3 Amalan Rebo Wekasan sebagai Tradisi Tolak Bala

Penulis kumparan
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Masyarakat Jawa memiliki banyak tradisi yang dilakukan dalam bulan Safar, salah satunya adalah tradisi amalan Rebo Wekasan yang dilaksanakan pada hari Rabu terakhir di bulan Safar. Tradisi ini bertujuan untuk menolak bala yang dipercaya bahwa bulan Safar adalah bulan penuh bala atau sial.
3 Tradisi Amalan Rebo Wekasan
Mengutip buku berjudul Pendidikan Islam Risalah Ahlussunnah Wal Jama’ah karangan Subaidi (2019: 141), tradisi dan ritual Rebo Wekasan merupakan tradisi dan ritual tahunan yang membudaya di tengah-tengah masyarakat Jawa. Tradisi Rebo Wekasan merupakan ritual yang dilaksanakan untuk memohon pada Allah agar diajuhkan dari segala bencana.
Pada hari Rabu terakhir di bulan Safar, dipercaya sebanyak 320.00 macam bala atau bencana, baik besar maupun kecil akan datang pada hari tersebut. Selain itu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam jatuh sakit sejak Rabu akhir bulan Safar. Maka dari itu para ulama menyarankan untuk melaksanakan amalan-amalan baik agar terhindar dari bencana pada hari tersebut.
Adapun 3 amalan yang perlu dilaksanakan saat tradisi Rebo Wekasan diantaranya:
1. Sholat Awwabin
Sholat Awwabin adalah sholat yang bertujuan untuk menolak segala bala ataupun bencana. Adapun cara melaksanakan sholat awwabin yaitu.
a. Melaksanakan sholat empat rakaat dengan dua kali salam.
b. Membaca niat:
اُصَلِّى سُنَّةَ الأَوَّابِينَ رَكَعَتَيْنِ للهِ تَعَالَى
Usholli sunnatal awwabina rak’ataini lillahi ta’ala
“Saya niat shalat sunah awwabin dua rakaat karena Allah Ta’ala.”
c. Membaca Surat-Surat Pendek.
Al Fatihah, kemudian membaca surat Al-Kautsar 17x
Al Fatihah surat Al-Ikhlash 5x
Al Fatihah kemudian surat Al-Falaq 1x
Al Fatihah surat An-Nas 1x
2. Berdoa Bersama
Adapun doa yang dapat dibacakan dalam tradisi Rebo Wekasan yaitu:
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ وَصَلىَّ اللهُ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ اللَّهُمَّ يَا شَدِيْدَ الْقُوَى وَيَا شَدِيْدَ الْمِحَالِ يَا عَزِيْزُ ذَلَّتْ لِعِزَّتِكَ جَمِيْعُ خَلْقِكَ اِكْفِنِيْ مِنْ جَمِيْعِ خَلْقِكَ يَا مُحْسِنُ يَا مُجَمِّلُ يَا مُتَفَضِّلُ يَا مُنْعِمُ يَا مُكْرِمُ يَا مَنْ لَا اِلَهَ اِلَّا أَنْتَ اِرْحَمْنِيْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ اللهم بِسِرِّ الْحَسَنِ وَأَخِيْهِ وَجَدِّهِ وَأَبِيْهِ وَأُمِّهِ وَبَنِيْهِ اِكْفِنِيْ شَرَّ هَذَا الْيَوْمِ وَمَا يَنْزِلُ فِيْهِ يَا كَافِيَ الْمُهِمَّاتِ يَا دَافِعَ الْبَلِيَّاتِ فَسَيَكْفِيْكَهُمُ اللهُ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَحَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ اِلَّا بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَصَلىَّ اللهُ تَعَالىَ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ الِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ
Bismilahirrahmanirrahim wa shallallahu ‘ala sayidina muhammadin wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam. Allahumma ya syadidal quwa wa ya syadidal mihal ya azizu zallat li ’izzatika jami’u kholqika ikfini min jami-‘i kholqika ya muhsinu ya mujammilu ya mutafadhdhilu ya mun’imu ya mukrimu ya man la ilaha illa anta bi rahmatika ya arhamarrahimin. Allahumma bisirril hasani wa akhihi wa jaddihi wa abihi ikfini syarra hazal yauma wa ma yanzilu fihi ya kafiyal muhimmat ya dafi-‘al baliyyat fasayakfikahumullahu wa huwas sami’ul ‘alim. Wa hasbunallahu wa ni’mal wakilu wa la hawla wa la quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘azim. Wa shallallahu ta’ala ‘ala sayyidina muhammadin wa ‘ala alihi wa shohbihi wasallam
Artinya, “Dengan Nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Semoga shalawat dan salam Allah senantiasa tercurah pada junjungan kami, Nabi Muhammad Saw, keluarga dan para sahabatnya. Ya Allah, Tuhan Yang Maha Memiliki Kekuatan dan Keupayaan. Ya Tuhan Yang Maha Mulia dan karena kemuliaan-Mu itu, menjadi hinalah semua makhluk ciptaan-Mu, peliharalah aku dari kejahatan makhluk-Mu. Ya Tuhan Yang Maha Baik. Yang Memberi Keindahan, Keutamaan, Kenikmatan dan Kemuliaan. Ya Allah, Tiada Tuhan kecuali hanya Engkau. Kasihanilah aku dengan Rahmat-Mu, wahai Zat yang Maha Penyayang. Ya Allah, dengan rahasia kemuliaan Sayyidina Hasan dan saudaranya, serta kakeknya dan ayahnya, ibunya dan keturunannya, jauhkan aku dari kejahatan hari ini dan kejahatan yang akan turun padanya. Wahai Zat Yang Maha Mencukupi harapan dan Menolak bala’, cukuplah Allah Yang Maha Memelihara lagi Maha Mengetahui untuk memelihara segalanya. Cukuplah Allah tempat kami bersandar, tiada daya dan upaya kecuali atas izin Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung. Dan semoga Allah mencurahkan rahmat-Nya kepada Nabi Muhammad Saw. beserta keluarganya dan para sahabatnya."
3. Sedekah maupun Selamatan
Dalam tradisi Rebo Wekasan, beberapa daerah sering kali melaksanakan sedekah maupun selamatan. Seperti sedekah bumi ke tempat-tempat yang dianggap tempat keramat, maupun selamatan yang dimakan bersama agar terhindar dari bala di hari Rabu terakhir bulan Safar.
Tradisi amalan Rebo Wekasan sebagai cara agar terhindar dari bala atau bencana yang menimpa pada Rabu akhir bulan Safar. Sehingga umat muslim Jawa dapat terhindar dari bencana yang amat mengerikan pada hari tersebut.(MZM)
