Konten dari Pengguna

Ujub Adalah Sifat yang Tidak Disenangi Allah, Ini Bahayanya

Berita Hari Ini

Berita Hari Ini

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi ujub. Foto: Freepik
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi ujub. Foto: Freepik

Tanpa disadari, kita mungkin pernah bersikap ujub atau berbangga diri. Padahal ujub merupakan salah satu penyakit hati yang tidak disenangi Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda: “Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi”.

Mengutip buku Tasawuf dan Pendidikan Karakter oleh Subaidi dan Barowi (2018), al-ujub menurut Syaikh Muhammad Amin Al-Kurdi adalah kesombongan dalam diri, merasa dirinya paling sempurma dalam segi ilmu dan amal. Sedangkan menurut Sufyan Ats-Tsauri, ujub adalah perasaan takjub terhadap diri sendiri hingga menganggap dirinyalah yang paling utama daripada yang lain.

Bahaya Sifat Ujub

Ilustrasi ujub. Foto: Freepik

Terdapat sejumlah dalil yang menerangkan bahaya sikap berbangga diri. Sebagai upaya untuk menjaga diri dari perilaku tercela, pahami bahaya ujub berikut ini:

1. Ujub Menghilangkan Pahala Sedekah

Dalam buku Ihya Ulumuddin 7 karya Imam Al-Ghazali (2013), ujub dapat mengikis pahala sedekah. Hal ini sebagaimana firman Allah SWT dalam surat al-Baqarah ayat 264 yang artinya:

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu merusak sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), seperti orang yang menginfakkan hartanya karena ria (pamer) kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari akhir.”

Kata “menyebut-nyebut” dalam ayat di atas merujuk pada sikap membesar-besarkan sedekah yang dilakukan.

2. Ujub, Akhlak Tercela yang Mendatangkan Murka Allah

Mengutip buku Adakah Berhala Pada Diri Kita oleh Majdī Hilālī (2006), dikisahkan Sayyidah Aisyah r.a berkata, "Saya pernah memakai baju baru, kemudian saya melihatnya dan merasa kagum. Ketika itu Abu Bakar berkata kepadaku, 'Apa yang engkau lihat? Allah tidak melihat kepada dirimu!

Saya bertanya, 'Karena apa?' la berkata, 'Apakah engkau tidak tahu jika seorang hamba dirasuki perasaan ujub dengan perhiasan dunia, niscaya ia akan dibenci Allah sampai ia meninggalkan perhiasan itu!”

Aisyah kemudian berkata, "Maka saya membukanya dan menyedekahkannya." Abu Bakar berkata, "Semoga hal itu dapat menjadi kaffarah atas tindakanmu sebelumnya."

3. Enggan Mendengar Nasihat Orang Lain

Ilustrasi ujub. Foto: Freepik

Masih mengutip Imam Al-Ghazali (2013: 118), orang yang ujub seringkali tidak dapat membedakan mana yang salah dan mana yang benar. Ia merasa bangga pada pendapatnya yang sebetulnya salah, dan enggan mendengarkan nasihat orang lain. Bahkan ia menganggap nasihat orang lain dengan pandangan jahil.

4. Tidak Mau Berusaha

Berkaitan dengan masalah sebelumnya, orang yang ujub mudah berpuas diri dengan apa yang telah diraih. Oleh sebab itu ia enggan berusaha dengan maksimal.

Jika seseorang merasa pengetahuannya tentang suatu ilmu terbatas, maka ia seharusnya berusaha mencari jawaban melalui Alquran atau berguru pada ulama. Hal ini dapat mengantarkannya pada kebenaran. Berbeda dengan pelaku ujub yang merasa cukup dengan pengetahuannya. Hal ini akan membinasakannya.

Frequently Asked Question Section

Pengertian Ujub

chevron-down

Ujub adalah perasaan takjub terhadap diri sendiri hingga seolah-olah dirinyalah yang paling utama daripada yang lain.

Pengertian Ujub Menurut Syaikh Muhammad Amin Al-Kurdi

chevron-down

Ujub adalah kesombongan dalam diri, merasa dirinya paling sempurma dalam segi ilmu dan amal.

Bahaya Ujub

chevron-down

Ujub mendatangkan murka Allah, dapat menghilangkan pahala sedekah, membuat pelakunya enggan berusaha dan tidak mengindahkan nasihat orang lain.

(ERA)