Konten dari Pengguna

3 Contoh Puisi Lama untuk Menambah Wawasan Siswa Sekolah tentang Sastra

Berita Terkini

Berita Terkini

Penulis kumparan

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi contoh puisi lama, Sumber: Pexels.com/Katerina Holmes
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi contoh puisi lama, Sumber: Pexels.com/Katerina Holmes

Puisi lama merupakan salah satu jenis dari puisi. Pitaloka dan Amelia (2020: 11) dalam bukunya yang berjudul Seni Mengenal Puisi menjelaskan bahwa secara umum, puisi terbagi menjadi tiga jenis, yaitu:

  • Puisi lama

  • Puisi baru

  • Puisi kontemporer

Setiap jenis puisi tentu memiliki definisi dan ciri khas tersendiri. Pada artikel kali ini, kita akan fokus untuk membahas puisi lama, mulai dari pengertian hingga contohnya guna menambah wawasan siswa sekolah tentang sastra.

Berikut uraian selengkapnya tentang puisi lama yang dapat disimak. Yuk, baca sekarang!

Pengertian, Ciri-ciri, dan Contoh Puisi Lama.

Puisi lama adalah jenis puisi yang mempunyai aturan dan bermakna. Mengutip dari buku Teman Belajar Bahasa dan Sastra Indonesia untuk Kelas IX Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah karya Supriatna (2005: 42), berikut adalah ciri-ciri dari puisi lama.

Ilustrasi Puisi. Sumber: Pexels.com/Suzy Hazelwood
  • Terikat oleh jumlah larik dalam setiap baitnya (setiap bait terdiri atas 4 larik).

  • Rima akhir dalam setiap lariknya bernada a-b-a-b.

  • Setiap bait terdiri atas sampiran dan isi.

  • Setiap lariknya terdiri atas 8 – 12 suku kata.

Puisi lama memiliki banyak jenis di antaranya, pantun, seloka, karmina, gurindam, syair, talibun, dan sebagainya. Jika membahas seluruh jenis puisi lama, tentu tidak cukup dalam satu waktu. Oleh sebab itu, mari kita simak tiga contoh puisi lama.

Tiga contoh puisi lama berikut ini dikutip dari buku Bahasa dan Sastra Indonesia SMA Kelas 3 karya Tim Grasindo (2005).

1. Pantun

Pulau Pinang bandarnya baru

Kapitan Light menjadi raja

Jangan dikenang zaman dahulu

Duduk mengalir air mata

2. Seloka

-tentang pemadat-

Candu dibungkus kain palas

Makan dia mata bilas

Mandi segan kerja malas

Harta orang hendak digalas

3. Syair

Bulan purnama cahaya terang

Bintang seperti intan di karang

Punggung merawan seorang-orang

Berahikan bulan di tanah seberang

Pungguk bercinta pagi dan petang

Melihat bulan di pagar bintang

Terselap merindu dendamnya datang

Dari saujana pungguk menentang

Itulah pengertian, ciri-ciri, dan tiga contoh puisi lama yang perlu untuk dipahami oleh siswa sekolah. Semoga setelah ini kamu tertarik untuk membaca ragam karya sastra yang lain, ya! (AA)