Konten dari Pengguna

4 Puisi Sapardi Djoko Damono tentang Cinta Terpopuler

Berita Terkini

Berita Terkini

Penulis kumparan

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Terkini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Puisi Sapardi Djoko Damono, sumber foto (Corina Reiner) by unsplash.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Puisi Sapardi Djoko Damono, sumber foto (Corina Reiner) by unsplash.com

Siapa yang tidak mengela Sapardi Djoko Damono? Beliau adalah seorang penyair, sastrawan, dan penulis yang sangat populer di Indonesia. Puisi Sapardi Djoko Damono sangat banyak dan sering digunakan untuk acara pembacaan puisi dan berbagai pementasan lainnya. Kontribusi karya yang dihasilkan oleh penyair Sapardi memberikan kemajuan tersendiri bagi perkembangan kesusastraan di tanah air. Oleh karena itu, tidak heran jika hingga saat ini karya-karya Sapardi Djoko Damono masih banyak diminati. Selain menghibur, puisi karya Sapardi juga mampu mewakili perasaan yang mungkin tidak dapat terkatakan. Puisinya tidak hanya seputar tentang kisah cinta, tetapi juga tentang kondisi sosial-kemanusiaan yang penuh dengan pesan moral. Jika belum pernah membaca karyanya, maka jangan khawatir karena artikel ini akan menampilkan puisi yang ditulis oleh Sapardi.

Puisi Sapardi Djoko Damono

Mengutip buku Sapardi Djoko Damono Selamat Tinggal Bapak Penyair oleh Siti Nur Aidah (2020), Sapardi Djoko Damono sering menggunakan diksi yang ringan dan sederhana, namun mampu memunculkan imajinasi yang luar biasa.

Sapardi digolongkan sebagai pengarang angkatan 1970-an dalam kesusasteraan Indonesia. Beberapa karyanya yang fenomenal yakni Perahu Kertas (1983), Sihir Hujan (1984), dan Hujan Bulan Juni (1994). Adapun contoh puisi Sapardi tentang cinta yang populer di antaranya sebagai berikut:

Ilustrasi Puisi Sapardi Djoko Damono, sumber foto (Jocyelin Morales) by unsplash.com

1. Aku Ingin

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

Dengan kata yang tak sempat diucapkan

Kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan

Awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

2. Hujan Bulan Juni

Tak ada yang lebih tabah

Dari hujan bulan Juni

Dirahasiakannya rintik rindunya

Kepada pohon berbunga itu

Tak ada yang lebih bijak

Dari hujan bulan Juni

Dihapusnya jejak-jejak kakinya

Yang ragu-ragu di jalan itu

Tak ada yang lebih arif

Dari hujan bulan Juni

Dibiarkannya yang tak terucapkan

Diserap akar pohon bunga itu

3. Pada Suatu Hari Nanti

Pada suatu hari nanti,

Jasadku tak akan ada lagi,

Tapi dalam bait-bait sajak ini,

Kau tak akan kurelakan sendiri.

Pada suatu hari nanti,

Suaraku tak terdengar lagi,

Tapi di antara larik-larik sajak ini.

Kau akan tetap kusiasati,

Pada suatu hari nanti,

Impianku pun tak dikenal lagi,

Namun di sela-sela huruf sajak ini,

Kau tak akan letih-letihnya kucari.

4. Yang Fana Adalah Waktu

Yang fana adalah waktu. Kita abadi memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga

Sampai pada suatu hari

Kita lupa untuk apa

“Tapi, yang fana adalah waktu, bukan?” Tanyamu.

Kita abadi.

Kumpulan puisi Sapardi Djoko Damono tentang cinta yang disebutkan di atas hingga kini masih menjadi karya sastra primadona di kalangan pecinta puisi. Karya terakhir beliau berjudul Masih Ingatkah Kau Jalan Pulang yang ditulis bersama penulis muda bernama Nadhifa Allya Tsana. (DLA)