Konten dari Pengguna

2 Contoh Naskah Khutbah Idul Fitri tentang Kematian dan Mengingat Dosa

Berita Terkini

Berita Terkini

Penulis kumparan

·waktu baca 11 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi pelaksanaan sholat Idul Fitri. Foto: unsplash.com/salman_preeom
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pelaksanaan sholat Idul Fitri. Foto: unsplash.com/salman_preeom

Idul Fitri menjadi momen kemenangan umat Islam setelah sebelumnya diwajibkan menunaikan ibadah puasa selama satu bulan. Selain itu, Idul Fitri juga dianggap sebagai kembalinya manusia dalam keadaan suci, layaknya bayi yang baru di lahirkan. Ketika Idul Fitri tiba, terdapat banyak sekali aktifitas keagamaan yang banyak dilakukan umat Islam, namun terdapat sebuah kegiatan yang tak bisa ditinggalkan pada Hari Raya Idul Fitri, yakni shalat Ied. Untuk melaksanakan shalat Ied, terdapat sebuah rukun yang wajib ada disetiap ibadah tersebut, yakni khutbah. Bagi Anda yang ditunjuk menjadi seorang khotib dan membutuhkan referensi khutbah, Anda bisa menggunakan contoh naskah khutbah Idul Fitri tentang kematian berikut.

2 Contoh Naskah Khutbah Idul Fitri tentang Kematian dan Mengingat Dosa

Dikutip dari buku Cara Khutbah Rasulullah SAW karya KH. Usman Sholehuddin, DKK. (2018:3-4), khutbah merupakan pidato atau ceramah yang disampaikan seorang laki-laki berisi materi keagamaan dengan mengikuti ketentuan dan syarat tertentu. Biasanya, khutbah berisi tentang peringatan, nasehat, pembelajaran, dan lainnya.

Adapun contoh naskah khutbah Idul Fitri tentang kematian yakni:

Khutbah Idul Fitri Pertama tentang Kematian

Mengingat Kematian Saat Bahagia di Hari Raya

إِنَّ اَلْحَمْدَ لِلَّهِ , نَحْمَدُهُ , وَنَسْتَعِينُهُ , وَنَسْتَغْفِرُهُ , وَنَعُوذُ بِاَللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا , مَنْ يَهْدِهِ اَللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ , وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اَللَّهُ , وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

Kaum muslimin yang dimuliakan oleh Allah

Sudah tidak terhitung, berapa kali Allah pertemukan kita dengan Idul Fitri. Perasaan bahagia dan sedih bercampur menjadi satu. Bahagia karena seluruh rangkaian ibadah di bulan ramadhann telah kita selesaikan dengan baik. Sedih karena dengan berakhirnya bulan mulia ini berarti masjid-masjid kembali sepi, ketaatan berkurang sementara kemaksiatan meningkat seiring dengan dilepaskannya setan dari belenggunya.

Kaum muslimin yang dimuliakan oleh Allah

Pada hari ini, tidak ada salahnya bila dalam suasana bahagia, kita mengingat kematian. Di saat kita tengah duduk di atas tanah, boleh jadi esok sudah berada di bawah tanah. Dikubur dan selanjutnya ditinggalkan sendirian oleh handai taulan. Sungguh tidak ada ketentuan dari Allah bahwa mati harus didahului dengan sakit karena betapa banyak orang yang sehat wal 'afiat, tiba-tiba saja seolah tanpa sebab harus menemui ajal. Tidak ada syarat bahwa orang mati harus tua terlebih dahulu, terbukti kita terlalu sering mendengar berita bahwa ada orang meninggal dalam usia muda belia. Karena itulah, mari kita camkan firman Allah Ta’ala:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ

Setiap yang berjiwa, pasti akan merasakan kematian (Ali Imran: 185)

Kaum muslimin walmuslimat

Kematian bukan perkara ringan. Karena kita akan merasakan betapa pedihnya dicabut nyawa. Kita tidak bisa membayangkan sakitnya roh berpisah setara dengan:

كشاة تسلخ بيد القصاب و هي حية

Seperti kambing yang dikelupas kulitnya dalam keadaan masih hidup oleh tukang potong hewan

Rupanya sakit menjelang kematian juga dirasakan oleh Rasulullah shollallahu alaihi wasallam sehingga Ibnu Mas’ud bertanya:

يَا رسُولَ الله ، إنَّكَ تُوْعَكُ وَعْكاً شَدِيداً

Wahai Rasulullah, sungguh engkau sakit yang teramat sangat?

