Konten dari Pengguna

4 Contoh Puisi Karya Taufik Ismail yang Terbaik Sepanjang Masa

Berita Terkini

Berita Terkini

Penulis kumparan

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi puisi karya Taufik Ismail, sumber foto: (Eliot Reyna) by unsplash.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi puisi karya Taufik Ismail, sumber foto: (Eliot Reyna) by unsplash.com

Taufik Ismail adalah salah satu penyair legendaris yang lahir di Bukittinggi pada tahun 1935. Puisi karya Taufik Ismail sarat akan nilai-nilai nasionalisme dan religiusitas. Hal ini tidak mengherankan, mengingat Taufik hidup di masa saat kolonialisme masih berlangsung di Indonesia. Pastinya, kamu juga sudah tidak asing lagi dengan nama tersebut. Mengingat, nama Taufik Ismail kerap disebut dalam pelajaran Bahasa Indonesia di tingkat SD hingga SMA. Melalui puisi, ia banyak menorehkan pemikirannya yang bebas dan idealis. Lalu, apa saja puisi Taufik Ismail yang hingga kini masih dikenang? Berikut adalah contoh puisi terbaik sepanjang masa karya Taufik Ismail.

Contoh Puisi Karya Taufik Ismail

Mengutip buku Sasrawan Angkatan 1966-1970 oleh Dian Ika Pratiwi (2014), Taufik Ismail telah bercita-cita menjadi seorang sastrawan sejak duduk di bangku SMA. Namun, ia memilih jalan hidup yang cukup unik, yakni dengan menempuh sekolah kedokteran hewan dan menjadi ahli peternakan. Hal ini dilakukannya untuk bisa membiayai karir impiannya, yakni menjadi penulis puisi.

Adapun beberapa contoh puisi karangan Taufik Ismail yang legendaris yakni sebagai berikut:

1. Kembalikan Indonesia Padaku (Paris, 1971)

Hari depan Indonesia adalah dua ratus juta mulut yang menganga,

Hari depan Indonesia adalah bola-bola lampu 15 wat,

Sebagian berwarna putih dan sebagian hitam,

Yang menyala bergantian,

Hari depan Indonesia adalah pertandingan pingpong siang malam

Dengan bolayang bentuknya seperti telur angsa,

Hari depan Indonesia adalah pulau Jawa yang tenggelam

Karena seratus juta penduduknya,

2. Kita adalah Pemilik Sah Republik Ini (1966)

Ilustrasi puisi karya Taufik Ismail, sumber foto: (Asia Culture) by unsplash.com

Tidak ada pilihan lain

Kita harus

Berjalan terus

Karena berhenti atau mundur

Berarti hancur

Apakah akan kita jual keyakinan kita

Dalam pengabdian tanpa harga

Akan maukah kita duduk satu meja

Dengan para pembunuh tahun yang lalu

Dalam setiap kalimat yang berakhiran

Duli Tuanku ?

Tidak ada lagi pilihan lain

Kita harus

Berjalan terus

Kita adalah manusia bermata sayu, yang di tepi jalan

Mengacungkan tangan untuk oplet dan bus yang penuh

Kita adalah berpuluh juta yang bertahun hidup sengsara

Dipukul banjir, gunung api, kutuk dan hama

Dan bertanya-tanya inikah yang namanya merdeka

Kita yang tidak punya kepentingan dengan seribu slogan

Dan seribu pengeras suara yang hampa suara

Tidak ada lagi pilihan lain

Kita harus

Berjalan terus.

3. Dengan Puisi, Aku… (1966)

Dengan puisi aku bernyanyi,

Sampai senja umurku nanti,

Dengan puisi aku bercinta,

Berbatas cakrawala…

Dengan puisi aku mengenang,

Keabadian Yang Akan Datang,

Dengan puisi aku menangis,

Jarum waktu bila kejam mengiris…

Dengan puisi aku mengutuk,

Nafas zaman yang busuk,

Dengan puisi aku berdoa,

Perkenankanlah kiranya…

4. Doa (1966)

Tuhan kami,

Telah nista kami dalam dosa bersama,

Bertahun membangun kultus ini,

Dalam pikiran yang ganda…

Dan menutupi hati nurani,

Ampunilah kami,

Ampunilah,

Amin…

Tuhan kami,

Telah terlalu mudah kami,

Menggunakan asmamu,

Bertahun di negeri ini,

Semoga…

Kau rela menerima kembali,

Kami dalam barisanmu,

Ampunilah kami,

Ampunilah,

Amin…

Sekumpulan puisi pendek Taufik Ismail yang disebutkan di atas dapat membuka cakrawala pemikiran kita tentang dunia sastra. Pastinya, puisi-puisi tersebut masih tetap abadi hingga kini meskipun penulisnya telah tiada. (DLA)