Konten dari Pengguna

3 Puisi Bertema Pendidikan Karya Penyair Indonesia

Berita Terkini

Berita Terkini

Penulis kumparan

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

https://flickr.com/photos/162989584@N08/ - puisi bertema pendidikan
zoom-in-whitePerbesar
https://flickr.com/photos/162989584@N08/ - puisi bertema pendidikan

Dunia pendidikan mungkin merupakan wilayah yang tidak akan ada habisnya untuk diulik lebih dalam, termasuk dijadikan sebagai inspirasi puisi bertema pendidikan.

Puisi bertema pendidikan bukan hanya terbatas pada tugas anak sekolah yang dibuat menjelang perayaan Hari Guru atau Hari Pendidikan. Puisi ini sudah sejak lama menjadi media tumpahan keresahan pada penyair Indonesia pada dunia pendidikan.

Melansir dari buku Seni Mengenal Puisi, Agnes Pitaloka dan Amelia Sundari, puisi merupakan salah satu karya sastra yang menjadi sarana komunikasi antara penulis dan pembacanya.

3 Puisi Bertema Pendidikan Karya Penyair Indonesia

1. Bintang - Chairil Anwar

Aku mencintai kelasmu

Kamu membantuku ‘tuk melihat

Bahwa untuk hidup bahagia

Belajar adalah kuncinya

Kamu memahami muridmu

Kamu perhatian dan pandai

Kamu guru terbaik yang pernah ada

Aku tahu itu dari awal kita bertemu

Aku memperhatikan kata-katamu

Kata-kata dari seorang guru sejati

Kamu lebih dari teladan terbaik

Sebagai guru, kamu adalah bintang

https://flickr.com/photos/48166939@N06/

2. Guruku - Mustofa Bisri

Ketika aku kecil dan menjadi muridnya

Dialah di mataku orang terbesar dan terpintar

Ketika aku besar dan menjadi pintar

Kulihat dia begitu kecil dan lugu

Aku menghargainya dulu

Karena tak tahu harga guru

Ataukah kini aku tak tahu

Menghargai guru?

3. Sajak Tangan - WS Rendra

Inilah tangan seorang mahasiswa,

tingkat sarjana muda.

Tanganku. Astaga.

Tanganku menggapai,

yang terpegang anderox hostes berumbai,

Aku bego. Tanganku lunglai.

Tanganku mengetuk pintu,

tak ada jawaban.

Aku tendang pintu,

pintu terbuka.

Di balik pintu ada lagi pintu.

Dan selalu :

ada tulisan jam bicara

yang singkat batasnya.

Aku masukkan tangan-tanganku ke celana

dan aku keluar mengembara.

Aku ditelan Indonesia Raya.

Tangan di dalam kehidupan

muncul di depanku.

Tanganku aku sodorkan.

Nampak asing di antara tangan beribu.

Aku bimbang akan masa depanku.

Tangan petani yang berlumpur,

tangan nelayan yang bergaram,

aku jabat dalam tanganku.

Tangan mereka penuh pergulatan

Tangan-tangan yang menghasilkan.

Tanganku yang gamang

tidak memecahkan persoalan.

Tangan cukong,

tangan pejabat,

gemuk, luwes, dan sangat kuat.

Tanganku yang gamang dicurigai,

disikat.

Tanganku mengepal.

Ketika terbuka menjadi cakar.

Aku meraih ke arah delapan penjuru.

Di setiap meja kantor

bercokol tentara atau orang tua.

Di desa-desa

para petani hanya buruh tuan tanah.

Di pantai-pantai

para nelayan tidak punya kapal.

Perdagangan berjalan tanpa swadaya.

Politik hanya mengabdi pada cuaca…..

Tanganku mengepal.

Tetapi tembok batu didepanku.

Hidupku tanpa masa depan.

Kini aku kantongi tanganku.

Aku berjalan mengembara.

Aku akan menulis kata-kata kotor

di meja rektor

Demikian 3 puisi bertema pendidikan yang mewakili pemikiran para penyair di Indonesia. (DNR)