Ukara Tanduk, Istilah Kalimat dalam Paramasastra Jawa

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ukara tanduk dalam Bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai kalimat aktif. Sedangkan dalam Bahasa Jawa sendiri, ukara tanduk termasuk istilah dalam Paramasastra Jawa.
Paramasastra Jawa merupakan ilmu yang mempelajari mengenai huruf, suku kata, kata, dan kalimat. Kalimat dalam Paramasastra Jawa dibagi menjadi dua berdasarkan tindakan jejer terhadap wasesa dan bentuk kalimat.
Berikut ini penjelasan untuk mempelajari kalimat berdasarkan tindakan jejer terhadap wasesa, yakni ukara tanduk dalam Paramasastra Jawa.
Arti Ukara Tanduk
Ukara tanduk adalah kalimat yang predikatnya (wasesane) menggunakan kata kerja (kriya) tanduk atau mendapatkan ater-ater anuswara (n-, m-, ng-, ny-). Subyek (jejer) dalam ukara tanduk umumnya melakukan pekerjaan.
Oleh sebab itu dalam Bahasa Indonesia, ukara tanduk sama artinya dengan kalimat aktif. Di mana dalam kalimat aktif dinyatakan bahwa kalimat yang subyeknya melakukan suatu pekerjaan.
Ada cara untuk memudahkan mengingat pengertian ukara tanduk, yakni dengan mengambil kata "tanduk" itu sendiri. Tanduk adalah bagian hewan yang terletak di kepala, sehingga dalam ukara tanduk subyek biasanya ditempatkan di depan kalimat.
Contoh Ukara Tanduk
Ukara tanduk dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu ukara tanduk mawa lesan dan ukara tanduk tanpa lesan.
Ukara tanduk mawa lesan dapat diartikan sebagai kalimat aktif transitif. Kalimat aktif transitif adalah kalimat aktif yang memiliki obyek. Contohnya adalah Ano tuku buku, Amri nandur pari, Wawan maca koran, dan sebagainya.
Ukara tanduk tanpa lesan sama artinya dengan kalimat aktif intransitif. Kalimat aktif intransitif artinya kalimat yang tidak memiliki obyek seperti Alif ngguyu, Udin sinau, Lela mlaku, dan sebagainya.
(HDP)