Beliau menjawab:

أجَلْ ، إنِّي أوعَكُ كمَا يُوعَكُ رَجُلانِ مِنكُمْ

Benar, sesungguhnya sakit yang aku alami dua kali lipat dialami oleh seorang diantara kalian (muttafaq alaih)

Kaum muslimin walmuslimat

Ketika kematian itu benar-benar terjadi, apa yang terjadi pada diri kita selanjutnya? Allah berfirman

قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Katakanlah sesungguhnya kematian yang kalian lari darinya maka ia pasti datang menjumpai kalian lalu kalian dikembalikan kepada Allah yang mengetahui hal yang tersembunyi dan nampak, selanjutnya akan memberitahukan kepada kalian terhadap apa yang kalian kerjakan (di dunia) (Al-Jumuah: 8)

يَوْمَ تُبْلَى السَّرَائِرُ

Hari itu akan dinampakkan semua dosa yang selama ini tersembunyi (Ath-Thoriq: 9)

Oleh karena itu siapa yang korupsi, pungli dan mencuri akan tersingkap. Ungkapan kotor hati akan terungkap. Dosa-dosa yang tidak nampak akan diperlihatkan. Maka dari itu peringatan kematian jangan dijadikan sekedar cerita atau disimak dan dihayati di majlis lalu dilupakan setelah kita disibukkan dengan urusan dunia.

Kaum muslimin walmuslimat

Betapa indahnya bila kita mati seperti yang dialami Urwah bin Zubair, Ia bercita-cita berbuka dengan minum dari air telaga alkautsar.Terkabullah angan-angannya hingga akhirnya di saat menunaikan shoum sunnahnya, belum sempat adzan maghrib berkumandang ajal menjemputnya. Atau Salamah bin Dinar di saat membaca alquran surat maryam hingga ketika tiba pada ayat:

إنَّ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا وَعَمِلُوْا الصَّالِحَاتِ سَيَجْعَلُ لَهُمُ الرَّحْماَنُ وُدًّا

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah yang Maha Pemurahakan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang. (Maryam: 96)

Ayat ini dibaca beberapa kali, belum sempat dilanjutkan pada ayat berikutnya ajalpun menjemputnya.

Kaum muslimin walmuslimat

Kendati kematian adalah sesuatu yang menakutkan, sungguh ia teramat kita butuhkan, Allah jadikan kematian sebagai kemaslahatan bagi manusia.

Kematian membedakan antara kholiq dan makhluq. Allah sebagai Alkholiq, hayyun laa yamut (hidup dan tidak akan mati). Sementara kita hidup dan h arus berakhir dengan ajal.

Ilustrasi khutbah sholat Idul Fitri tentang kematian. Foto: unsplash.com/esloman

Khutbah Idul Fitri tentang Kematian Kedua

Andai Ini adalah Ramadhan Terakhirku

الله اكبر… الله اكبر… الله اكبر… لااله الاالله والله اكبر الله اكبر ولله الحمد

َاللهُ اكبَر كَبيْرًا والحَمدُ للهِ كثِيرًا وَسُبحَانَ اللهِ بُكرَةً واَصِيلا, لااله اِلااللهُ ولانعْبدُ الاإيّاه, مُخلِصِينَ لَه الدّ يْن, وَلَو كَرِهَ الكَا فِرُون, وَلَو كرِهَ المُنَافِقوْن, وَلَوكرِهَ المُشْرِكوْن, لاالهَ اِلا اللهَ وَحدَه, صَدَق ُوَعْدَه, وَنَصَرَ عبْدَه, وَأعَزّجُندَهُ وَهَزَمَ الاحْزَابَ وَاحْدَه, لاالهَ اِلاالله وَاللهُ اَكبر, اللهُ اكبَرُ وِللهِ الحمد.

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ . َأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

اللهم صل وسلم عَلَيْ محمد وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ. أوصيكم وإياي بتقوي الله لعاكم ترحمون . قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الكَرِيْمِ: [يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ]

Segala puji bagi Allah yang telah memberi nikmat kesempatan kepada kita untuk bisa bertemu dengan Ramadhan, sehingga kita bisa menunaikan ibadah shiyam, qiyam, dan ibadah-ibadah lainnya. Kita juga bermohon kepada Allah agar ibadah-ibadah tersebut diterima dan dilipatgandakan pahalanya. Dan akhirnya kita bermohon agar kiranya diizinkan menutup Ramadhan dengan menggapai keridhaan, ampunan dan pelepasan dari api neraka.

Selawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan kita Muhammad, keluarga, sahabat, dan umatnya hingga akhir zaman.

Sebagaimana kita ketahui bahwa kehidupan dunia ini akan berakhir sebagaimana umur manusia berakhir, demikian juga dengan Ramadhan, ia akan berakhir. Rasanya seperti baru kemarin kita menjemput Ramadhan, namun kini ia telah pergi lagi, meski ia masih akan kembali, namun belum tentu ia bertemu dengan kita lagi, karena kematian setiap saat bisa datang memutus semua hubungan, termasuk memutus hubungan kita dengan Ramadhan tahun depan. Nabi bersabda:

أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ يَعْنِي الْمَوْتَ

“Banyak-banyaklah mengingat pemutus kenikmatan yaitu kematian” (HR. Tirmidzi)

Umur manusia di dunia ini tidak akan ada nilainya jika tanpa amal, seseorang menjadi mulia atau hina bukan karena umurnya, tapi karena amal yang menghiasi umurnya. Nabi memandang bahwa orang yang paling baik adalah yang panjang umurnya dan baik amalnya. Sebaliknya, orang yang paling buruk adalah yang panjang umurnya dan buruk amalnya.

Dunia ini seperti juga dengan Ramadhan akan meninggalkan di belakangnya dua golongan, yaitu ahli taat dan ahli maksiat. Siapa yang menanam kebaikan akan menuai kebaikan dan siapa yang menanam keburukan akan menuai keburukan.

Setiap muslim di akhir Ramadhan hendaklah menjadi orang yang tinggi semangat juangnya kepada kebenaran, menguat keimanannya kepada Allah, meninggi rasa cinta dan kepeduliaanya kepada sesama, maksimal taqarrub dan ibadahnya, dan tersambungkan silaturahimnya dengan sesama. Intinya, Ramadhan telah menebar kebaikan dan potensi keshalihan, yang dengan itu seseorang akan berhak dengan surga yang dijanjikan.

Jika Ramadhan ini adalah Ramadhan yang terakhir bagi kita, marilah kita jaga kebaikan-kebaikan yang telah tercipta bersama Ramadhan tersebut, dengan begitu, kalau pun Ramadhan tahun depan kita tidak bertemu lagi, paling tidak Ramadhan tahun ini mampu mengantar kita kepada ketaqwaan dan husnul khatimah.

Ada pun beberapa warisan Ramadhan yang harus dijaga, yaitu:

1. Jagalah spirit keimanannya.

Bulan Ramadhan dengan seluruh keutamaannya telah memberikan spirit keimanan bagi setiap muslim. Atas dasar kekuatan imanlah ia mampu menahan lapar dan dahaganya saat berpuasa, dan atas dasar iman pula ia bertahan qiyam setiap malam, dan atas dasar iman pulalah ia mengeluarkan zakat fitrah dari hartanya di penghujung Ramadhan.

Andaikata Ramadhan ini adalah Ramadhan terakhir bagi seorang muslim, tentu dia tidak akan membiarkan spirit keimanannya redup, dengan spirit tersebut ia akan terus bermujahadah untuk menggapai taqwa. Sebagaimana Firman Allah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (Ali Imran: 102)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تتقون

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”. (Al-Baqarah: 183)

2. Jagalah tradisi ubudiyahnya.

Bulan Ramadhan adalah momentum menguatnya tradisi beribadah, bukan hanya menguat secara kuantitas tetapi juga kualitas. Tradisi ubudiyah tidak hanya menguat di siang hari, tapi juga di malam hari. Intensitas ibadah semakin diperintahkan dipacu dengan mencari malam lailatul qadar. Nabi SAW bersabda:

َ تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْوِتْرِ مِنْ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

“Carilah Lailatul Qadar pada malam yang ganjil dalam sepuluh malam yang akhir dari Ramadhan”. (HR. Bukhari)

Dalam mencari lailatul qadar, tidak ada yang lebih kuat dipacu selain ibadah-ibadahnya, baik itu ibadah qalbiyah (ibadah hati), jasadiyah (ibadah fisik) atau pun ibadah maliyah (ibadah harus).

