya untuk mengetahui jawabannya.

Tujuan Utama Pemberian Profilaksis Tenofovir pada Ibu Hamil dengan Hepatitis B Adalah?

Ilustrasi tujuan utama pemberian profilaksis tenofovir pada ibu hamil dengan hepatitis B adalah? Foto: Unsplash

Dikutip dari laman Cambridge University Hospitals, tenofovir merupakan obat antivirus yang lazim digunakan untuk menangani infeksi hepatitis B kronis. Obat ini bekerja dengan menurunkan jumlah virus hepatitis B di dalam tubuh, sehingga dapat membantu meminimalkan risiko peradangan maupun kerusakan pada organ hati.

Penggunaan tenofovir juga menjadi salah satu upaya pencegahan pada ibu hamil dengan hepatitis B. Dijelaskan dalam laman kemenkes.go.id, tujuan utama pemberian profilaksis tenofovir pada kondisi tersebut adalah mencegah penularan virus hepatitis B dari ibu kepada bayi atau yang disebut transmisi vertikal.

Pemberian profilaksis ini juga bertujuan untuk menurunkan jumlah virus dalam darah ibu yang memiliki beban virus tinggi, agar risiko penularan hepatitis B kepada bayi dapat berkurang. Langkah ini turut membantu melindungi bayi dari kemungkinan infeksi, baik sejak dalam kandungan maupun selama proses persalinan berlangsung.

Cara Mencegah Hepatitis B

Ilustrasi cara mencegah hepatitis B. Foto: Unsplash

Pencegahan hepatitis B perlu dilakukan untuk mengurangi risiko penularan virus, baik melalui imunisasi maupun edukasi yang tepat. Disadur dari buku Hepatitis B pada Ibu Hamil dan Anak terbitan Infodatin, berikut cara mencegah hepatitis B yang perlu diketahui:

1. Imunisasi

Imunisasi merupakan salah satu cara utama untuk mencegah penularan hepatitis B. Ada dua jenis imunisasi, yakni imunisasi aktif melalui pemberian vaksin hepatitis B dan imunisasi pasif melalui pemberian antibodi tertentu. Vaksin hepatitis B sendiri diberikan sejak bayi baru lahir, setelah sebelumnya diberikan vitamin K1 sesuai prosedur yang berlaku.

2. Pencegahan Umum

Hepatitis B dapat menular melalui kontak dengan cairan tubuh yang terinfeksi, seperti darah dan cairan tubuh lainnya. Pencegahan dilakukan dengan menghindari paparan langsung serta menerapkan kewaspadaan, seperti:

  • Menggunakan sarung tangan saat menangani cairan tubuh.

  • Membuang jarum suntik sesuai prosedur.

  • Melakukan sterilisasi alat sebelum tindakan medis.

  • Mencuci tangan sebelum dan sesudah menangani pasien.

  • Melakukan skrining dan konseling pada kelompok berisiko tinggi.

3. Pencegahan Khusus Setelah Terpapar

Orang yang belum mendapat vaksin dan mengalami paparan hepatitis B perlu mendapatkan pencegahan pasca pajanan berupa kombinasi HBIg dan vaksin hepatitis B. Pemeriksaan HBsAg dan anti-HBs juga diperlukan untuk menentukan status infeksi maupun kekebalan.

4. Konseling dan Edukasi

Konseling berperan penting dalam membantu pasien mencegah penularan dan menjaga keberhasilan pengobatan. Edukasi yang diberikan meliputi:

  • Menghindari alkohol serta obat, suplemen, atau jamu yang dapat mengganggu fungsi hati.

  • Memberi tahu status hepatitis B kepada tenaga kesehatan saat berobat.

  • Melakukan pemeriksaan rutin untuk memantau komplikasi.

  • Melakukan vaksinasi pada pasangan seksual dan menggunakan kondom bila pasangan belum divaksinasi.

  • Tidak berbagi barang pribadi seperti sikat gigi atau pisau cukur.

  • Menutup luka terbuka dan tidak mendonorkan darah, organ, maupun sperma.

Baca juga: Mengenal Jenis-Jenis Penyakit Menular yang Paling Umum di Indonesia

(RK)