Warna Liturgi Minggu Palma beserta Penjelasan Maknanya

Menyajikan informasi terkini, terbaru, dan terupdate mulai dari politik, bisnis, selebriti, lifestyle, dan masih banyak lagi.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Berita Hari Ini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam perayaan Kristen, warna liturgi memuat tanda siklus gereja dan peristiwa gerejawi. Warna tersebut bisa ditempatkan sebagai antependia di mimbar, taplak altar, bendera, aksesori pakaian liturgi, stola, bunga-bunga, dan lain sebagainya.
Tata warna yang digunakan umumnya berasal dari warna-warni natural masyarakat Eropa. Warna tersebut mengacu pada aturan yang dibuat oleh Pius V tahun 1570 yang diperkukuh dalam Ordo Missae 1969.
Mengutip buku Hari Raya Liturgi karya Rasid Rachman (2005), ada lima warna liturgi yang biasa digunakan dalam perayaan, yakni putih, merah, hijau, ungu, dan hitam. Apa warna liturgi Minggu Palma? Untuk mengetahuinya, simaklah penjelasan berikut.
Warna Liturgi Minggu Palma
Warna liturgi sebenarnya diterapkan khusus untuk busana liturgis yang dikenakan oleh klerus (uskup, imam, diakon). Namun dalam beberapa kondisi, warna tersebut bisa menjadi bahan pertimbangan dalam menyiapkan dekorasi ruang liturgisnya.
Dijelaskan dalam buku Indah Bersahaja: Seni Flora dan Dekorasi Liturgis karya C.H. Suryanugraha (2019), pertimbangan tersebut dilakukan semata-mata untuk menciptakan harmoni unsur dekorasi yang akan digunakan.
Adapun warna liturgi Minggu Palma adalah merah. Realitas alamiah dari warna tersebut menyimbolkan api dan darah. Maknanya, perayaan Minggu Palma mengandung cinta, api ilahi, dan kemartiran.
Warna merah amat dihubungkan dengan penumpahan darah para martir sebagai saksi-saksi iman, sebagaimana Tuhan Yesus Kristus menumpahkan darah-Nya bagi kehidupan dunia. Ini merupakan simbol kuasa tertinggi yang sejak dulu digunakan oleh kaum bangsawan dan para kaisar.
Apabila para pendeta memakai warna merah untuk stola dengan jubah hitam, singer, dan solideonya, hal itu dimaksudkan agar para pendeta menyatakan kesiapannya untuk mengikuti teladan para martir yang mati demi iman.
Dalam liturgi, warna merah tidak hanya digunakan saat Minggu Palma. Warna ini juga digunakan pada perayaan Jumat Agung, Minggu Pentakosta, perayaan-perayaan sengsara Kristus, pesta para rasul dan pengarang Injil.
Selain merah, ada juga warna liturgi lain yang biasa digunakan dalam perayaan. Dikutip dari buku Kamus Sejarah Gereja tulisan Wellem FD (2006), berikut uraiannya:
Warna putih digunakan pada perayaan Paskah, Natal, para malaikat, dan orang kudus yang bukan martir. Warna ini melambangkan kejayaan abadi, kemuliaan kekal, kemurnian, dan kebenaran.
Warna hijau digunakan pada masa-masa biasa sepanjang tahun. Warna ini melambangkan keheningan, kesegaran, dan harapan.
Warna ungu digunakan pada masa Advent, Prapaskah, dan misa arwah. Warna ini melambangkan kebijaksanaan, keseimbangan, sikap berhati-hati dan mawas diri.
Warna hitam dıgunakan dalam liturgi untuk arwah yang melambangkan suasana dukacita dan kesedihan terhadap umat beriman yang telah meninggal.
(MSD)
Frequently Asked Question Section
Apa fungsi warna liturgi?

Apa fungsi warna liturgi?
Dalam perayaan Kristen, warna liturgi memuat tanda siklus gereja dan peristiwa gerejawi.
Di mana warna liturgi ditempatkan?

Di mana warna liturgi ditempatkan?
Warna tersebut dapat ditempatkan sebagai antependia di mimbar, taplak altar, banner, spanduk, bendera, aksesori pakaian liturgi, stola, bunga-bunga, dan lain sebagainya.
Apa saja warna liturgi yang biasa digunakan?

Apa saja warna liturgi yang biasa digunakan?
Putih, merah, hijau, ungu, dan hitam.