Tradisi menguatnya ibadah di bulan Ramadhan ini harus bisa ditransfer ke bulan-bulan lainnya sesudah bulan Ramadhan.

3. Rawatlah benteng-bentengnya.

Amalan ibadah yang paling utama di bulan Ramadhan adalah ibadah puasa. Ia adalah benteng bagi setiap muslim, benteng dari syahwat dan benteng dari api neraka. Nabi bersabda:

إِنَّمَا الصِّيَامُ جُنَّةٌ يَسْتَجِنُّ بِهَا الْعَبْدُ مِنْ النَّارِ هُوَ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ

“Puasa adalah tameng yang dijadikan tempat perlindungan seorang hamba dari neraka. Puasa itu untuk-Ku dan Saya sendiri yang memberinya pahala” (HR. Ahmad)

Hadis tersebut menegaskan bahwa puasa adalah benteng pertahanan yang kuat bagi seorang muslim dari buruknya pengaruh syahwat perut dan kelamin. Nabi SAW bersabda:

“Sungguh yang sangat aku takutkan dari kalian adalah syahwat keji dari perut, dan kemaluan kalian, serta hawa nafsu yang menyesatkan.”

عن أبي هريرة قال سئل رسول الله صلى الله عليه وسلم عن أكثر ما يدخل الناس الجنة فقال تقوى الله وحسن الخلق وسئل عن أكثر ما يدخل الناس النار فقال الفم والفرج

Dari Abu Hurairah ia berkata; Rasulullah SAW pernah ditanya tentang sesuatu yang paling banyak memasukkan seseorang ke dalam surga, maka beliau pun menjawab: “Takwa kepada Allah dan akhlak yang mulia.” Dan beliau juga ditanya tentang sesuatu yang paling banyak memasukkan orang ke dalam neraka, maka beliau menjawab: “Mulut dan kemaluan.” (HR. Tirmidzi)

4. Jagalah kemesraan dengan Alquran.

Nabi SAW bersabda: “Bacalah Alquran karena ia datang pada hari kiamat memberi syafaat kepada pemiliknya. Bacalah zahrawain; Al Baqarah dan Ali ‘Imran, karena keduanya datang pada hari kiamat seolah-olah naungan, seolah-olah awan atau seolah-olah dua kelompok burung berbaris berhujjah membela para pemiliknya. Bacalah surat Al Baqarah karena mengambilnya berkah, meninggalkannya kerugian dan tidak bisa dikalahkan oleh tukang-tukang sihir.” (HR. Ahmad)

Ramadhan telah berperan menjaga hubungan baik kita dengan Alquran dengan membacanya, mentadabburinya, serta mengamalkannya. Semua ini adalah pola kemesraan hubungan dengan Alquran yang harus terus dijaga agar ia juga menjaga kita dunia dan akhirat.

5. Peliharalah atmosfir keagamaannya.

Sekali dalam setahun Allah datangkan dalam kehidupan orang-orang beriman momentum yang begitu kuat atmosfir keagamaannya, itulah bulan Ramadhan. Pada momentum ini pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu. Padanya semua kebaikan dilipatgandakan pahalanya. Dan di dalamnya ada satu malam yang lebih mulia dari seribu bulan.

Bulan yang telah menghadirkan atmosfir keagamaan ini telah pergi, tapi kepergiannya tidak boleh menjadikan atmosfir keagamaan yang telah didatangkannya juga harus pergi. Kita wajib menjaga atmosfir keagamaan tersebut dalam kehidupan kita sesudah Ramadhan ini hingga nanti Allah menetapkan ajal kita. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (Ali Imran: 102)

Perintah untuk menjaga atmosfir spiritual adalah perintah yang logis, karena hanya dengan menjaganyalah seseorang akan dengan mudah menjadikan akhir kehidupannya sebagai akhir kehidupan yang baik.

Akhirnya marilah kita senantiasa menjaga warisan-warisan kebaikan yang telah dititipkan Ramadhan kepada kita, sehingga andai kita tidak bisa lagi bertemu Ramadhan yang akan datang, kita tetap akan berbahagia karena telah memelihara keutamaan yang telah diajarkannya kepada kira semua.

Demikianlah dua contoh naskah khutbah Idul Fitri tentang kematian dan mengingat dosa untuk referensi khutbah hari raya. Semoga informasi ini bermanfaat. (MZM)