Konten dari Pengguna

3 Pertanyaan tentang Hadits yang Sering Diajukan Umat Muslim

Berita Terkini

Berita Terkini

Penulis kumparan

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi hadits dalam agama Islam. Foto: unsplash.com/kimberlyfarmer
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi hadits dalam agama Islam. Foto: unsplash.com/kimberlyfarmer

Selain Al-Quran, Hadits menjadi rujukan utama dalam agama Islam. Sebab, Hadits menjelaskan Al-Quran, ibadah, kehidupan Nabi Muhammad SAW dan para sahabat, hingga masa depan. Maka dari itu, menjadi sebuah kewajiban bagi umat Muslim untuk menaati apa yang ada di dalam Hadits. Meski demikian, terdapat Hadits yang terpercaya hingga palsu. Sehingga umat Muslim patut berhati-hati dalam mengikuti sebuah hadits. Seperti 3 pertanyaan tentang Hadits berikut yang sering diajukan umat Muslim.

3 Pertanyaan tentang Hadits yang Sering Diajukan Umat Muslim

Dikutip dari buku Pengantar Ilmu Hadits karya Lukman Hakim (2022:4), Hadits secara bahasa artinya baru. Hadits juga dapat berarti sesuatu yang dibicarakan dan dinukil. Sedangkan secara istilah, Hadits adalah apa yang disandarkan dari Nabi Muhammad SAW, baik berupa ucapan, perbuatan, penetapan, sifat, hingga kisah beliau, baik sebelum maupun sesudah diangkat menjadi nabi oleh Allah SWT.

Adapun 3 pertanyaan yang sering diajukan umat Muslim terkait Hadits di antaranya:

1. Apa itu Hadits shahih?

Hadits dapat diterima apabila menjadi dua kelompok, yakni shahih dan hasan. Shahih sendiri artinya adalah sehat. Sedangkan secara istilah, shahih adalah Hadits yang bersambung jalur periwayatannya melalui perawi yang adil tanpa ada perasangka buruk dan tidak cacat. Selain itu, perawinya harus memiliki hafalan yang kuat sehingga tidak mengalami perubahan.

Dengan demikian, Hadits shahih adalah Hadist yang dinilai kebenarannya. Sehingga umat Muslim dapat merujuk dengan Hadits shahih dalam melakukan setiap perbuatannya.

Lalu bagiamana cara mengetahui Hadits shahih bagi orang awam?

  1. Jika Hadits berasal dari Imam Al-Bukhari dalam kitab Shahih Bukhari dan Imam Muslim dalam kitab Shahih Muslim, maka dapat dipastikan bahwa Hadits tersebut shahih.

  2. Apabila Hadits bukan diriwayatkan Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim, maka lihat keterangannya apakah shahih, hasan, atau dhaif dari para ulama Hadist.

Ilustrasi hadits yang menjadi rujukan kedua agama Islam. Foto: unsplash.com/rawanyasser

2. Bolehkan Hadits Dhoif diamalkan?

Para ulama memperbolehkan umat Muslim melaksanakan hadits dhoif namun terdapat persyaratan yang harus diikuti, yakni:

  1. Hendaknya Hadits dho’if tersebut bukanlah Hadits yang sangat lemah.

  2. Hadits tersebut didukung oleh dalil lain yang shahih yang menjelaskan adanya pahala dan hukuman.

  3. Tidak boleh diyakini bahwa Hadits tersebut dikatakan oleh Nabi Muhammad SAW.

Maksud dari tidak boleh mengatasnamakan Nabi Muhammad SAW dalam sebuah Hadits dhoif. Hal ini ditakutkan bahwa Hadits dhoif disebarluaskan atas nama Nabi Muhammad SAW.

3. Kenapa ada Hadits palsu?

Banyak sekali Hadist maudlu atau palus yang disampaikan oleh seorang pendusta. Tujuannya adalah untuk menyesatkan umat Muslim mengatasnamakan Nabi Muhammad SAW, mencari keutungan, hingga mendapatkan perhatian dari para pemimpin.

Dalam pembukaan kitab shahih Muslim yang disampaikan Imam Muslim bin Hajjaj mengatakan:

“Ketahuilah, semoga Allah memberimu taufik, bahwa wajib bagi setiap Muslim untuk mengetahui perbedaan antara riwayat yang shahih dan yang tidak shahih. Dan perbedaan antara perawi yang tsiqah dan yang tertuduh berdusta. Dan hendaknya tidak meriwayatkan hadits-hadits tersebut kecuali yang diketahui keshahihannya dan selamat para perawinya.”

Semoga penjelasan 3 pertanyaan tentang Hadits yang sering diajukan umat Muslim agar bisa membedakan hadits yan wajib diikuti dan perlu dijauhi. Namun ada baikknya pertanyakan kepada ulama, dai, ustadz, maupun kyai yang selektif dan tidak menggunakan hadits palsu. (MZM)